Martha Tilaar Meninggal Dunia: Perjalanan 56 Tahun Membangun Sariayu, Bermodal Rp1 Juta

Uways Alqadrie • Dipublikasikan Rabu, 14 Oktober 2026 | 11:45 WIB
Martha Tilaar
Martha Tilaar

KALTIMPOST.ID, JAKARTA – Dunia usaha dan industri kecantikan Indonesia kehilangan salah satu tokoh pentingnya. Martha Tilaar, pengusaha yang merintis bisnis kosmetik dan jamu melalui merek Sariayu, meninggal dunia pada Rabu (14/10/2026) dalam usia 89 tahun.

Perempuan bernama lahir Martha Handana, yang juga dikenal dengan nama Tjhie Pwee Giok, itu merupakan pendiri Martha Tilaar Group dan salah satu tokoh yang berperan dalam pengembangan kosmetik berbasis kekayaan alam Indonesia.

Kabar wafatnya Martha sebelumnya disampaikan keluarga besar Tiara Kusuma, Persatuan Ahli Kecantikan dan Pengusaha Salon Indonesia. Martha tercatat sebagai Dewan Kehormatan organisasi tersebut. Jenazahnya diinformasikan disemayamkan di Rumah Duka Patra Kuningan, Jakarta Selatan.

Baca Juga: Pendiri Martha Tilaar Group dan Tokoh di Balik Sariayu Meninggal Dunia di Usia 89 Tahun

Kepergian Martha menutup perjalanan panjang seorang perempuan yang membangun usaha kecantikan dari skala kecil hingga berkembang menjadi kelompok bisnis dengan beragam produk kosmetik, perawatan tubuh, spa, dan jamu.

Berawal dari Ketertarikan pada Dunia Kecantikan

Martha lahir di Gombong, Jawa Tengah, pada 4 September 1937. Ketertarikannya terhadap dunia kecantikan tumbuh sejak kecil setelah ibunya memperkenalkannya kepada Titi Poerwosoenoe, seorang ahli kecantikan tradisional di Yogyakarta.

Pada masa kanak-kanak, Martha justru dikenal kurang tertarik merawat diri. Ibunya kemudian menitipkannya untuk belajar merias dan merawat kecantikan. Pengalaman tersebut menjadi salah satu titik awal yang mengubah minatnya hingga kemudian menekuni bidang kecantikan secara profesional.

Sebelum menjadi pengusaha, Martha meniti karier di dunia pendidikan. Ia pernah mengajar di sekolah dasar di Jakarta, kemudian menjadi dosen di IKIP Jakarta, yang kini dikenal sebagai Universitas Negeri Jakarta.

Martha menempuh pendidikan di IKIP Jakarta dan menyelesaikan pendidikan sarjana pendidikan. Ia juga mengikuti kursus kecantikan di Jakarta pada 1961–1962.

Pada 1964, Martha mengikuti suaminya, Henry Alex Rudolf Tilaar, ke Amerika Serikat setelah sang suami memperoleh beasiswa pendidikan. Di negara tersebut, ia memperdalam pengetahuan tentang kecantikan di Academy of Beauty Culture, Bloomington, Indiana.

Setelah menyelesaikan pendidikan, Martha bekerja di Campes Beauty Salon di lingkungan Universitas Indiana selama 1967–1969. Ia juga sempat membuka layanan salon sendiri dan mempromosikan jasanya secara langsung kepada mahasiswa Indonesia, keluarga dosen, serta masyarakat yang tinggal di Amerika Serikat. Selain layanan kecantikan, ia pernah menyediakan jasa pengasuhan anak.

Modal Rp1 Juta untuk Memulai Usaha

Martha kembali ke Indonesia pada 1969 dan mulai merintis bisnis dari tempat sederhana. Ia membuka salon kecil berukuran sekitar 6 x 4 meter di garasi rumah ayahnya.

Baca Juga: KPK OTT Pejabat BNPB: Sekretaris Utama Rustian Ikut Diamankan Bersama Rp1,4 Miliar

Modal awal yang digunakan sekitar Rp1 juta. Dana tersebut berasal dari tabungan selama tinggal dan bekerja di Amerika Serikat, ditambah bantuan ayah serta adik-adiknya, Ratna dan Bambang.

