KALTIMPOST.ID, Presiden RI Prabowo Subianto kembali jadi sorotan usai menyebut “londo ireng” saat menyampaikan pidato pada acara Puncak Hari Lahir (Harlah) ke-28 Partai Kebangkitan Bangsa (PKB).
Dalam pidatonya, Prabowo menyatakan pemerintah tidak anti kritik karena kritik menjadi bagian dari sistem demokrasi.
Namun, ia menilai ada pihak yang justru tidak sekadar mengkritik melainkan menggiring opini publik bahwa Indonesia berada dalam situasi buruk.
“Kita negara demokrasi, kita tidak anti kritik tapi kita bukan anak kecil. Kita tahu ada orang-orang Indonesia yang seneng mengabdi dan berbakti kepada bangsa lain. Itu yang dulu kita sebut londo ireng. Yang ikut Belanda perang lawan kita. Londo-londo ireng ini. Sampai sekarang masih ada,” kata Prabowo.
Pihak-pihak ini, kata Prabowo, masih ada hingga saat ini, hanya hadir dalam bentuk yang berbeda.
Ia mengatakan kelompok tersebut kini bisa berupa jurnalis, pengamat, hingga lembaga swadaya masyarakat (LSM).
Ia bahkan secara terbuka mempertanyakan pihak yang mendanai kelompok-kelompok tersebut di tengah sulitnya mencari pekerjaan.
"Hanya dia sekarang pakai baju lain kan. Wartawan, jurnalis, apa itu pengamat, LSM. LSM harus kita tanya, yang gaji lu siapa? Yang bayar listrikmu siapa? Yang bayar handphonemu siapa? Cari pekerjaan susah kita tahu kan," cecarnya.
Lantas, apa arti londo ireng?
Londo ireng berasal dari bahasa Jawa yang berarti "Belanda hitam" atau "orang Belanda berkulit hitam."
Istilah ini bukan ditujukan kepada orang Belanda asli, melainkan kepada prajurit asal Afrika Barat yang bertugas dalam Tentara Kerajaan Hindia Belanda (KNIL) pada abad ke-19.
Di Bahasa Belanda, disebut Zwarte Hollanders atau Belanda Hitam. Para prajurit ini berasal dari wilayah Pantai Emas Belanda (Dutch Gold Coast), yang kini menjadi bagian dari Ghana, serta sejumlah kawasan Afrika Barat lainnya seperti Burkina Faso, Mali, Niger, Pantai Gading, dan Benin.
Walau bukan orang Belanda secara etnis, tapi mereka berseragam militer KNIL, denhan nama-nama Belanda, dan dapat status hukum yang setara dengan tentara Eropa di lingkungan militer kolonial.
Seiring berjalannya waktu, londo ireng lebih sering dipakai sebagai metafora untuk menggambarkan seseorang yang dianggap lebih membela kepentingan pihak asing dibandingkan kepentingan bangsanya sendiri.
Editor : Hernawati