KALTIMPOST.ID, SAMARINDA - Federasi Panjat Tebing Indonesia (FPTI) Kaltim mulai mematangkan program pelatihan sekaligus sertifikasi untuk pelatih panjat tebing. Program ini digulirkan untuk memperkuat pembinaan atlet, seiring meningkatnya antusiasme masyarakat terhadap olahraga ini di Samarinda dan daerah lain di Kaltim.
Ketua Umum FPTI Kaltim, Elly Luchritia Nova, menyatakan jumlah atlet dan pelatih panjat tebing di daerah masih terbatas. Kondisi ini menjadi perhatian serius untuk mendukung pertumbuhan olahraga panjat tebing.
“Kalau saya tanya ke kabupaten dan kota, itu atletnya sedikit-sedikit, pelatih juga sedikit. Nah, dengan kondisi seperti ini, ke depan kita memang harus meningkatkan jumlah pelatih,” ujar Elly.
Elly menilai keberadaan wall panjat speed dan lead berstandar internasional menjadi momentum penting untuk memperkuat pembinaan secara menyeluruh, tidak hanya bagi atlet tetapi juga bagi sumber daya pelatih.
“Wall ini kan ibaratnya wall baru, sudah standar internasional. Tapi kalau kita mau melangkah ke event nasional sampai internasional, pembinaannya juga harus siap, termasuk pelatihnya,” tambahnya.
FPTI Kaltim kini mendorong para pelatih mengikuti pelatihan hingga mendapatkan sertifikasi resmi. Langkah ini diharapkan meningkatkan kualitas pembinaan di klub-klub panjat tebing di seluruh Kaltim.
Baca Juga: Penutupan IHSG 3 Februari: Melonjak 199 Poin, Seluruh Sektor Hijau dan Transaksi Tembus Rp28 Triliun
“Kita dorong pelatih-pelatih ini supaya ikut pelatihan, ikut sertifikasi. Jadi pembinaan atletnya nanti bisa lebih maksimal,” ucap Elly.
Selain pelatihan pelatih, FPTI Kaltim juga membuka peluang penyelenggaraan kursus panjat tebing bagi masyarakat umum. Kursus ini tidak hanya mengenalkan olahraga, tetapi juga dapat mendukung keberlangsungan pelatih dan klub.
“Saya malah bilang, dengan banyaknya orang yang tertarik, kenapa enggak kita buka kursus. Itu kan bisa jadi pemasukan juga buat pelatih dan teman-teman, dan bermanfaat buat masyarakat yang ingin mencoba,” jelas Elly.
Elly menambahkan, antusiasme masyarakat kini tidak lagi terbatas pada komunitas tertentu, seperti Mapala. Dengan meningkatnya minat, kesiapan pelatih menjadi faktor penting agar pembinaan dapat berjalan berkelanjutan.
“Sekarang yang tertarik ini sudah dari berbagai kalangan. Jadi kalau peminatnya naik, pelatihnya juga harus siap,” pungkasnya. (*)
Editor : Ery Supriyadi