Pada 3 Januari 1970, Martha's Salon resmi berdiri di Jalan Kusumaatmadja, Menteng, Jakarta Pusat. Untuk mendapatkan pelanggan, Martha membagikan selebaran promosi dan membangun hubungan dekat dengan pengunjung.

Pendekatan tersebut membuat salonnya berkembang. Seiring waktu, pelanggan Martha mencakup peragawati dan istri pejabat. Ia kemudian membuka salon kedua di Jalan Anggur Nomor 3, Cipete, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, pada 1972.

Pengembangan usaha tidak berhenti pada pelayanan salon. Pada tahun yang sama, Martha melakukan perjalanan ke Eropa untuk mempelajari berbagai ramuan dan produk kecantikan. Ia mengunjungi pabrik Yves Rocher di Prancis, Mary Quant di Inggris, serta Hartleben di Jerman Barat.

Sekembalinya ke Indonesia, ia mengembangkan Martha Griya Salon dengan memperkenalkan perawatan tradisional. Karena referensi produk perawatan lokal saat itu masih terbatas, Martha menggali pengetahuan dari praktisi pengobatan tradisional dan keluarganya, termasuk sang nenek, Pranoto Liem atau Mak Oco, yang dikenal ahli meracik jamu.

Pengetahuan tentang jamu kemudian menjadi salah satu unsur penting dalam pengembangan bisnisnya.

Sempat Bekerja Sama dengan Mustika Ratu

Pada 1975, Martha menjalin kerja sama dengan Mooryati Soedibyo, pendiri perusahaan kosmetik Mustika Ratu. Namun, perbedaan visi dan misi membuat kerja sama tersebut berakhir.

Baca Juga: Siswi SMA di Banyuwangi Hamil: Diperkosa di Musala, Marbot Berusia 63 Tahun Jadi Tersangka

Dua tahun kemudian, Martha membuka babak baru dengan menggandeng Boenjamin Setiawan dan Theresia Harsini Setiady dari Kalbe Farma.

Kerja sama itu melahirkan PT Martina Berto pada 1977. Perusahaan tersebut mengembangkan kosmetik dan jamu, dengan Sariayu Martha Tilaar sebagai produk pertamanya.

Pengembangan perusahaan berlanjut dengan pembangunan pabrik kosmetik pertama di Jalan Pulo Ayang, Kawasan Industri Pulo Gadung, Jakarta Timur. Pabrik tersebut diresmikan pada 22 Desember 1981 oleh Nelly Adam Malik, istri Wakil Presiden Adam Malik.

Pada usia perusahaan yang masih relatif muda, Martina Berto memperoleh penghargaan tertinggi untuk penampilannya dalam The First Asian Beauty Congress and Exhibition di Singapura.

Martha juga memperoleh gelar doktor kehormatan bidang Fashion Artistry dari The World University di Tucson, Arizona, Amerika Serikat, pada 1984.

Pada 1983, ia mendirikan PT Sari Ayu Indonesia yang secara khusus menangani distribusi produk kosmetik Sariayu Martha Tilaar.

Ekspansi berlanjut dengan pembukaan pabrik kedua di Jalan Pulo Kambing II Nomor 1, masih di Kawasan Industri Pulo Gadung. Pabrik tersebut diresmikan oleh Karlinah Umar Wirahadikusumah, istri Wakil Presiden Umar Wirahadikusumah.

Mengembangkan Beragam Merek Kosmetik dan Perawatan

Dalam periode 1988–1995, PT Martina Berto mengakuisisi sejumlah perusahaan, antara lain PT Kurnia Harapan Raya, PT Cempaka Belkosindo Indah, PT Cedefindo, PT Estrella Lab, dan PT Kreasi Boga.

Pengembangan bisnis didukung kegiatan riset melalui Martha Tilaar's Innovation Center (MTIC), yang dalam catatan biografi tersebut disebut memiliki 37 peneliti.

Selain Sariayu, kelompok usaha Martha Tilaar mengembangkan berbagai merek dan lini produk, di antaranya Caring, Belia, Rudy Hadisuwarsono Cosmetics, Biokos, Professional Artist Cosmetics (PAC), Aromatic, Jamu Garden, serta Dewi Sri Spa.

Baca Juga: KSAU Mutasi 11 Pejabat TNI AU, Ini Daftar Nama Perwira yang Berganti Jabatan

Portofolio tersebut memperlihatkan perluasan bisnis Martha dari salon kecantikan menjadi perusahaan yang bergerak di berbagai segmen, mulai dari kosmetik dekoratif hingga perawatan tubuh, spa, dan produk berbahan herbal.

