KALTIMPOST.ID, Badan Gizi Nasional (BGN) mengambil tindakan tegas dengan mencopot Kepala Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Kalitengah, Sidoarjo, Rafli Ridho, serta menghentikan sementara operasional dapur selama 30 hari. Sanksi ini dijatuhkan menyusul insiden keracunan massal yang menimpa ratusan penerima program Makan Bergizi Gratis (MBG) di wilayah tersebut.
Wakil Kepala BGN Trenggono menegaskan bahwa pencopotan dilakukan karena kepala dapur dinilai lalai. "Jadi dia sudah tidak bisa lagi menangani dapur karena kelalaian ataupun ketidakpatuhan terhadap SOP. Itu kan tanggung jawab Kepala Dapur," kata Trenggono. Ia menambahkan bahwa sanksi saat ini difokuskan pada penghentian operasional SPPG dan pemberhentian penanggung jawab dapur, bukan kepada pemilik fasilitas. BGN juga membuka peluang untuk menutup dapur tersebut secara permanen. "Apabila dapur nanti tidak melaksanakan SOP dengan baik, kesengajaan, dan ini tidak sesuai dengan apa yang sudah menjadi aturan dari BGN, ya bisa kita suspend permanen," ujarnya.
Dari hasil penyelidikan awal, Kepala BGN Sudaryono menemukan indikasi kelalaian yang disengaja dalam proses distribusi. Makanan yang rampung dimasak sejak pukul 05.00 WIB dan seharusnya disantap sebelum pukul 09.00 WIB, justru baru dikirim menjelang tengah hari. "Yang menjadi kenyataannya ya, di lapangan, itu ompreng yang harusnya dimakan sebelum jam 10.00, dikirim ke sekolah di atas jam 11.00, kalau tidak salah 11.30 apa 11.40, baru dimakan di atas jam 12.00 oleh para siswa itu," ujar Sudaryono. Ia menekankan bahwa ini bukan sekadar kecelakaan biasa, "Nah, jadi Anda ini berarti ini adalah kelalaian yang disengaja. Saya ulangi, ini kelalaian yang disengaja," tegasnya. Atas peristiwa ini, Rafli Ridho secara terbuka telah menyampaikan penyesalan, "Mohon maaf ya, saya menyesal," ucapnya.
Kasus ini bermula pada Selasa (1/9/2026), ketika ratusan santri Pondok Pesantren Manba’ul Hikam beserta siswa dari beberapa sekolah lain mengalami mual, pusing, dan lemas usai menyantap sajian MBG dari SPPG Kalitengah. Hingga Jumat (4/9/2026) pagi, total korban terdampak mencapai 748 orang. Sebanyak 728 pasien di antaranya telah dinyatakan membaik dan diperbolehkan pulang, sementara 20 orang lainnya masih menjalani perawatan medis di rumah sakit.
Editor : Ilmidza