Mulanya Samarinda, Budi Bakti Chess Cup Kini Rangkul Pelajar Se-Kaltim

Nasya Rahaya • Dipublikasikan Minggu, 23 Agustus 2026 | 19:21 WIB
Seratus pelajar dari berbagai daerah di Kaltim bersaing dalam Budi Bakti Chess Cup 2026 di Samarinda. (NASYA RAHAYA/KALTIM POST)
Seratus pelajar dari berbagai daerah di Kaltim bersaing dalam Budi Bakti Chess Cup 2026 di Samarinda. (NASYA RAHAYA/KALTIM POST)

 

KALTIMPOST.ID, SAMARINDA – Antusiasme pelajar membuat turnamen catur yang awalnya hanya digelar di level Samarinda berkembang menjadi ajang se-Kalimantan Timur. Budi Bakti Chess Cup 2026 yang sebelumnya menyasar pelajar Kota Tepian, tahun ini diikuti 100 peserta dari sejumlah daerah.

Padahal, panitia awalnya hanya membuka kuota untuk 70 peserta. Namun, permintaan dari luar Samarinda terus berdatangan. Setelah berkoordinasi dengan pengelola venue, kapasitas pertandingan akhirnya ditambah.

Peserta yang ambil bagian berasal dari Samarinda, Balikpapan, Kutai Kartanegara (Kukar), hingga Kutai Timur (Kutim). Mereka bertanding di Atrium Mall City Centrum Samarinda, Minggu (23/8).

Baca Juga: Syukur yang Jujur, Muhasabah yang Kritis, dan Semangat Berkemajuan

Penanggung Jawab Budi Bakti Chess Cup 2026, Rabbi Julianti, mengatakan perluasan cakupan peserta menjadi pembeda utama gelaran tahun ini. Sebab, dua penyelenggaraan sebelumnya pada 2023 dan 2024 masih terbatas untuk pelajar se-Kota Samarinda.

“Kalau yang di tahun 2023-2024 hanya se-Kota Samarinda. Nah, di tahun 2026 ini kita mengundang kegiatan ini untuk se-Kalimantan Timur,” kata Rabbi.

Tingginya minat peserta membuat jumlah yang bertanding melampaui target awal. Panitia akhirnya menambah 30 slot setelah mendapat kepastian tambahan ruang dari pihak venue.

“Awalnya kami hanya buka 70 peserta, kemudian karena banyaknya permintaan, khususnya dari luar daerah, mau berpartisipasi dan setelah berkoordinasi dengan pihak venue, mereka bisa menyediakan tempat lebih, jadi tahun ini kita banyak banget nih, sampai 100 peserta,” ujarnya.

Empat kategori dipertandingkan dalam turnamen tersebut, yakni SD putra, SD putri, SMP gabungan putra-putri, serta SMA gabungan putra-putri. Seluruh pertandingan menggunakan format catur cepat dengan durasi 10 menit.

Usia peserta pun cukup beragam. Mulai siswa kelas I SD yang rata-rata berusia 6–7 tahun hingga pelajar SMA sekitar 17 tahun.

Baca Juga: Antrean SPBU di PPU Bikin Jalan Menyempit, Pemkab Siapkan Penertiban

Bagi Sekolah Budi Bakti, tingginya minat terhadap catur bukan hal baru. Olahraga tersebut menjadi salah satu ekstrakurikuler yang banyak diminati siswa. Dari lebih dari 33 kegiatan ekstrakurikuler yang tersedia, catur menjadi salah satu yang mendapat perhatian.

Saat ini, kurang lebih 30 siswa mengikuti ekstrakurikuler catur di Budi Bakti. Pembinaan dilakukan melalui kegiatan wajib dan pilihan. Siswa yang sudah memiliki kemampuan dan ingin berlatih lebih dalam dapat mengikuti kelas pilihan.

Pembinaan tersebut juga telah menghasilkan sejumlah atlet yang mampu melangkah ke level lebih tinggi. Rabbi menyebut beberapa siswa Budi Bakti telah tampil pada kejuaraan nasional hingga internasional.

“Bahkan sampai sekarang itu sudah melahirkan banyak-banyak atlet catur yang sudah berlaga hingga ke kejuaraan nasional, bahkan sudah ada yang sampai ke internasional juga mereka bermain,” ungkapnya.

Turnamen ini sekaligus menjadi cara Budi Bakti melihat potensi di luar sekolah. Dari penyelenggaraan sebelumnya, panitia menemukan bahwa sekolah lain juga memiliki pelajar dengan kemampuan catur yang cukup menjanjikan.

“Dan ternyata setelah kami adakan turnamen, terbukti sekolah lain juga banyak ternyata talenta-talenta yang bisa bermain catur,” ujar Rabbi.

Karena itu, Budi Bakti Chess Cup 2026 tak hanya menjadi agenda kompetisi tahunan. Perluasan peserta ke tingkat Kaltim memberi kesempatan bagi pelajar dari berbagai daerah untuk saling mengukur kemampuan sekaligus membuka peluang menemukan bibit baru catur daerah. (*)

Editor : Ery Supriyadi
Budi Bakti Chess Cup 2026 catur pelajar Rabbi Julianti catur Kaltim samarinda