KALTIMPOST.ID, Seorang pemuda berusia 22 tahun asal Desa Bantengan, Kecamatan Wungu, Kabupaten Madiun, bernama Femas Yani Arianto, dilaporkan hilang misterius saat mengikuti tur wisata di Seoul, Korea Selatan. Kasus ini mendadak viral setelah agensi perjalanan yang membawanya, Berani Backpacker, menyebarkan informasi kehilangan tersebut karena Femas mendadak memisahkan diri dari rombongan.
Kronologi Kejadian & Dampak bagi Agensi
Pemilik agensi travel, Dhani, menjelaskan bahwa Femas langsung menghilang pada malam hari pertama tur di kawasan Myeongdong tanpa memberi tahu Tour Leader maupun Tour Guide.
- Tindakan Agensi: Setelah pesan dan teleponnya diabaikan, pihak travel langsung melapor ke imigrasi dan otoritas setempat. Diketahui masa berlaku visa Femas telah habis per 12-13 Juli 2026.
- Kerugian: Seluruh peserta tur lain (total 27 orang) sudah pulang ke Indonesia. Akibat aksi Femas, pihak agensi kini terancam denda dari otoritas Korea Selatan sebesar Rp 125 juta serta sanksi berat lainnya.
Pengakuan Ibu Kandung vs Temuan Janggal Agensi
Kasus ini menyisakan polemik antara pengakuan keluarga dan bukti-bukti di lapangan:
- Versi Ibu Kandung (MT): Sang ibu mengaku syok berat hingga jatuh sakit karena awalnya Femas hanya berpamitan pergi ke Surabaya. Ia baru tahu anaknya di Korea setelah si bungsu melihat video viral di media sosial. MT yang kini berstatus janda juga mengaku sempat dituntut ganti rugi Rp 50 juta oleh pihak tertentu.
- Temuan Janggal Agensi: Saat mendatangi rumah keluarga di Madiun, pihak travel menemukan bukti bahwa Femas diduga kuat sudah merencanakan pelarian ini. Ditemukan dokumen cetak rekening koran, surat sponsor yang ditandatangani sang ibu, hingga rekam jejak Femas yang ternyata pernah belajar bahasa di Lembaga Pelatihan Kerja (LPK) khusus Korea.
- Jalur Hukum: Karena menilai pihak keluarga berusaha menutupi fakta, agensi travel memutuskan untuk melaporkan penjamin/pemberi sponsor Femas ke pihak kepolisian.
Respons Pemerintah Desa
Kepala Desa Bantengan, Hartanto, membenarkan bahwa Femas adalah warga resminya. Pihak desa sendiri baru mengetahui kabar ini setelah ramai di TikTok dan Facebook. Hartanto menyayangkan sikap keluarga yang cenderung tertutup dan belum memberikan laporan resmi ke desa saat didatangi petugas. Ke depannya, pihak pemerintah desa akan segera berkoordinasi dengan instansi terkait untuk menindaklanjuti masalah ini.
Editor : Ilmidza