Pembinaan Wushu Kaltim Dimulai Sejak Usia Dini, Atlet 8 Tahun Borong Enam Medali Emas

Nuron Setya Wijaya • Dipublikasikan Minggu, 6 September 2026 | 19:48 WIB
Atlet wushu. (FOTO NURON/KP)
Atlet wushu. (FOTO NURON/KP)

KALTIMPOST.ID-Medali yang dibawa pulang atlet muda wushu bukan sekadar hasil latihan menjelang pertandingan.

Di balik prestasi tersebut terdapat proses panjang sejak usia dini, mulai dari membangun kelenturan, menguasai teknik dasar, disiplin hingga keberanian menghadapi kompetisi.

Pola tersebut menjadi bagian penting dalam pembinaan wushu taolu di Balikpapan. Berbeda dengan sanda yang mengandalkan kontak fisik, taolu merupakan nomor peragaan jurus yang membutuhkan ketepatan gerakan, penguasaan teknik serta kemampuan menampilkan rangkaian jurus.

Ketua Rangkong Muda Martial Arts Okto Triwibowo mengatakan, pembinaan atlet taolu tidak dapat dilakukan secara instan.

Anak harus diperkenalkan dengan latihan secara bertahap untuk membangun kemampuan dasar sekaligus kedisiplinan.

Baca Juga: Serap Ratusan Ribu Tenaga Kerja, Disbun Kaltim Ingatkan Karhutla Bisa Ancam Keberlanjutan Sawit

“Pembinaan tersebut tidak bisa asal comot. Kita harus melakukan pembinaan mulai dari usia dini untuk membiasakan mereka kelenturannya, kedisiplinannya,” kata Okto.

Saat ini, sekitar 50 orang mengikuti pembinaan dengan rentang usia mulai enam tahun hingga kelompok senior.

Pada kelompok usia dini, latihan tidak hanya diarahkan mengejar prestasi. Anak dibiasakan mengikuti aturan, mendengarkan arahan pelatih, berinteraksi dengan teman dan membangun kepercayaan diri.

Program latihan disesuaikan dengan kemampuan setiap anak. Pelatih memberikan contoh gerakan sebelum melihat sejauh mana atlet mampu mengikuti dan menguasainya. Tingkat kesulitan kemudian ditingkatkan secara bertahap.

Pendekatan serupa diterapkan dalam penggunaan senjata pada nomor taolu. Atlet baru diberikan tantangan setelah dinilai memiliki kemampuan yang memadai.

“Para pelatih selalu memberikan contoh di awal. Kemudian kita lihat kemampuan si anak, apakah dia sudah mulai mampu menguasai senjata. Baru kita berikan tantangan tersebut,” ujarnya.

Baca Juga: Kabut Asap Karhutla Makin Pekat di Kaltim, Siswa SD Dinilai Perlu Belajar Daring

Menurut Okto, rutinitas olahraga juga memberikan ruang bagi anak untuk mengurangi penggunaan gawai. Waktu latihan membuat mereka lebih banyak bergerak, berinteraksi dan bersosialisasi.

“Minimal ketika anak-anak itu hadir di sini, jam memegang gadget-nya jadi berkurang. Mereka lebih fokus, mereka bersosialisasi, mereka di sini belajar,” katanya.

Proses pembinaan tersebut mulai menghasilkan prestasi. Dalam dua bulan terakhir, atlet Rangkong Muda mengikuti dua kompetisi.

Pada Kejuaraan Nasional Wushu Kungfu di Alam Sutera, Tangerang, akhir Juli 2026, kontingen Kaltim yang bersaing dengan peserta dari 13 provinsi disebut menempati posisi ketujuh dengan lima medali emas.

Pada Agustus 2026, atlet Rangkong Muda kembali mengikuti open tournament Piala KONI Jatin Wushu CSWE Cup.

Salah seorang atlet berusia delapan tahun berhasil membawa pulang enam medali emas dari nomor yang diikutinya.

Namun, Okto menegaskan medali bukan satu-satunya ukuran keberhasilan pembinaan. Kompetisi juga menjadi sarana mengukur perkembangan, membangun mental bertanding dan mengetahui kemampuan yang masih perlu diperbaiki.

Pembinaan juga membutuhkan keterlibatan orang tua. Pihaknya secara berkala memberikan edukasi agar dukungan keluarga berjalan searah dengan program latihan.

Tantangan lainnya adalah minimnya kompetisi wushu di daerah. Kondisi tersebut membuat atlet Kaltim harus mengikuti kejuaraan di luar daerah, terutama Pulau Jawa, untuk mendapatkan pengalaman bertanding.

Baca Juga: LAPSUS: Jangan Hanya Atur Antrean Pertalite di SPBU tapi Temukan Penyebab dan Benahi Distribusinya

“Kompetisi-kompetisi wushu ini tidak ada di daerah. Sehingga untuk mengukur dalam rangka pembinaan, untuk mengukur capaian, jalan satu-satunya adalah mengikuti kompetisi yang biasanya lebih banyak berada di Pulau Jawa,” ujarnya.

Karena itu, Okto berharap pemerintah daerah, KONI dan Dispora dapat memperkuat sinergi dalam pembinaan wushu, mulai fasilitas, pemantauan atlet hingga akses terhadap kompetisi.

Sebab, prestasi di podium merupakan ujung dari perjalanan panjang. Sebelum medali dikalungkan, ada latihan berulang yang membentuk teknik, disiplin, keberanian dan mental atlet sejak usia dini. (rd)

Editor : Romdani.
KONI Kaltim 2026 letjen lucky avianto ibu kota nusantara Porprov Kaltim 2025 Wushu Kaltim