Utama Samarinda Balikpapan Kaltim IKN Nasional Olahraga Bisnis Lifestyle Opini Sosbis Hiburan Kesehatan

Prestasi Olahraga Jangan Sampai Terhambat Gara-Gara Dana

Raden Roro Mira Budi Asih • Sabtu, 13 September 2025 | 18:02 WIB
TANTANGAN: Saat ini baru Samarinda yang memiliki fasilitas lengkap, yakni gedung gulat seluas hampir 2 hektare di Loa Bakung. Tidak semua kabupaten/kota merasakan hal serupa.
TANTANGAN: Saat ini baru Samarinda yang memiliki fasilitas lengkap, yakni gedung gulat seluas hampir 2 hektare di Loa Bakung. Tidak semua kabupaten/kota merasakan hal serupa.

KALTIMPOST.ID, SAMARINDA – Dari luar, gulat mungkin terlihat sederhana. Matras, gerakan teknik, dan duel sengit di arena. Namun di balik itu, ada tantangan besar yang harus dihadapi. Mulai dari fasilitas, pendanaan, hingga dukungan swasta yang minim. Hal itulah yang dirasakan Rudiansyah, pelatih gulat Kaltim yang akrab disapa Keke.

Meski Samarinda sudah memiliki fasilitas lengkap, yakni gedung gulat sendiri seluas hampir 2 hektare di Loa Bakung, tidak semua kabupaten/kota merasakan hal serupa.

“Kendalanya di kabupaten/kota, makanya terpusat di Samarinda kegiatan. Menjadi kendala pemerintah untuk mengembangkan di kabupaten/kota, tidak semua kabupaten/kota memberikan (fasilitas memadai),” jelas Keke.

Dia mencontohkan, di Samarinda fasilitas tergolong lengkap dengan matras dan gedung memadai. Bahkan ada gedung pembinaan pula di GOR Sempaja. Tapi di daerah lain, anak-anak masih harus datang jauh ke Samarinda untuk berlatih serius.

Masalah lain adalah pendanaan. Gulat memang sudah mendapat dukungan pemerintah lewat hibah yang disalurkan melalui KONI (Komite Olahraga Nasional Indonesia). “Masalah dana, ini sudah dihibahkan dana ke KONI, sudah ada pos-posnya, pos misal untuk kejuaraan level nasional misal, dapat jatah ceritanya,” kata Keke.

Namun, menurutnya, hibah tetap terbatas karena harus dibagi dengan cabang olahraga lain. Dinas terkait diakuinya memang membantu untuk akademi, tetapi Keke menilai perlu ada tambahan skema kreatif agar pembinaan lebih optimal.

“Pemerintah dalam hal ini, melalui KONI, bisa mencarikan pihak ketiga, bisa membantu cabang olahraga, harus ada bapak angkat istilahnya. Selama ini kan hanya bergantung dari satu sumber,” tegasnya.

Diakui, sponsor swasta untuk gulat hampir tidak ada. Cabang olahraga itu diakuinya masih amatir, bukan profesional. Akibatnya, sebagian besar dukungan datang dari internal organisasi, bahkan dari ketua pengurus sendiri.

Keke memahami aturan hibah kini lebih ketat, karena harus akuntabel. “Tapi ada mekanisme, aturan yang dilengkapi KONI Kaltim, saya bukan membela pemerintah atau KONI, harus ada mekanisme, prosedur hibah itu lebih ketat sekarang,” ujarnya.

Meski begitu, semangat tak surut. Kejuaraan tetap digelar, atlet tetap ditempa, dan pembinaan terus dijalankan. Bagi Keke, prestasi jangan sampai terhambat hanya karena masalah anggaran. “Prestasi tetap harus dikejar, jangan karena anggaran prestasi terhambat,” tegasnya.

Kendala dana memang kerap jadi bayangan di balik setiap persiapan. Namun bagi Keke, menyerah bukan pilihan. Tetap mengasah teknik lewat pembinaan. Harapannya, gulat Kaltim bisa menemukan “bapak angkat” yang sanggup menopang. (*)

Editor : Nugroho Pandu Cahyo
#Pendanaan #tantangan #fasilitas #kaltim #gulat #olahraga