KALTIMPOST.ID, SAMARINDA — Pengurus Kota Persatuan Gulat Seluruh Indonesia (PGSI) Samarinda memiliki stok atlet yang cukup melimpah untuk menjaga dominasi di arena gulat Kaltim. Lebih dari 100 pegulat kini berada dalam pembinaan. Namun, jumlah tersebut tak lantas membuat seluruhnya mendapat tempat di ajang multi-event.
PGSI Samarinda akan melakukan seleksi ketat dengan mengerucutkan atlet yang dinilai memiliki peluang masuk zona medali. Langkah itu menjadi bagian dari strategi mempertahankan Samarinda sebagai tolok ukur utama pembinaan gulat di Kaltim.
Ketua Pengkot PGSI Samarinda, Nur Zaid mengatakan, pembinaan gulat Samarinda selama ini masih menjadi pusat rujukan bagi sejumlah daerah di Kaltim. Bahkan, kiprahnya telah menembus level nasional.
Baca Juga: Raperda Pariwisata Samarinda Dikaji Ulang, Disesuaikan dengan Perkembangan Terkini
“Gulat Samarinda bukan hanya tolok ukur secara provinsi, tapi sudah merupakan tolok ukur secara nasional. Banyak atlet-atlet yang memperkuat Indonesia di ajang-ajang internasional masih mayoritas dari Kalimantan Timur, khususnya Kota Samarinda,” kata Nur Zaid.
Dengan jumlah atlet yang tercatat lebih dari 100 orang, PGSI Samarinda tak ingin sekadar mengejar kuantitas. Seleksi dilakukan untuk memastikan atlet yang diproyeksikan tampil merupakan pegulat dengan potensi terbaik di masing-masing nomor.
“Kita seleksi, kita degradasi-degradasikan. Jadi zona medali,” ujarnya.
Menurut Nur Zaid, kebutuhan atlet dalam cabang gulat cukup besar karena nomor pertandingan yang tersedia juga banyak. Jika setiap nomor diisi beberapa atlet, jumlah keseluruhan memang bisa menembus angka 100.
Karena itu, proses seleksi menjadi penting untuk menentukan siapa yang benar-benar layak diproyeksikan menghadapi persaingan di level multi-event.
Di sisi lain, PGSI Samarinda tetap mempertahankan target prestasi yang selama ini menjadi patokan. Pada setiap penyelenggaraan Pekan Olahraga Provinsi (Porprov), Samarinda ditargetkan menjadi juara umum cabang olahraga gulat.
Baca Juga: Chelsea Menang 2-0 atas Luton Town di Piala Carabao, Danny Welbeck Cetak Gol pada Debut
“Target kita untuk setiap perhelatan multi-event Porprov, Samarinda selalu menargetkan sebagai juara umum di cabang olahraga gulat,” tegasnya.
Untuk menjaga keberlanjutan prestasi tersebut, Nur Zaid juga mendorong pola regenerasi yang tidak hanya mengandalkan tradisi keluarga atau atlet yang tumbuh dari lingkungan gulat. Penjaringan mulai diarahkan kepada anak-anak usia dini, terutama pelajar tingkat SMP.
Ia membayangkan, jika setiap SMP di Samarinda mampu menghasilkan sedikitnya lima atlet yang berlatih gulat, basis atlet yang terbentuk akan jauh lebih besar.
“Kalau bisa minimal dari SLTP. Bayangkan kalau misalnya hampir setiap SLTP ada lima saja atletnya yang bisa berlatih di gulat, berapa banyak sudah tercetak SDM-nya?” katanya.
Upaya tersebut dinilai semakin memungkinkan karena Samarinda memiliki pelatih yang kualitasnya telah teruji hingga standar nasional. Sebelumnya, PGSI Samarinda juga telah menggelar kegiatan gulat usia dini sebagai bagian dari upaya memperluas pembinaan.
Namun, keberlanjutan program pembinaan tetap menghadapi tantangan anggaran. Nur Zaid mengakui efisiensi anggaran membuat cabang olahraga harus lebih berhitung dalam menjalankan program.
“Cabang olahraga lebih prihatin daripada dulu. Maka lebih prihatin dan lebih harus memutar pikiran supaya pembinaan tetap berjalan, karena tulang punggung pembinaan tetap saja di daerah, khususnya di Kota Samarinda,” pungkasnya.
Bagi PGSI Samarinda, melimpahnya stok atlet menjadi modal penting. Tantangannya kini memastikan proses seleksi, pembinaan, dan regenerasi berjalan beriringan agar dominasi Samarinda di gulat Kaltim tetap terjaga dan target juara umum Porprov kembali bisa direalisasikan. (*)
Editor : Ery Supriyadi