Utama Samarinda Balikpapan Kaltim Nasional Piala Dunia 2026 Olahraga Bisnis Lifestyle Opini Sosbis Hiburan

Porprov Paser 2026 Dibayangi Krisis Fasilitas, FPTI Kejar Persiapan Venue Panjat Tebing

Nasya Rahaya • Selasa, 19 Mei 2026 | 13:25 WIB
TUAN RUMAH: Kondisi papan panjat dinding di Kabupaten Paser.
TUAN RUMAH: Kondisi papan panjat dinding di Kabupaten Paser.

KALTIMPOST.ID, SAMARINDA – Menjadi tuan rumah Porprov Paser 2026 ternyata tak otomatis membuat semuanya siap. Karena diberi target besar menyukseskan pesta olahraga, Federasi Panjat Tebing (FPTI) Paser saat ini berpacu dengan waktu, anggaran, dan keterbatasan sarana untuk memastikan cabang panjat tebing benar-benar layak digelar di Paser.

Sekretaris Umum FPTI Paser, Indah Saraswati, mengungkapkan hingga kini kesiapan venue panjat tebing masih belum sepenuhnya tuntas. Struktur dasar untuk dinding memang mulai terlihat, tetapi banyak kebutuhan teknis dan perlengkapan inti masih jauh dari aman.

“Kalau fasilitas dinding terpenuhi sesuai janji, mungkin bisa. Tapi untuk peralatan teknis di lapangan, perlengkapan khusus, sampai personel, anggarannya belum tentu mencukupi,” ujarnya.

Baca Juga: Ditunjuk Jadi Tuan Rumah Kejurda 2028, PPU Didesak Segera Bangun Venue Panjat Tebing

Masalahnya bukan sekadar membangun dinding panjat. Untuk menggelar pertandingan setingkat Porprov, FPTI Paser juga harus menyiapkan matras standar, perlengkapan teknis, alat keselamatan, hingga mendatangkan puluhan personel dari luar daerah.

“Matras sesuai standar saja kami belum punya. Jadi kalau tidak beli, ya terpaksa sewa,” katanya.

Opsi sewa pun bukan perkara sederhana. Selain biaya peralatan, panitia harus memikirkan transportasi, akomodasi, dan mobilisasi puluhan tenaga teknis dari luar Paser. Dalam hitungannya, sedikitnya sekitar 70 personel perlu disiapkan, terdiri dari tenaga luar daerah dan lokal.

Di sisi lain, pengajuan anggaran yang diajukan kerap jauh dari realisasi. Menurut Indah, proposal kebutuhan hampir selalu terpangkas drastis.

Baca Juga: PPU Pulang Tanpa Medali: Atlet Berlatih di Papan Triplek dan Venue Panjat Tebing Masih Sekadar Usulan  

“Misal yang kami ajukan 100 persen, tapi yang dikabulkan kadang hanya sekitar 20 persen,” ungkapnya.

Situasi itu membuat FPTI Paser berada dalam posisi dilematis. Sebagai tuan rumah, mereka dituntut siap. Namun di lapangan, realisasi kebutuhan masih penuh ketidakpastian.

“Kadang optimistis karena pemerintah bilang September siap. Tapi karena waktu tinggal beberapa bulan, rasa pesimis itu muncul lagi,” katanya.

Keraguan tersebut bukan tanpa alasan. Jika venue tak benar-benar siap, bukan tak mungkin pertandingan harus dialihkan ke Samarinda atau Balikpapan. Skenario itu jelas menjadi pukulan bagi Paser yang tengah berupaya membangun gairah panjat tebing lokal.

“Kalau sampai tidak jadi di Paser, sayang sekali. Padahal ini momentum cari peminat atlet baru,” ujarnya.

Persoalan lain muncul dari sisi atlet. Regenerasi panjat tebing Paser masih belum stabil. Banyak atlet lama keluar karena usia, kuliah, atau keterbatasan pembinaan, sehingga tim harus berulang kali memulai dari nol.

Pada babak kualifikasi sebelumnya di Sangatta, FPTI Paser membawa sekitar 20 atlet. Namun seiring waktu, jumlah itu menyusut hingga separuh dan memaksa pengurus mencari atlet baru demi memenuhi kuota.

“Jadi kami ini seperti mulai nol lagi. Atlet berubah terus, regenerasi belum stabil,” jelasnya.

Meski begitu, Paser masih melihat secercah harapan. Di Kejurprov, atlet mereka sudah mampu menembus empat besar, meski belum cukup kuat di final.

Bagi FPTI Paser, menjadi tuan rumah bukan hanya soal sukses penyelenggaraan, tetapi juga kesempatan membangun fondasi baru panjat tebing daerah. Karena itu, mereka berharap pemerintah tak hanya fokus pada pembangunan fisik venue, tetapi juga kesiapan peralatan, tenaga teknis, dan pembinaan atlet. (*)

Editor : Duito Susanto
#venue panjat tebing #fpti paser #keterbatasan fasilitas #Federasi Panjat Tebing Indonesia #Porprov Paser