KALTIMPOST.ID - Nasib pegawai SPPG Dlingo, Bantul, Gerardus Permanaditya, berakhir setelah videonya yang dianggap mengolok-olok korban MBG viral di media sosial. Badan Gizi Nasional (BGN) Regional Daerah Istimewa Yogyakarta memastikan Gerardus telah diberhentikan.
Gerardus sebelumnya menjadi sorotan setelah membuat video yang memperlihatkan dirinya mencicipi menu ayam katsu. Dalam video tersebut, ia disebut mengolok-olok seorang siswi asal Kabupaten Karo, Sumatera Utara, yang mengalami hilang ingatan dan diduga terdampak keracunan MBG.
Video itu kemudian mendapat perhatian luas karena dinilai tidak menunjukkan empati terhadap penerima manfaat yang sedang menghadapi persoalan kesehatan.
Baca Juga: Cekcok Biaya Obat Anak Berujung Maut, Oknum Istri Bunuh Suami ASN di OKI Sumsel
Video Pegawai SPPG Jadi Sorotan
Peristiwa bermula dari video yang beredar di media sosial. Dalam video tersebut, Gerardus terlihat mencicipi ayam katsu yang disebutnya telah dimasak sehari sebelum pengambilan gambar.
Aksi pegawai SPPG itu kemudian dikaitkan dengan kasus siswi asal Karo yang diduga mengalami gangguan kesehatan setelah mengonsumsi makanan dalam program MBG.
Video tersebut akhirnya menuai kecaman, termasuk dari Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka.
Seperti dilansir dari CNN, Selasa (22/9), melalui akun Instagram resminya @gibran_rakabuming pada Minggu (20/9), Gibran menyayangkan pernyataan yang disampaikan pegawai SPPG tersebut.
"Perkataan oknum SPPG ini sangat disayangkan. Mari kita bersama menjaga ruang publik yang aman dan ramah bagi semua. Jangan sampai anak-anak justru menjadi korban perundungan," ungkap Gibran.
Unggahan Gibran juga memperlihatkan video aksi Gerardus yang memakan ayam katsu. Video itu disandingkan dengan rekaman saat Gibran mengunjungi korban MBG di Karo, Sumatera Utara.
Baca Juga: Kenapa Orang Mau Bayar Rp550 Ribu untuk SIM Palsu?
BGN Pecat pegawai SPPG
Viralnya video tersebut kemudian berujung pada keputusan BGN Regional DIY untuk memberhentikan Gerardus. Ia diketahui bekerja sebagai pegawai bagian pengawas keuangan di SPPG Dlingo, Bantul.
Koordinator Regional BGN DIY Wirandita Gagat Widyatmoko mengatakan pemberhentian tersebut dilakukan setelah penanganan sesuai ketentuan. Menurutnya, langkah itu menjadi bagian dari upaya menjaga perilaku dan profesionalitas jajaran yang terlibat dalam Program MBG.
"Kami menyayangkan adanya pernyataan tersebut. Setelah dilakukan penanganan sesuai ketentuan, yang bersangkutan telah diberhentikan. Ini menjadi pelajaran bagi seluruh jajaran bahwa bekerja dalam Program MBG tidak hanya dituntut memiliki kemampuan teknis, tetapi juga memiliki etika, empati, sensitivitas, dan tanggung jawab dalam berkomunikasi," kata Gagat, seperti dilansir dari CNN, Selasa (22/9).
BGN Ingatkan Pentingnya Empati
Gagat menegaskan persoalan yang berkaitan dengan keamanan pangan harus menjadi perhatian seluruh pihak. Terlebih jika terdapat penerima manfaat yang diduga mengalami dampak kesehatan.
Karena itu, jajaran SPPG diminta mengedepankan kemanusiaan dan empati. Persoalan yang dialami masyarakat, menurut BGN, tidak semestinya dijadikan bahan candaan atau olok-olok.
Selain persoalan sikap, BGN juga mengingatkan para pegawai SPPG agar lebih berhati-hati ketika menggunakan media sosial dan menyampaikan pernyataan di ruang publik.
Hal itu dinilai penting karena pernyataan seorang pegawai SPPG dapat memengaruhi persepsi masyarakat terhadap pelaksanaan Program MBG secara keseluruhan.
"Kita harus memahami sensitivitas persoalan yang sedang dihadapi masyarakat. Jangan sampai persoalan yang seharusnya menjadi pembelajaran bersama justru dikomentari dengan cara yang tidak tepat. Empati dan saling menghormati harus menjadi bagian dari budaya kerja kita," ujar Gagat.
SPPG Diminta Perbaiki Pelayanan
Setelah kasus pegawai SPPG tersebut menjadi perhatian publik, BGN Regional DIY juga meminta seluruh jajaran meningkatkan kualitas pelayanan kepada penerima manfaat.
Perhatian itu mencakup pelaksanaan prosedur kerja, pengawasan, keamanan pangan, kualitas makanan hingga komunikasi dengan masyarakat.
Gagat mengatakan pelaksanaan MBG saat ini mendapat perhatian besar dari masyarakat. Karena itu, ia meminta seluruh SPPG menjawab perhatian tersebut melalui kinerja yang lebih baik.
"Kami mengarahkan seluruh jajaran untuk fokus bekerja. Tingkatkan kualitas pelayanan, pastikan keamanan pangan, laksanakan SOP, perkuat pengawasan, dan berikan pelayanan terbaik kepada penerima manfaat. Saat ini masyarakat memberikan perhatian yang besar terhadap Program MBG, maka jawab perhatian tersebut dengan kinerja yang semakin baik," imbuh Gagat.
Kasus ini sekaligus menjadi pengingat bahwa pelaksanaan Program MBG tidak hanya berkaitan dengan penyediaan makanan bagi penerima manfaat. Sikap, komunikasi, empati, dan tanggung jawab petugas juga menjadi bagian yang mendapat perhatian publik.***
Editor : Dwi Puspitarini