KALTIMPOST.ID, JAKARTA – Pemerintah mulai mematangkan skema untuk memperluas pemanfaatan bioetanol sebagai campuran bensin di Indonesia. Salah satu yang sedang disiapkan adalah formula harga agar program tersebut tetap menarik bagi industri sekaligus memberikan keuntungan kepada petani.
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia mengatakan, pola pembiayaan bioetanol tidak serta-merta mengikuti skema biodiesel yang selama ini mendapat dukungan melalui Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP).
Pemerintah memilih merancang mekanisme tersendiri dengan mempertimbangkan karakter bahan baku bioetanol.
Baca Juga: Kepsek SMPN 2 Bonggakaradeng Dicopot usai Larang Siswi Berhijab, Berdalih Cuma Bercanda
Berbeda dengan biodiesel yang memanfaatkan minyak sawit untuk menghasilkan Fatty Acid Methyl Ester (FAME), bioetanol dapat diproduksi dari sejumlah komoditas pertanian.
Jagung, singkong dan tebu menjadi tiga bahan baku yang disiapkan. Khusus tebu, pemanfaatannya dapat berasal dari molase atau tetes tebu.
Bahlil mengatakan pemerintah ingin harga bahan baku maupun bioetanol berada pada tingkat ekonomis. Dengan begitu, pengembangan energi alternatif tidak hanya menguntungkan industri, tetapi juga memberikan nilai tambah kepada petani. Saat ini, menurut Bahlil, harga bioetanol berada di kisaran Rp11 ribu per liter.
Angka tersebut masih lebih rendah dibandingkan harga bensin yang disebut berada di kisaran Rp16 ribu per liter. Kondisi itu membuat penggunaan bioetanol sebagai campuran bensin dinilai masih kompetitif. Persoalan bisa berbeda ketika harga minyak dunia mengalami penurunan.
Jika harga bensin kemudian turun menjadi sekitar Rp9 ribu hingga Rp10 ribu per liter sementara bioetanol bertahan Rp11 ribu, akan muncul selisih harga. Gap tersebut yang sedang dicarikan jalan keluarnya oleh pemerintah.
Bahlil menyebut formulasi harga nantinya harus mampu menjaga tiga kepentingan sekaligus, yakni industri, petani dan negara.
Prabowo Bidik E10 hingga E20
Pengembangan bioetanol merupakan bagian dari agenda pemerintah untuk memperkuat penggunaan bahan bakar nabati sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap energi fosil.
Baca Juga: Mutasi Polri 2026: Jenderal Bintang Tiga Polri Menuju Pensiun 2026, Ada Karyoto dan Fadil Imran
Presiden Prabowo Subianto sebelumnya mendorong percepatan penggunaan etanol sebagai campuran bensin.
Saat menghadiri Panen Raya Serentak bersama TNI di Malang, Jawa Timur, 17 Juli 2026, Prabowo menyebut Indonesia telah memiliki kemampuan untuk bergerak menuju E10. E10 merupakan bensin dengan kandungan etanol sebesar 10 persen.
Namun, target pemerintah tidak berhenti di level tersebut. Menurut Prabowo, Indonesia mempunyai peluang meningkatkan campuran bioetanol menjadi E20 atau 20 persen. Peningkatan penggunaan etanol tentu membutuhkan kapasitas produksi yang jauh lebih besar.
Saat ini kapasitas pabrik dinilai masih menjadi tantangan. Prabowo bahkan menginginkan pembangunan sedikitnya 30 pabrik bioetanol dan membuka kemungkinan jumlahnya ditingkatkan hingga 50 pabrik.
Ingin Kejar India dan Brasil
Prabowo menjadikan perkembangan bioetanol di India dan Brasil sebagai pembanding. India telah mengembangkan penggunaan bensin dengan campuran etanol 20 persen atau E20.
Brasil melangkah lebih jauh dalam penggunaan etanol sebagai bahan bakar kendaraan. Pengalaman kedua negara tersebut dinilai menunjukkan besarnya potensi bioetanol sebagai alternatif untuk menekan konsumsi bahan bakar berbasis minyak.
Indonesia memiliki modal berupa ketersediaan bahan baku pertanian, mulai tebu, singkong hingga jagung. Namun, pengembangan dalam skala besar membutuhkan kepastian harga, kapasitas produksi, pasar, hingga jaminan agar petani memperoleh manfaat ekonomi.
Karena itu, formulasi harga yang kini digodok Kementerian ESDM akan menjadi salah satu bagian penting dalam rencana pemerintah memperbesar penggunaan E10 hingga E20.
Editor : Uways Alqadrie