KALTIMPOST.ID, SAMARINDA— Kekhawatiran soal masa depan olahraga Kaltim kembali mengemuka. Isu regenerasi atlet mencuat seiring semakin dekatnya PON XXII/2028 Nusa Tenggara Kondisi ini membuat agenda pembinaan dinilai perlu dibenahi secara serius.
Titik perhatian tersebut mengemuka dalam Rapat Kerja Daerah (Rakerda) Pengprov POSSI Kaltim 2025. Agenda yang digelar Selasa (25/11) di Gedung Pramuka, Jalan M Yamin, Samarinda, itu menjadi ruang evaluasi sekaligus penyusunan program kerja 2026.
Di tengah forum itulah peringatan dilontarkan Ketua Harian KONI Kaltim Husinsyah. Ia menegaskan bahwa Kaltim menghadapi krisis atlet, terutama setelah banyak atlet selam yang tampil di PON XXI/2024 Aceh-Sumut tak lagi memenuhi batasan usia untuk kompetisi berikutnya.
“Dari atlet yang ikut PON Aceh-Sumut kemarin, yang tersisa hanya 30 persen. Kebanyakan sudah melewati batasan umur. Dua tahun lagi kemungkinan besar tidak bisa ikut,” ujarnya.
Menurut Husinsyah, situasi ini harus dijawab dengan pembinaan usia muda. Ia menyebut pembinaan perlu dimulai dari kelompok umur 14–20 tahun agar pada 2028 para atlet itu masuk usia emas bertanding.
“Mulailah menyiapkan atlet dari usia 14 sampai 20 tahun. Jangan sampai nanti kita kesulitan karena tidak ada pelapis,” tuturnya.
Ia juga meminta POSSI menyusun program kerja yang realistis. Tidak harus besar, tetapi terukur dan dapat dieksekusi dengan baik.
“Tidak perlu muluk-muluk. Yang penting bisa dilaksanakan dan hasilnya maksimal,” tegasnya.
Pada sisi regulasi usia, KONI Kaltim menetapkan batas maksimal 30 tahun untuk Babak Kualifikasi (BK) PON. Namun atlet yang lebih tua tetap dapat mengikuti seleksi selama kondisi fisik mereka memungkinkan.
Baca Juga: Prabowo Perintahkan Audit Rumah Sakit di Papua, Menyusul Kasus Ibu Hamil Meninggal Dunia
“Sepanjang masih sanggup, tetap bisa,” katanya.
Husinsyah juga menyoroti tantangan anggaran. Kebijakan pemerintah pusat membuat penyaluran hibah 2026 stagnan. Meski demikian, ia menekankan bahwa pembinaan atlet tidak boleh berhenti.
“Yang penting kegiatan atlet tidak berhenti. Kita ikuti kebijakan, tetapi pembinaan jangan sampai terputus,” ujarnya. (*)
Editor : Ery Supriyadi