Pada 1996, Martha Tilaar Group disebut memperoleh sertifikasi ISO 9001, ISO 14000, serta sertifikasi Good Manufacturing Practice (GMP) di Asia.

Pada 1999, Martha bersama keluarganya membeli seluruh saham PT Kalbe Farma yang masih berada di PT Martina Berto. Setelah transaksi tersebut, kepemilikan perusahaan beralih sepenuhnya kepada Martha dan keluarganya. Perusahaan kemudian dikonsolidasikan ke dalam Martha Tilaar Group.

Mengangkat Jamu dan Kekayaan Alam Indonesia

Salah satu ciri utama bisnis Martha adalah upayanya menggabungkan pengetahuan kecantikan modern dengan tradisi perawatan Nusantara.

Ia mengembangkan produk yang memanfaatkan bahan alami dan ramuan tradisional, sekaligus membangun riset untuk mendukung pengembangan kosmetik dan jamu.

Pengalaman pribadinya juga berkaitan dengan pemanfaatan jamu keluarga. Martha pernah mengalami kesulitan memperoleh keturunan setelah bertahun-tahun menikah. Dalam biografi yang diterbitkan sebelumnya, ia diceritakan mengonsumsi ramuan tradisional buatan neneknya.

Setelah lebih dari 11 tahun menikah, Martha akhirnya melahirkan anak pertamanya ketika berusia 42 tahun. Pengalaman tersebut menjadi bagian dari kisah di balik pengembangan Kaplet Wulandari, produk yang dikaitkan dengan resep jamu penyubur keluarga.

Kisah tersebut merupakan bagian dari perjalanan pribadinya dan tidak dapat dijadikan bukti bahwa jamu tertentu secara medis dapat mengatasi infertilitas.

Martha juga mengembangkan kegiatan yang berkaitan dengan pelestarian tradisi dan kesenian daerah. Ia mendirikan Prama Pratiwi Martha Gallery, usaha kerajinan di Sentolo, Yogyakarta, serta Kampoeng Djamoe Organik di Cikarang, Kabupaten Bekasi, Jawa Barat.

Pada 2014, ia meresmikan Roemah Martha Tilaar di Gombong, Jawa Tengah. Bangunan yang merupakan rumah masa kecilnya itu direnovasi dan ditata menyerupai museum sebagai bentuk kontribusi terhadap kota kelahirannya.

Baca Juga: Buntut Selingkuh! Kasatreskrim Polres Metro Jakarta Pusat AKBP Roby Heri Saputra Dicopot

Mendapat Pengakuan Internasional

Kontribusi Martha tidak hanya dikenal melalui produk kecantikan, tetapi juga dalam bidang pengembangan usaha dan tanggung jawab sosial.

Pada Juli 2002, Martha menerima penghargaan dari Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa Ban Ki-moon dalam UN Global Compact Leaders Summit di New York. Penghargaan tersebut berkaitan dengan penerapan prinsip-prinsip Global Compact dalam kegiatan perusahaan, termasuk hak asasi manusia, ketenagakerjaan, lingkungan, dan antikorupsi, serta kaitannya dengan Tujuan Pembangunan Milenium.

Sejumlah penghargaan lain juga pernah diterimanya. Pada 1987, Martha memperoleh American Gold Star Award for Quality serta Asia Award for The Quality dari Trade Leaders' Club di Madrid, Spanyol.

Pada Maret 1991, Puspita Martha Beauty memperoleh penghargaan nasional dari Departemen Pendidikan dan Kebudayaan sebagai sekolah model. Pada Desember tahun yang sama, Martha menerima Penghargaan Upakarti dari Presiden Republik Indonesia atas partisipasinya dalam pengembangan industri skala kecil.

Pada Desember 1992, ia menerima Sahwali Award dari Pusat Informasi dan Pengelolaan Lingkungan (PIPLI). Pada Mei 1993, ia memperoleh Tanda Kehormatan Satyalancana Pembangunan.

Penghargaan berikutnya meliputi Redmod-Indonesia Mode Development pada 1994 dan The Leading Women Entrepreneurs of the World Award dari Star Group, Monako, pada April 1999.

