Butuh Bantuan Krisis Kesehatan Jiwa? Segera Hubungi Layanan Healing119.id

Ari Arief • Dipublikasikan Minggu, 11 Oktober 2026 | 09:52 WIB
Ilustrasi seseorang tampak depresi.(generate ai)
Ilustrasi seseorang tampak depresi.(generate ai)

 

KALTIMPOST.ID,JAKARTA–Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI mengimbau masyarakat untuk memanfaatkan saluran bantuan krisis kesehatan jiwa Healing119.id. Layanan yang dapat diakses melalui panggilan telepon maupun percakapan daring (chat) ini tercatat telah diakses oleh 284.916 pengguna di seluruh Indonesia.

Upaya ini menjadi bagian dari komitmen pemerintah dalam mengatasi kesenjangan penanganan kesehatan jiwa dan memberikan penanganan cepat bagi masyarakat yang membutuhkan. Dikutip dari laman resmi Kementerian Kesehatan pada Minggu (11/10/2026), gangguan kesehatan jiwa masih menjadi tantangan serius di Tanah Air.

Baca Juga: PPU Bebas Karhutla dan Pangan Aman, Pemkab-BI Resmi Perkuat Sinergi

Direktur Jenderal Kesehatan Primer dan Komunitas Kemenkes, dr. Maria Endang Sumiwi, mengungkapkan bahwa prevalensi depresi pada penduduk berusia di atas 15 tahun mencapai 1,4 persen atau sekitar 2,5 juta hingga 3 juta orang. Namun, mayoritas dari mereka belum tersentuh penanganan medis.

“Dari sekitar 3 juta orang dengan depresi, baru 12,7 persen yang mendapatkan pengobatan. Artinya, 9 dari 10 orang dengan depresi belum terjangkau layanan kesehatan. Beban tertinggi justru berada pada kelompok anak muda usia 15 hingga 24 tahun,” ujar Endang dalam Temu Media memperingati Hari Kesehatan Jiwa Sedunia di Jakarta.

Baca Juga: BMKG Prakirakan Cuaca PPU Didominasi Udara Kabur Sepekan Ke Depan, Cerah di Akhir Minggu

Untuk memperluas akses penanganan, Kemenkes terus memperkuat fasilitas pelayanan kesehatan primer. Saat ini, sebanyak 6.549 puskesmas atau 64 persen dari total puskesmas di Indonesia telah mampu memberikan pelayanan kesehatan jiwa, dengan target penjangkauan 100 persen dalam dua tahun ke depan. Selain itu, 932 puskesmas juga telah disiapkan agar ramah bagi penyandang disabilitas.

Melalui Program Cek Kesehatan Gratis (CKG) dan Antenatal Care (ANC), Kemenkes telah melakukan skrining terhadap 71,86 juta penduduk. Hasilnya menunjukkan indikasi gejala depresi tertinggi ditemukan pada kelompok ibu hamil dan nifas (7,1 persen) serta kelompok usia sekolah dan remaja (2,3 persen).

Baca Juga: Jangan Cuma Patokan 8 Jam, Ini Alasan Kualitas Tidur Lebih Penting dari Durasi

Selain persoalan depresi, Kemenkes juga mengajak masyarakat dan keluarga untuk menghapus stigma serta merangkul individu neurodivergent, seperti penderita ADHD dan disleksia. Direktur Pelayanan Kesehatan Kelompok Rentan Kemenkes, dr. Imran Pambudi, menekankan pentingnya deteksi dini dan dukungan keluarga tanpa adanya penolakan (denial) agar potensi anak dapat berkembang optimal.

Bagi masyarakat yang membutuhkan konsultasi maupun penanganan krisis kesehatan jiwa, bantuan dapat segera diakses melalui layanan resmi Healing119.id atau mendatangi puskesmas terdekat.(*)

Editor : Thomas Priyandoko
depresi puskesmas kesehatan