Bukan tanpa alasan. Regulasi baru membuat atlet yang sudah mengoleksi emas PON tak diperbolehkan turun di Porprov. Yuwanita, yang meraih emas pada PON Papua dan PON Sumut, pun masuk dalam kelompok atlet senior yang diarahkan ke Kejurnas Indoor sebagai bagian dari persiapan menuju Babak Kualifikasi (BK) PON.
Ada konsekuensi lain. Yuwanita bukan spesialis indoor. Selama ini, ia lebih banyak bermain di nomor outdoor. Kejurnas di GOR Nambo, Kota Tangerang, Banten, pada 21–30 Agustus nanti menjadi debutnya di nomor tersebut.
“Ini kita coba lagi buat Kejurnas Indoor karena untuk persiapan BK PON. Kami yang senior enggak ada event karena untuk Porprov kita enggak bisa main,” kata Yuwanita, Senin (24/8).
Maka, sekitar dua bulan terakhir, latihan Yuwanita tak lagi hanya berkutat pada nomor yang sudah 12 tahun digelutinya. Selain tetap menjalani latihan fisik dan teknik outdoor di Sempaja, ia mulai beradaptasi dengan permainan indoor di Lapangan Lucky Futsal, kawasan Perjuangan.
Perubahannya cukup terasa. Indoor, kata Yuwanita, lebih banyak mengandalkan teknik. Karakter permainan juga berbeda karena bola tidak boleh naik seperti pada outdoor. Ia harus menyesuaikan kembali cara bermain yang selama ini sudah terbentuk.
“Kalau dari segi permainan tuh lebih ke teknik ya, karena kalau di indoor itu tekniknya lebih banyak, itu pelanggarannya. Hal yang enggak boleh dilakukan di outdoor itu di indoor itu banyak dilakukan di outdoor, jadi lebih ekstrem kalau di outdoor,” ujarnya.
Meski nomor baru, Yuwanita tak datang ke Banten tanpa modal. Pengalaman menjadi salah satu pemain senior Kaltim membuatnya cukup percaya diri menghadapi persaingan.
“Saya sendiri optimis. Meskipun ini bukan nomor yang biasa saya tanding, saya tetap optimis,” katanya.
Kejurnas kali ini memang menjadi ruang bagi pemain senior dan junior untuk tetap mendapatkan pertandingan. Komposisi skuad kembali memadukan pemain berpengalaman dengan atlet muda, termasuk sejumlah pemain kelahiran 2007.
Bagi Yuwanita, situasi tersebut bukan hal baru. Komposisi serupa sudah diterapkan ketika Kaltim tampil di PON Sumut. Bedanya, kini ia harus menjalani kompetisi di nomor yang belum pernah menjadi fokus utamanya.
Padahal, perjalanan Yuwanita di hoki sudah cukup panjang. Ia mulai membela Kaltim sejak 2014. Sejumlah panggung besar kemudian dilewatinya, dari PON Jawa Barat 2016, SEA Games Malaysia, Asian Games Jakarta-Palembang, PON Papua, SEA Games Kamboja hingga PON Sumut.
Catatannya di PON bahkan cukup mentereng. Perunggu diraih di Jawa Barat, sebelum dua emas berturut-turut didapat di Papua dan Sumut. Di SEA Games Kamboja, ia juga membawa pulang perunggu.
Kariernya sempat terhenti ketika menjalani kehamilan dan melahirkan. Sekitar empat bulan setelah kembali bergabung latihan, ia sudah mulai berlatih lagi saat usia anaknya baru enam bulan.
Kini, memasuki usia 29 tahun, tantangan Yuwanita datang dari sesuatu yang berbeda. Bukan sekadar menjaga kondisi setelah bertahun-tahun menjadi atlet, melainkan beradaptasi dengan nomor yang selama ini bukan pilihannya.
“Kalau saya sih tantangannya ya karena ini bukan nomor yang saya ambil sebelumnya, nomor tandingnya ya. Sisanya sih sama aja,” ucapnya.
Kejurnas Banten pun menjadi lebih dari sekadar pengisi agenda kompetisi. Bagi Yuwanita dan para senior Kaltim lainnya, turnamen itu menjadi jalan untuk tetap bertanding setelah pintu Porprov tertutup sekaligus mengukur kesiapan sebelum menghadapi persaingan menuju BK PON. (*)
Editor : Ismet Rifani