Baca Juga: Dua Anggota KKB Penikam Warga Sipil Makassar Ditangkap di Yahukimo, Satu Pelaku Tewas Ditembak

Pada Februari 2000, Martha menerima Prijadarshini Award dari International Federation of Women Entrepreneurs di New Delhi. Pada April tahun yang sama, namanya juga diabadikan pada spesies anggrek yang ditemukan di Kalimantan, yakni Coelogyne marthae, yang dikenal sebagai Anggrek Martha Tilaar. Ia juga memperoleh gelar Kanjeng Raden Ayu (KRAy) dari Mangkunegara IX, Keraton Solo.

Pada 2002, Martha Tilaar Group menerima Anugerah Teknologi Siddhakretya atas hasil karya terapan unggulan. Pada 2012, Martha memperoleh gelar Perekayasa Utama Kehormatan dari Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT).

Penghargaan tingkat nasional lainnya adalah Bintang Budaya Parama Dharma yang diberikan pemerintah Indonesia pada 2016.

Mendirikan Yayasan untuk Pemberdayaan Perempuan

Di luar kegiatan bisnis, Martha mendirikan Yayasan Martha Tilaar sebagai bagian dari kepeduliannya terhadap pendidikan dan pemberdayaan perempuan.

Melalui kegiatan yayasan, ia mendorong perempuan dan ibu rumah tangga mempelajari keterampilan kecantikan. Tujuannya bukan sekadar membantu mereka merawat diri, melainkan juga membuka kesempatan memperoleh keterampilan yang dapat digunakan untuk bekerja dan membangun usaha.

Program semacam ini dinilai relevan ketika krisis ekonomi menyebabkan pemutusan hubungan kerja dan mempersempit kesempatan kerja, termasuk bagi perempuan.

Dalam pandangannya, perempuan memiliki peran penting dalam kehidupan keluarga dan keutuhan bangsa. Karena itu, pendidikan serta keterampilan menjadi bagian yang ingin terus ia dorong.

Keluarga dan Riwayat Pendidikan

Martha menikah dengan Henry Alex Rudolf Tilaar pada 1963. Suaminya dikenal sebagai tokoh pendidikan Indonesia.

Pasangan tersebut memiliki empat anak, terdiri dari dua anak kandung, Wulan Maharani Tilaar dan Kilala Esra Tilaar, serta dua anak angkat, Bryan Emil Tilaar dan Pingkan Engeline Tilaar.

Riwayat pendidikan Martha mencakup SD St. Theresia di Jakarta pada 1949, SMP St. Theresia pada 1955, SMA St. Ursula pada 1957, serta IKIP Jakarta. Ia juga mengikuti kursus kecantikan di Jakarta pada 1961–1962 dan pendidikan kecantikan di Academy of Beauty Culture, Bloomington, Indiana, pada 1967–1969.

Selain pendidikan formal tersebut, Martha mengikuti berbagai kursus kecantikan di Bangkok, Hong Kong, Tokyo, London, Paris, dan New York sepanjang 1975–1984.

Baca Juga: Siapa Saja Penerima Bansos Bermasalah Rp2,2 Triliun? BPK Temukan ASN, Judol hingga Warga Meninggal

Kariernya meliputi guru sekolah dasar di Jakarta pada 1958–1961, dosen IKIP Jakarta pada 1961–1964, karyawan Campes Beauty Salon pada 1967–1969, Direktur Puspita Martha pada 1974–1978, serta berbagai jabatan pimpinan dan pengelolaan di perusahaan-perusahaan yang berkaitan dengan Martha Tilaar Group.

Dalam catatan biografinya, ia juga tercantum sebagai Presiden Direktur PT Martina Berto, Direktur Martha Salon, dan Direktur Utama PT Sari Ayu Martha Kosmetika Indonesia.

Kepergian Martha Tilaar meninggalkan perjalanan usaha yang berawal dari sebuah salon kecil, berkembang melalui produk Sariayu, dan meluas ke berbagai bidang kecantikan serta jamu.

Kiprahnya menjadi bagian dari sejarah pertumbuhan industri kosmetik lokal yang berusaha menempatkan bahan alami dan tradisi Indonesia sebagai salah satu kekuatan utama.

Editor : Uways Alqadrie
Martha Tilaar meninggal dunia Martha Tilaar Martha Tilaar group kosmetik Sariayu