Keracunan MBG di Ponpes Sidoarjo Tembus 664 Korban, Dinkes Ambil Langkah Ini

Dwi Puspitarini • Dipublikasikan Kamis, 3 September 2026 | 11:57 WIB
Korban keracunan MBG di Sidoarjo menjalani perawatan di sejumlah fasilitas kesehatan setelah mengalami keluhan mual, muntah, dan pusing usai menyantap makanan MBG. (IST)
Korban keracunan MBG di Sidoarjo menjalani perawatan di sejumlah fasilitas kesehatan setelah mengalami keluhan mual, muntah, dan pusing usai menyantap makanan MBG. (IST)

KALTIMPOST.ID - Penanganan terhadap korban keracunan MBG di Sidoarjo terus diperkuat setelah jumlah pasien yang diduga mengalami keracunan massal mencapai 664 orang. Ratusan santri dan pelajar sebelumnya mengalami sejumlah keluhan kesehatan setelah menyantap makanan dari program Makan Bergizi Gratis (MBG).

Dari total korban keracunan MBG di Sidoarjo tersebut, sebagian besar sudah dinyatakan membaik. Dinas Kesehatan Kabupaten Sidoarjo mencatat 581 pasien telah diperbolehkan pulang, sementara puluhan lainnya masih menjalani perawatan di sejumlah fasilitas kesehatan.

Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Sidoarjo dr Lakhsmita Herawati mengatakan masih terdapat 77 pasien yang dirawat dan enam pasien lainnya berada dalam tahap observasi. Kondisi pasien yang masih mendapat penanganan disebut secara umum stabil.

"Total 664 pasien, MRS 77 pasien, KRS 581 pasien, observasi 6 pasien," kata Lakhsmita saat dikonfirmasi, Kamis (3/9), dilansir dari CNN.

Baca Juga: Heboh! Dokter Obgyn Diduga Kirim DM Mesum, Ini yang Terjadi Setelahnya

Penanganan Korban Keracunan MBG di Sidoarjo Diperkuat

Meningkatnya jumlah korban keracunan MBG di Sidoarjo membuat Dinas Kesehatan setempat mengaktifkan Tim Krisis Kesehatan. Langkah tersebut dilakukan untuk memperkuat penanganan di lapangan sekaligus memastikan rumah sakit tetap siap menerima pasien yang membutuhkan perawatan.

Meski jumlah pasien telah mencapai ratusan, Pemerintah Kabupaten Sidoarjo belum menetapkan kejadian tersebut sebagai Kejadian Luar Biasa (KLB). Penanganan tetap dilakukan secara intensif sambil memantau kondisi para korban.

Lakhsmita menyampaikan bahwa pasien yang masih menjalani perawatan belum dapat dipulangkan karena masih membutuhkan pemantauan dari tenaga kesehatan.

"Secara umum kondisi pasien yang masih menjalani perawatan stabil," ujarnya.

Untuk menangani korban keracunan MBG di Sidoarjo, Dinas Kesehatan membagi penanganan ke dalam dua jalur. Tim kesehatan ditempatkan di lokasi kejadian untuk melakukan pemantauan serta memberikan penanganan awal kepada warga dan pelajar yang mengalami keluhan.

Penanganan di lokasi dikoordinasikan oleh petugas puskesmas setempat. Sementara itu, rumah sakit diminta meningkatkan kesiapsiagaan dengan memastikan ketersediaan tenaga kesehatan, obat-obatan, serta fasilitas pendukung.

Baca Juga: Kode Redeem Free Fire 3 September 2026: Segera Klaim Skin M1887 dan Diamond Gratis

"Kita aktifkan krisis kesehatan. Kemudian kita bagi dua, karena di sini perlu ada penanganan di lapangan, kita buka lapangan dengan korlapnya dari puskesmas. Kemudian untuk yang di rumah sakit-rumah sakit kita siagakan dengan tenaga kesehatan yang cukup," ujar dia.

Kasus keracunan MBG di Sidoarjo bermula setelah ratusan santri Pondok Pesantren Manbaul Hikam dan pelajar dari 19 sekolah di kawasan Kalitengah, Kecamatan Tanggulangin, mengalami sejumlah keluhan kesehatan.

Gejala yang dilaporkan antara lain mual, muntah, dan pusing. Keluhan tersebut muncul setelah mereka mengonsumsi menu MBG yang diproduksi oleh Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Kalitengah Tanggulangin pada Selasa (1/9) siang.

Menu yang disantap para korban terdiri atas nasi putih, orak-arik telur, tempe bumbu bali, sayur tumis buncis baby corn, serta buah apel.

Dengan jumlah korban keracunan MBG di Sidoarjo yang telah mencapai 664 orang, perhatian kini tertuju pada proses penanganan pasien dan pemantauan kondisi mereka. Di sisi lain, pemerintah daerah masih belum menetapkan kejadian tersebut sebagai KLB.***

Editor : Dwi Puspitarini
keracunan MBG Sidoarjo korban keracunan MBG di Ponpes Sidoarjo Makan Bergizi Gratis Mbg keracunan massal