SAMARINDA – Nama Rizky Sholeh Akbar kian diperhitungkan sebagai salah satu talenta terbaik panjat tebing Kalimantan Timur. Atlet asal Kutai Timur itu kembali membuktikan kualitasnya setelah meraih medali emas nomor lead dan medali perak nomor boulder pada Kejuaraan Nasional (Kejurnas) Panjat Tebing Kelompok Umur XX FPTI 2026 di Jakarta.
Prestasi di level nasional tersebut melanjutkan performa impresifnya di Kejuaraan Provinsi (Kejurprov) KU FPTI Kaltim 2026. Pada ajang itu, siswa SMK Hasanuddin Sangatta tersebut sukses menyapu bersih tiga medali emas di nomor lead, speed, dan boulder kategori U-17 putra.
Rizky mengaku memang memasang target tinggi sejak awal mengikuti Kejurprov. Tiga nomor yang diikutinya dibidik untuk berbuah medali emas sebagai bagian dari persiapan menghadapi Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) VIII Kaltim di Kabupaten Paser.
"Memang target pribadi saya dapat emas di semua nomor yang saya ikuti. Alhamdulillah bisa tercapai," ujarnya.
Remaja berusia 16 tahun itu mengenal olahraga panjat tebing sejak berusia enam tahun. Ketertarikannya muncul setelah sering melihat para atlet senior berlatih hingga akhirnya memutuskan untuk ikut menekuni cabang olahraga tersebut.
"Pengen saja. Dulu sering lihat atlet-atlet senior latihan, jadi tertarik ikut," katanya.
Baca Juga: Porprov Paser 2026 Dibayangi Krisis Fasilitas, FPTI Kejar Persiapan Venue Panjat Tebing
Saat itu Rizky masih tinggal di Bontang sebelum kemudian menetap di Sangatta, Kutai Timur. Kini, ia menjadi salah satu atlet andalan FPTI Kutai Timur di kelompok umur.
Untuk menjaga performa, Rizky menjalani latihan hampir setiap hari. Dalam sepekan, ia hanya beristirahat pada Senin dan Kamis. Sepulang sekolah, ia langsung menuju tempat latihan hingga sekitar pukul 19.00 Wita.
Menurutnya, program latihan yang dijalani saat ini difokuskan untuk menghadapi Porprov VIII Kaltim, sedangkan Kejurprov menjadi tolok ukur perkembangan hasil latihan.
"Latihan ini sebenarnya lebih untuk persiapan Porprov. Targetnya tentu ingin jadi yang terbaik," ucapnya.
Di balik kesibukannya sebagai atlet, Rizky tetap menjaga prestasi akademik. Ia bercita-cita menjadi seorang dokter dan berusaha membagi waktu antara sekolah dengan latihan.
"Pagi sekolah. Pulang istirahat sebentar, ganti baju, lalu latihan sampai malam. Kalau ada tugas, dikerjakan setelah latihan," tuturnya.
Dukungan keluarga menjadi motivasi terbesar bagi Rizky. Anak sulung dari dua bersaudara itu mengatakan kedua orang tuanya selalu mendukung pilihannya menekuni panjat tebing.
Ia pun memanfaatkan bonus dari berbagai kejuaraan untuk menunjang kariernya. Sebagian digunakan membeli perlengkapan latihan, sedangkan sisanya ditabung melalui orang tuanya.
"Biasanya buat beli sepatu atau perlengkapan latihan. Sebagian lagi saya kasih ke orang tua untuk ditabung," pungkasnya.
Editor : Muhammad Ridhuan