SAMARINDA - Federasi Panjat Tebing Indonesia (FPTI) Penajam Paser Utara (PPU) memang belum mampu bicara banyak di Kejuaraan Provinsi (Kejurprov) Kelompok Umur Panjat Tebing Kaltim 2026. Dari 11 atlet yang diturunkan di Venue Sport Climbing GOR Kadrie Oening, Samarinda, PPU pulang tanpa medali.
Namun bagi FPTI PPU, hasil itu bukan kejutan. Sebab mereka datang tanpa target, karena pembinaan baru berjalan, atlet masih merintis, dan hingga hari ini PPU belum memiliki venue panjat tebing sama sekali.
“Enggak ada target, karena kami memang belum punya fasilitas. Yang penting anak-anak ikut dulu, dapat pengalaman, nambah jam terbang,” ujar Ketua FPTI PPU, Abdu Cholik.
Baca Juga: Kutim Lampaui Target di Kejurprov, Pembinaan Matang Jadi Kunci Dominasi Panjat Tebing
Di saat daerah lain sudah bertumpu pada sport climbing center dan sarana latihan representatif, atlet PPU justru tumbuh dari keterbatasan. Mereka berlatih boulder sederhana menggunakan papan triplek rakitan di rumah.
“Belum ada sama sekali venue di PPU. Latihannya bolderan saja, pakai multiplek di rumah,” katanya.
Kondisi itu membuat PPU praktis bertarung dengan modal seadanya. Untuk merasakan latihan di fasilitas yang lebih layak, atlet bahkan harus menyeberang ke Balikpapan, itu pun hanya sesekali karena terbentur biaya.
“Paling dua minggu sekali ke Balikpapan, karena anggaran juga terbatas,” ungkapnya.
Baca Juga: Pemkab PPU Kolaborasi dengan UGM Uji Coba Padi "Amfibi" Gamagora di Desa Sidorejo
Meski minim fasilitas, Abdu melihat bibit atlet PPU sebenarnya sudah mulai tumbuh. Dari total sekitar 10 atlet aktif yang baru dibina kembali sejak tahun lalu, dua di antaranya bahkan baru berusia sembilan tahun dan sudah turun di kategori under 11.
“Bibitnya sudah ada. Motivasi mereka juga ada. Nah, ini yang harus diperjuangkan,” tegasnya.
Sebanyak tiga klub kini mulai bergerak di PPU, meski pembinaan masih sangat awal. Karena itu, Kejurprov tahun ini lebih diposisikan sebagai panggung belajar ketimbang perburuan medali.
“Apapun hasilnya, ini pengalaman. Yang penting anak-anak punya motivasi untuk jadi lebih baik,” katanya.
“Hasil ini kelihatan, yang punya fasilitas lengkap memang dominan,” sambungnya.
FPTI PPU mengaku hampir setiap tahun mengusulkan pembangunan venue melalui KONI Penajam, tetapi hingga kini belum juga terealisasi.
Padahal, tanpa dukungan sarana yang memadai, motivasi atlet muda dikhawatirkan bisa padam sebelum berkembang. “Takutnya sekarang anak-anak sudah semangat, tapi kalau tidak diperjuangkan, bisa hilang,” pungkasnya. (*)
Editor : Sukri Sikki