Menyamai raihan saat menjadi tuan rumah, 2008 lalu. Namun mimpi ini cukup sulit terwujud jika pemerintah tidak memberi dukungan anggaran yang mumpuni.
Ketersediaan anggaran dari pemerintah memang cukup penting. Mengingat hingga saat ini dukungan dari pihak swasta terhadap olahraga di Kaltim masih minim.
Tak jarang, ada anggapan bahwa ketua pengurus sebagai “bank berjalan”. Mereka harus memiliki kantong yang tebal untuk mendukung perkembangan dan regenerasi atlet.
Melihat kondisi ini, Ketua Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) Kaltim Rusdiansyah Aras tetap optimistis dan menyambut positif mimpi yang diutarakan gubernur.
Dia menegaskan, semua insan olahraga di kaltim harus terus bersemangat meraih prestasi tertinggi meski kondisi anggaran terbatas dan banyak efisiensi dilakukan.
“Target tiga besar itu harus kita jadikan motivasi. Apa yang diinginkan Pak Gubernur tentu kita dukung. Memang berat, tapi kita harus tetap optimistis,” ujar Rusdi, Jumat (13/9).
Dia menjelaskan, capaian Kaltim di PON XXI/2024 Aceh-Sumut sebenarnya cukup membanggakan. Perolehan medali meningkat 53 persen dibanding PON Papua 2021.
Total 154 medali berhasil dibawa pulang, terdiri atas 30 medali emas, 55 perak dan 69 perunggu. Membuat Kaltim finis di peringkat ke-8. Dari 659 atlet yang dikirim, 344 di antaranya sukses menyumbang medali.
Namun, tantangan besar menghadang di PON XXII/2028 NTB-NTT. Berdasarkan regulasi technical handbook (THB) terkait batas usia, hanya 20 persen dari atlet peraih medali yang masih bisa berlaga. Artinya, dari 344 atlet berprestasi, hanya tersisa 69 orang.
“Ini PR (pekerjaan rumah, Red) besar bagi kita. Regenerasi atlet harus segera dikebut. Karena itu saya wajibkan semua cabang olahraga (cabor) menggelar kejuaraan daerah (kejurda) junior setiap tahun. Dari situ lahir kaderisasi yang kelak disiapkan ke kejuaraan nasional junior, senior, hingga PON,” jelasnya.
Selain faktor usia atlet, jumlah penduduk Kaltim juga menjadi keterbatasan lain. Dengan populasi sekitar 2,7 juta jiwa, peluang mencari talenta lebih sempit dibanding provinsi besar.
“Kalau Jawa Barat punya 55 juta penduduk, mencari atlet lebih mudah. Ibaratnya, mereka bisa mendapatkan satu medali emas dari 600 ribu penduduk. Kita di Kaltim butuh sekitar 80 ribu orang untuk satu medali emas,” ujar Rusdi.
Meski begitu, ia menegaskan bahwa PON 2024 lalu menjadi bukti Kaltim mampu bersaing meski tanpa merekrut atau transfer atlet dari luar daerah. “Semua putra asli Kaltim. Itu jadi kebanggaan tersendiri,” tambahnya.
Soal anggaran, Rusdi tak menampik KONI sempat kesulitan. Bahkan ada cabor yang harus menalangi sendiri biaya mengikuti kejuaraan karena dana hibah belum cair. Namun, menurutnya, sebagian besar sudah diganti.
“Kalau laporan pertanggungjawaban mereka lengkap, pasti dibayarkan. Ini kan uang hibah, jadi tidak bisa sembarangan. Harus ada bukti tiket, akomodasi, konsumsi, semua diverifikasi. Hampir semua sudah lunas, tinggal satu cabor yang masih dalam proses,” tegasnya.
Rusdi menambahkan, indeks bantuan untuk cabor sudah jelas di KONI, misalnya akomodasi Rp 350 ribu per orang per hari ditambah biaya perjalanan. “Jadi semua terukur, tidak ada istilah pilih kasih,” katanya.
Meski begitu, Rusdi tetap yakin jalan menuju tiga besar PON 2028 bukan hal mustahil. “Jangan pesimistis. Hidup ini kalau pesimistis makin banyak susahnya. Kita bikin peta jalan, mana yang buntu, mana yang kurang, nanti kita diskusikan dengan Pak Gubernur. Intinya, KONI siap mencari win-win solution,” pungkasnya. (*)
Editor : Nugroho Pandu Cahyo