KALTIMPOST.ID, SAMARINDA – Jacksen F Tiago mulai bergerak. Dirinya memantau perhelatan Piala Soeratin di sejumlah daerah di Kaltim. Jacksen menyempatkan hadir dalam opening ceremony Piala Soeratin U-13 Regional Kutai Kartanegara (Kukar) yang berlangsung di Stadion Rondong Demang, Tenggarong, 1 Juni 2025.
Direktur Teknik Asosiasi Provinsi (Asprov) PSSI Kaltim itu memberikan apresiasi terselenggaranya Piala Soeratin di Bumi Mulawarman. Eks pelatih Persipura tersebut menyebut, atmosfer sepak bola usia dini di Kukar cukup bagus. Animo dari pemain dan juga orangtua yang mendampingi dinilai luar biasa.
Kamis (12/6), giliran Samarinda yang disambangi. Agendanya sama, Piala Soeratin U-13. Dirinya mematau sejumlah pertandingan di Stadion Madya, Kompleks Gelora Kadrie Oening. Kebetulan di hari tersebut, Borneo FC U-13 berlaga. Seperti diketahui, Jacksen juga menjabat sebagai direktur Akademi Borneo FC Samarinda. Menurut pria asal Brasil tersebut, Piala Soeratin sebagai langkah awal yang sangat positif bagi perkembangan pesepak bola muda di Kaltim, khususnya Samarinda.
Ia menekankan pentingnya kontinuitas kompetisi setiap tahun. “Piala Soeratin menjadi langkah yang sangat bagus untuk perkembangan anak-anak Kaltim, saya berharap event seperti ini dibuat secara reguler setiap tahunnya,” katanya.
Menurutnya, Piala Soeratin menjadi salah satu ajang sinergi antara Asprov, Askot, para pelatih, dan stakeholder sepak bola di Kaltim. Termasuk para sponsor dan pemerintah, untuk menciptakan ekosistem pembinaan usia dini yang lebih kuat. Jacksen menyampaikan, pihaknya sedang menyusun kalender tahunan independen yang berfokus pada kelompok umur, di luar agenda resmi PSSI.
“Kami ingin membangun agenda tahunan yang mencakup seluruh kelompok umur, kerja sama antara Asprov dan Askot, menciptakan ruang tumbuh bagi anak-anak agar dalam 3 hingga 4 tahun ke depan mampu menembus timnas, terutama U-17 sebagai persiapan Piala Dunia yang akan diselenggarakan setiap dua tahun sekali,” jelasnya.
Jacksen juga mengapresiasi semangat para pelatih, orangtua, dan anak-anak sekolah sepak bola (SSB), yang sudah menunjukkan antusiasme tinggi. Namun, ia menegaskan bahwa semangat saja tidak cukup tanpa dukungan sistem yang berkelanjutan. Bakat bisa diasah dengan latihan intens, tapi itu membutuhkan kompetisi yang teratur.
“Tujuan utama saya membuat kalender kompetisi tahunan, agar anak-anak bisa bersaing dengan daerah lain yang sistem kompetisinya sudah berjalan dengan baik,” tegasnya. (*)
Editor : Ery Supriyadi