KALTIMPOST.ID, Kementerian Sosial menjelaskan bahwa penambahan sekitar 12 juta data baru dari BKKBN yang belum melalui proses verifikasi dan validasi menjadi penyebab utama bergesernya posisi desil secara drastis dalam Data Tunggal Sosial dan Ekonomi Nasional (DTSEN) Volume 3.
Menteri Sosial Saifullah Yusuf (Gus Ipul) menyampaikan bahwa pemerintah tengah merapikan data tersebut bersama pemerintah daerah. "Baru masuk 12 juta data baru dari BKKBN yang belum dilakukan verifikasi dan validasi. Sehingga loncat-loncat," ungkap Gus Ipul. Ia menambahkan bahwa proses pembenahan sedang berjalan, "Nah sekarang sudah distabilkan, dirapikan, diverifikasi dan validasi. Insyaallah dalam waktu 1-2 minggu ke depan, data ini akan makin akurat," tambahnya.
Gus Ipul menekankan bahwa pergeseran desil tidak secara otomatis menghapus hak seseorang sebagai penerima bantuan sosial. "Tidak serta-merta orang yang sekarang desilnya berubah, itu otomatis dicoret (bansosnya). Karena masih menunggu penetapan pada awal bulan penyaluran," tegasnya. Penentuan kelayakan tetap bergantung pada keputusan resmi pada periode penyaluran, sementara untuk kategori Penerima Bantuan Iuran (PBI) diperbarui setiap bulan.
Di sisi lain, Tenaga Ahli Mensos Andy Kurniawan menegaskan bahwa desil hanyalah sistem pemeringkatan relatif tingkat kesejahteraan nasional yang membagi penduduk menjadi 10 kelompok, bukan tolok ukur pasti nominal penghasilan. "Desil itu bukan sertifikat kaya dan miskin. Desil tidak bisa disamakan secara ekuivalen dengan penghasilan. Desil 1 penghasilannya sekian atau desil 10 penghasilannya sekian, itu tidak bisa," jelas Andy. Karena sifatnya relatif, peringkat desil seseorang dapat bergeser apabila ada perubahan data pada warga lain, meskipun kondisi finansial pribadi orang tersebut tidak mengalami perubahan.
Editor : Ilmidza