Karhutla di Kalsel Ditangani Polri dengan Cara Baru, Apakah Itu?

Dwi Puspitarini • Dipublikasikan Jumat, 4 September 2026 | 15:33 WIB
Karhutla Kalimantan berujung sanksi administrasi kepada 6 perusahaan. (jawapos.com)
Ilustrasi karhutla.(jawapos.com)

KALTIMPOST.ID - Penanganan karhutla Kalsel menghadapi tantangan yang tidak selalu terlihat mata. Api di permukaan memang bisa dipadamkan, tetapi panas dan bara masih dapat bertahan di dalam lapisan gambut.

Kondisi tersebut membuat karhutla Kalsel tidak cukup hanya ditangani dengan penyemprotan air dari permukaan. Petugas kini perlu memastikan tidak ada lagi titik panas yang tersisa di bawah tanah.

Untuk menghadapi persoalan itu, Polri bersama sejumlah instansi memperkuat penanganan karhutla Kalsel dengan teknologi. Salah satunya dilakukan di kawasan Pengayuan, Banjarbaru, dengan memadukan drone thermal dan sistem pendinginan dari bawah permukaan tanah.

Karo Penmas Divisi Humas Polri Brigjen Trunoyudo Wisnu Andiko mengatakan teknologi tersebut digunakan untuk memberikan gambaran kondisi kebakaran secara lebih menyeluruh.

Baca Juga: Honda ST125 Dax 2026 Makin Ikonik, Warna Baru Candy Orange & Black Bikin Tampil Beda Banget!

"Kita tidak hanya melihat apakah api di permukaan sudah padam. Kita juga perlu mengetahui apakah masih ada panas yang tersimpan di bawah tanah. Drone thermal membantu menemukan titik panas, kemudian sistem undercooling digunakan untuk melakukan pendinginan dari bawah," kata Trunoyudo, dilansir dari inews, Jumat (4/9/2026).

Karakter lahan gambut membuat penanganan karhutla Kalsel memiliki tantangan tersendiri. Api tidak selalu terlihat ketika berada di bawah permukaan karena panas dapat menjalar melalui lapisan gambut dan bara bisa bertahan meski api di atas tanah telah berhasil dipadamkan.

Karena itu, petugas tidak hanya melakukan pembasahan dari atas. Sistem pipa undercooling digunakan untuk mengalirkan cairan pemadam langsung ke lapisan gambut yang masih menyimpan panas.

Pipa tersebut ditancapkan hingga sekitar dua meter ke dalam tanah. Cairan kemudian diinjeksi ke bagian bawah permukaan untuk membantu menurunkan suhu di titik yang masih panas.

Pada saat yang sama, petugas tetap melakukan pemadaman dan pembasahan menggunakan cara konvensional. Pola ini membuat penanganan karhutla Kalsel dilakukan dari dua arah, yakni memadamkan api di permukaan sekaligus mendinginkan sumber panas di bawah tanah.

Baca Juga: Pengadaan LED Rp535 Miliar Dibatalkan BGN, Sudaryono: Sudah Kami Cancel

Drone Thermal Dipakai untuk Mencari Titik Panas

Teknologi lain yang digunakan dalam penanganan karhutla Kalsel adalah drone thermal milik Ditintelkam Polda Kalsel. Drone tersebut digunakan untuk melihat titik panas yang sulit diketahui hanya dengan pengamatan biasa.

Pemantauan dilakukan sebelum dan setelah proses penanganan. Dengan cara tersebut, petugas dapat membandingkan kondisi suhu lokasi dan melihat apakah titik panas masih terdeteksi setelah dilakukan pendinginan.

Salah satu titik pengujian menunjukkan suhu tanah gambut mencapai sekitar 120 derajat Celsius. Setelah dilakukan pembasahan permukaan dan injeksi cairan melalui pipa undercooling selama kurang lebih satu menit, lokasi kembali diperiksa menggunakan drone thermal.

Hasil pemantauan menunjukkan suhu pada titik yang telah ditangani turun ke kisaran 30 derajat Celsius. Titik panas yang sebelumnya terlihat juga tidak lagi terdeteksi pada pemantauan berikutnya.

Teknologi Bukan Pengganti Pemadaman Konvensional

Penggunaan teknologi dalam karhutla Kalsel bukan berarti cara pemadaman yang selama ini dilakukan ditinggalkan. Metode konvensional tetap menjadi bagian dari penanganan di lapangan.

