KALTIMPOST.ID, SAMARINDA — Persatuan Boling Indonesia (PBI) Kalimantan Timur tancap gas menyiapkan pembinaan menuju musim kompetisi 2026. Fokus utama diarahkan pada penguatan sistem liga daerah sebagai fondasi prestasi jangka panjang.
Skema liga dinilai menjadi kunci menjaga konsistensi pembinaan sekaligus mencetak atlet muda yang berdaya saing. Melalui kompetisi berkelanjutan, proses pembinaan diharapkan berjalan terukur dan tidak bersifat instan.
Ketua Umum PBI Kaltim, Rusman Ya’qub, menegaskan liga berjenjang akan menjadi tulang punggung pembinaan ke depan. Hal itu disampaikannya di sela Rapat Kerja Provinsi PBI Kaltim, Ahad (4/1/2026).
Baca Juga: Kualitas Kunjungan Wisatawan ke Balikpapan Meningkat, Ada Apa?
“Boling ini olahraga terukur. Dua minggu tidak latihan saja langsung kelihatan. Karena itu, pembinaan tidak bisa instan. Liganya harus berjalan terus,” ujar Rusman.
PBI Kaltim mendorong setiap kabupaten dan kota menggelar liga secara rutin. Minimal sebulan sekali, bahkan bisa mingguan sesuai kondisi daerah masing-masing.
Ke depan, hasil liga akan menjadi acuan utama pemeringkatan atlet. Proses rekrutmen tidak lagi bergantung pada seleksi sesaat, melainkan berdasarkan konsistensi performa sepanjang musim.
Baca Juga: Kasus Korupsi Jamrek CV Arjuna: Empat Direksi Dihadirkan, Inisiator Pencairan Masih Misteri
“Penilaian atlet dilihat dari konsistensi di liga, performa pertandingan, hingga rekam jejak turnamen. Seleksi hanya dilakukan jika indikatornya setara,” jelasnya.
Atlet terbaik dari liga daerah selanjutnya dipertemukan di tingkat provinsi. Setiap daerah mengirimkan 10 hingga 20 atlet terbaik untuk membangun kompetisi sehat sekaligus memetakan potensi secara objektif.
Saat ini, pembinaan PBI Kaltim ditopang tiga bowling center di Balikpapan, Samarinda, dan Bontang. Daerah yang belum memiliki venue diarahkan bergabung ke kota terdekat.
“Atlet PPU bisa ikut liga di Balikpapan, Kutim ke Bontang, Kukar ke Samarinda. Yang penting atlet tetap terpantau dan kompetisinya jalan,” kata Rusman.
PBI Kaltim juga membuka ruang seluas-luasnya bagi semua kalangan tanpa batasan usia. Pembinaan dapat dimulai dengan membentuk klub boling yang berafiliasi ke pengurus kabupaten/kota, minimal beranggotakan 10 orang.
“Boling tidak mengenal batas usia. Semua bisa bergabung, yang penting ada klub dan pembinaan berjalan,” tegasnya.
Baca Juga: HUT ke-38 Kaltim Post Teguhkan Peran Media Arus Utama di Kalimantan Timur
Terkait pengembangan sarana, Rusman mengingatkan pemerintah daerah agar berhitung matang sebelum membangun venue baru. Keberlanjutan pascakegiatan dinilai krusial mengingat olahraga boling membutuhkan biaya operasional tinggi.
“Silakan bangun venue, tetapi harus dihitung keberlanjutannya. Jangan sampai investasinya besar, tapi tidak berjalan karena minim peminat,” pungkasnya. (*)
Editor : Ery Supriyadi