KALTIMPOST.ID, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) bersama Badan Pengatur Hilir Minyak dan Gas Bumi (BPH Migas) menyoroti fenomena perpindahan konsumsi bahan bakar minyak (BBM) masyarakat. Melebarnya selisih harga antara BBM nonsubsidi dan subsidi memicu gelombang migrasi konsumen dari Pertamax (RON 92) ke Pertalite (RON 90).
Menteri ESDM Bahlil Lahadalia mengonfirmasi bahwa Kementerian ESDM tengah mengkaji dan menghitung estimasi lonjakan volume penggunaan BBM subsidi tersebut. Langkah ini diambil guna memetakan potensi kelebihan kuota akibat pergeseran konsumsi masyarakat pascakenaikan harga minyak mentah dunia.
Meski terjadi migrasi pengguna, Bahlil menegaskan pemerintah tidak akan menaikkan harga BBM subsidi jenis Pertalite maupun Solar. "Harga BBM subsidi tidak akan kita naikkan sampai dengan Desember 2026, sambil kita terus memantau dinamika global," ujar Bahlil di Gedung DPR RI, Jakarta, Selasa (1/9/2026).
Sementara itu, untuk BBM nonsubsidi seperti Pertamax Series dan Dex Series, penyesuaian harga akan tetap diserahkan kepada mekanisme pasar internasional.
Data Pergerakan Konsumsi Harian Pertalite (BPH Migas)
Kepala BPH Migas Wahyudi Anas merinci dinamika tren konsumsi harian Pertalite sepanjang periode pertengahan 2026:
- Hari Normal (Sebelum 10 Juni 2026): Rata-rata konsumsi harian berada di angka 75.795 kilo liter (kl).
- Juni 2026: Pasca kenaikan harga Pertamax, konsumsi Pertalite melonjak menjadi 82.760 kl/hari (naik 9,19% atau bertambah 6.965 kl).
- Juli 2026: Konsumsi harian mencapai puncaknya hingga 85.589 kl/hari (naik 12,92% atau bertambah 9.794 kl).
- Agustus 2026: Terjadi penurunan tipis menjadi 84.368 kl/hari seiring terkoreksinya harga Pertamax dari Rp16.250 menjadi Rp15.950 per liter. Kendati melandai, angka ini masih lebih tinggi 11,31% dibanding konsumsi harian normal.
BPH Migas menyimpulkan bahwa perubahan pola konsumsi masyarakat sangat sensitif terhadap disparitas harga. Selama gap harga BBM subsidi dan nonsubsidi masih lebar, tingkat ketergantungan publik pada BBM kompensasi negara diperkirakan tetap tinggi.
Editor : Ilmidza