Trunoyudo menjelaskan teknologi tersebut justru digunakan untuk menambah kemampuan petugas ketika menghadapi kondisi gambut yang sulit diketahui secara kasatmata.

"Metode konvensional tetap dilakukan. Cara baru ini menambah kemampuan tim, khususnya ketika menghadapi karakter gambut yang memungkinkan bara bertahan di bawah permukaan," ujarnya.

Dengan pendekatan tersebut, petugas tidak hanya berfokus pada api yang terlihat. Kondisi di bawah permukaan juga menjadi perhatian agar potensi munculnya kembali titik panas dapat diketahui lebih cepat.

Baca Juga: Gawat! Kylian Mbappe Jadi Salah Satu Target Penculikan, Presiden Prancis Langsung Kasih Peringatan

Selain perangkat pendeteksi panas dan sistem pipa, penanganan karhutla Kalsel juga menggunakan cairan pemadam berbahan dasar Methyl Ester Sulfonate (MES).

Formula tersebut dikembangkan Bidlabfor Polda Kalsel dan digunakan dalam sistem undercooling. Dalam penerapannya, sekitar 100 liter formula dapat dicampurkan dengan 12.000 liter air.

Campuran tersebut ditempatkan dalam kolam bioflok portable berkapasitas 12.000 liter. Fasilitas ini disiapkan untuk mendekatkan sumber air dengan lokasi penanganan sekaligus mendukung pembasahan permukaan dan proses injeksi ke bawah tanah.

Ribuan Personel Disiapkan untuk Karhutla Kalsel

Teknologi hanya menjadi salah satu bagian dari strategi penanganan karhutla Kalsel. Kesiapan personel dan kendaraan pendukung juga disiapkan untuk menghadapi kondisi di berbagai wilayah.

Berdasarkan data kesiapsiagaan, sebanyak 3.030 personel Polda Kalsel menjadi bagian dari 11.681 personel gabungan yang disiapkan untuk menangani karhutla di Kalimantan Selatan. Penempatan personel disesuaikan dengan tingkat kerawanan dan kebutuhan setiap wilayah.

Sementara itu, di kawasan Pengayuan, sedikitnya 350 personel gabungan diterjunkan. Mereka berasal dari Polri, TNI, BPBD, Dinas Perkebunan dan Peternakan, pihak perusahaan, serta sejumlah unsur pendukung lainnya.

Sejumlah peralatan juga disiapkan untuk mendukung operasi karhutla Kalsel, mulai dari drone hingga kendaraan dan mesin pompa.

Baca Juga: Sutradara Senior Ida Farida Tutup Usia, Jejak Karyanya Masih Dikenang

Peralatan yang disiapkan meliputi:

1.      Empat drone untuk mendukung pemantauan.

2.      16 kendaraan AWC untuk mendukung pemadaman.

3.      Enam kendaraan SAR.

4.      115 kendaraan roda dua.

5.      33 kendaraan R4 double cabin.

6.      14 kendaraan R4 single cabin.

7.      Tujuh kendaraan R4 tangki.

8.      19 kendaraan R6 truck.

9.      31 mesin pompa.

10.  Lima pompa apung.

11.  Lima pompa portable.

Efektivitas Jadi Ukuran Inovasi Karhutla Kalsel

Polri menilai penggunaan teknologi dalam karhutla Kalsel tidak cukup hanya karena terlihat baru atau berbeda. Teknologi tersebut harus benar-benar membantu petugas bekerja lebih efektif di lapangan.

Trunoyudo mengatakan evaluasi akan terus dilakukan untuk memastikan teknologi yang digunakan memberikan manfaat nyata dalam penanganan kebakaran hutan dan lahan.

"Kita tidak ingin inovasi hanya menjadi demonstrasi. Ukurannya adalah apakah benar-benar membantu petugas. Apakah lebih mudah diterapkan, apakah titik panas lebih cepat diketahui, dan apakah proses pendinginan dapat dilakukan dengan lebih tepat. Itu yang terus kita evaluasi," katanya.

Pendekatan ini menjadi penting karena karakter lahan gambut membuat proses pemadaman tidak selalu selesai ketika api sudah tidak terlihat. Dalam penanganan karhutla Kalsel, kondisi bawah permukaan kini ikut diperhitungkan agar sumber panas yang tersembunyi dapat diketahui dan ditangani.***

Editor : Dwi Puspitarini
karhutla Kalsel teknologi penanganan karhutla kalsel kebakaran hutan dan lahan lahan gambut