Bukan Mistis, Ini Penjelasan Sains di Balik Kompleksitas Perairan Masalembo

Ari Arief • Dipublikasikan Kamis, 17 September 2026 | 16:40 WIB
Ilustrasi Masalembo yang disebut-sebut sebagai "Segitiga Bermuda Indonesia".(generate ai)
Ilustrasi Masalembo yang disebut-sebut sebagai "Segitiga Bermuda Indonesia".(generate ai)

 

KALTIMPOST.ID,JAKARTA–Musibah kecelakaan laut yang kembali menimpa kapal di perairan Masalembo, Laut Jawa—seperti tenggelamnya KM Virgo Transport—kembali memicu munculnya narasi mistis hingga julukan ‘Segitiga Bermuda Indonesia’. Namun, pakar mengimbau masyarakat untuk melihat fenomena tersebut dari kacamata ilmiah.

Anggota Ikatan Ahli Bencana Indonesia (IABI), Daryono, menegaskan bahwa perairan Masalembo pada dasarnya merupakan sistem laut yang dinamis dan kompleks, bukan kawasan misterius apalagi 'kuburan kapal'.

Baca Juga: Tanamkan Disiplin Sejak Dini, 17 SD Bertarung di Lomba Polisi Cilik Polres PPU

"Risiko pelayaran di kawasan ini lebih tepat dipahami sebagai hasil interaksi berbagai faktor, seperti angin, gelombang, arus, pasang surut, kondisi atmosfer, batimetri, karakteristik kapal, muatan, hingga keputusan navigasi," ujar Daryono dalam paparannya, dikutip Kamis (17/9/2026).

Ia menjelaskan, Masalembo berada di titik temu sistem perairan Laut Jawa, Selat Makassar, dan Laut Flores. Selat Makassar sendiri merupakan jalur utama Arus Lintas Indonesia (Arlindo) yang membawa massa air dari Samudra Pasifik. Pertemuan massa air dengan perbedaan temperatur, salinitas, dan densitas ini membentuk struktur laut yang dinamis baik secara horizontal maupun vertikal.

Baca Juga: Ancam Estetika Kota Penyangga IKN, Bisnis Tanah Kavling Skala Besar di Balikpapan Dikendalikan

Kondisi tersebut kerap memicu cross-sea atau kondisi saat gelombang datang dari berbagai arah secara bersamaan akibat kombinasi angin lokal dan gelombang dari wilayah lain.

"Kondisi cross-sea ini dapat meningkatkan gerakan kapal, seperti rolling (miring ke kiri dan kanan) serta pitching (mengangguk ke depan dan belakang), yang menambah beban dinamis pada struktur kapal," jelasnya.

Baca Juga: Debit Air Baku Menyusut, Perumda AMDT PPU Terapkan Giliran Distribusi Air, Ini Jadwalnya!

Selain sirkulasi air, faktor cuaca konvektif di atas laut yang hangat juga memicu pembentukan awan Cumulonimbus secara cepat. Awan ini berpotensi menghasilkan hujan lebat, petir, hingga hembusan angin kencang mendadak (gust front) yang secara drastis mengubah kondisi gelombang dalam waktu singkat.

Kendati demikian, Daryono mewanti-wanti agar publik maupun pihak berwenang tidak langsung mengklaim faktor alam sebagai penyebab tunggal kecelakaan kapal di Masalembo, termasuk musibah KM Virgo Transport.

Baca Juga: Daftar 22 Platform Berisiko Tinggi bagi Anak Resmi Dirilis Komdigi: Ada Lazada, Pinterest, YouTube

"Kecelakaan kapal pada dasarnya melibatkan banyak faktor simultan. Selain kondisi alam, faktor teknis kapal, stabilitas, pengamanan muatan—terutama pada kapal tipe Ro-Ro—serta kelalaian prosedur navigasi harus dibuktikan melalui investigasi dan data objektif," tegasnya.

Ia menambahkan, kunci keselamatan pelayaran di wilayah perairan yang dinamis seperti Masalembo bergantung pada keakuratan data cuaca, perencanaan navigasi yang matang, serta kedisiplinan awak kapal.

Baca Juga: Kementerian ATR/BPN Digeledah! KPK Sasar Ruang Dirjen Lampri Terkait Suap HGB Summarecon

"Masalembo bukanlah misteri. Ini adalah pengingat bahwa laut harus dipahami dengan sains, dipantau dengan data, dan diarungi dengan perencanaan serta kewaspadaan tinggi," kata Daryono.(*)

Editor : Thomas Priyandoko
KM Virgo Transport masalembo misteri