KALTIMPOST.ID-Keberhasilan mencetak pesepak bola berkualitas tidak hanya ditentukan oleh bakat yang dimiliki pemain.
Kompetensi pelatih dinilai menjadi faktor penting dalam membangun pembinaan yang berkelanjutan, terutama pada kelompok usia dini yang menjadi fondasi lahirnya atlet profesional.
Pandangan tersebut disampaikan instruktur sekaligus mantan pemain Persiba Balikpapan, Amir Yusuf Pohan saat menjadi narasumber dalam coaching clinic yang digelar Sekolah Sepak Bola (SSB) Kukayu di Lapangan Sebaru, Balikpapan belum lama ini.
Menurutnya, peningkatan kualitas pemain harus dimulai dari peningkatan kapasitas para pelatih yang membina mereka setiap hari.
Amir menegaskan, pelatih memiliki peran strategis dalam membentuk kemampuan teknis, taktik, hingga karakter pemain.
Karena itu, pembinaan tidak akan berjalan optimal apabila pelatih tidak terus memperbarui pengetahuan dan metode kepelatihannya.
“Yang pertama harus ditingkatkan adalah kualitas pelatih. Pelatih harus punya ilmu karena dari pelatih nantinya akan lahir pemain-pemain yang berkualitas,” ujarnya.
Ia menjelaskan, tugas pelatih tidak sebatas mendampingi pemain saat latihan berlangsung.
Seorang pelatih juga harus mampu menyusun program latihan yang sesuai dengan kebutuhan dan perkembangan masing-masing pemain sehingga proses pembinaan dapat berlangsung secara bertahap dan terarah.
“Seorang pelatih harus memberikan program untuk anak didiknya sesuai dengan apa yang perlu ditingkatkan,” katanya.
Menurut Amir, perkembangan ilmu sepak bola berlangsung sangat cepat. Karena itu, pelatih perlu aktif mengikuti kursus, lisensi, maupun pendidikan kepelatihan agar metode latihan yang diterapkan selalu relevan dengan perkembangan sepak bola modern.
Baca Juga: Nobar Final Piala Dunia 2026 di Polresta Balikpapan Dongkrak Omzet UMKM, Pedagang Raup Jutaan Rupiah
“Harapan kami pelatih-pelatih di Balikpapan mau kursus, mau belajar, supaya terbentuk kualitas pemain yang kita harapkan,” tuturnya.
Selain menyoroti peran pelatih, Amir menilai Balikpapan memiliki banyak pemain muda yang berpotensi berkembang menjadi pesepak bola berkualitas.
Namun, potensi tersebut harus diimbangi dengan disiplin, kemauan belajar, dan kesungguhan dalam menjalani setiap proses latihan. “Kalau untuk potensi ada, tinggal keseriusan anak-anak itu lagi,” ucapnya.
Melalui coaching clinic tersebut, peserta tidak hanya memperoleh pembekalan mengenai teknik dasar sepak bola, tetapi juga pemahaman tentang pentingnya sistem pembinaan yang terintegrasi.
Kolaborasi antara pelatih yang kompeten, program latihan yang terukur, dukungan lingkungan pembinaan, serta komitmen pemain dinilai menjadi faktor utama dalam mencetak atlet berprestasi.
Amir berharap kegiatan serupa dapat terus digelar sebagai bagian dari upaya meningkatkan kualitas pembinaan sepak bola usia dini di Balikpapan.
Dengan peningkatan kapasitas pelatih yang berkelanjutan, peluang lahirnya pesepak bola asal Balikpapan yang mampu bersaing di level nasional hingga profesional diharapkan semakin besar. (rd)
Editor : Romdani.