KALTIMPOST.ID, SENDAWAR — Gejolak kembali terjadi di tubuh Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) Kutai Barat. Induk organisasi olahraga di Bumi Tana Purai Ngeriman ini belum juga menemukan stabilitas.
Dalam tujuh tahun terakhir, tepatnya periode 2018–2026, kursi ketua sudah empat kali berganti. Situasi ini menjadi sinyal serius bagi keberlangsungan pembinaan atlet di daerah.
Pergantian kepemimpinan yang berulang dinilai tidak sekadar persoalan internal organisasi. Kondisi tersebut berdampak langsung terhadap konsistensi program dan pencapaian prestasi olahraga.
Baca Juga: Jaga Performa Pembangkit, Firman Ramdan Pimpin Inspeksi Menyeluruh Peralatan Utama
Kisah ini bermula pada periode 2018–2022. Saat itu, Untung Surapati mundur dari jabatannya hanya setahun setelah dilantik. Keputusan tersebut dipicu kegagalan memenuhi target pada Porprov VI/2018 di Kutai Timur.
Alih-alih menembus lima besar, kontingen Kutai Barat harus puas di peringkat kedelapan. Mundurnya Untung menjadi awal dari dinamika panjang di tubuh KONI Kubar.
Kepemimpinan kemudian dilanjutkan oleh Stepanus SP hingga akhir masa bakti 2022. Harapan sempat muncul ketika Tobias F. Kainama terpilih untuk periode 2022–2026.
Namun, kondisi tidak membaik. Pada 2025, KONI Kalimantan Timur membekukan kepengurusan KONI Kutai Barat.
Caretaker saat itu, Akhmad Albert, mengungkap berbagai persoalan internal. Dari total 52 cabang olahraga, hanya 23 yang aktif. Selain itu, organisasi berjalan tanpa Rapat Kerja (Raker), yang merupakan pelanggaran terhadap AD/ART.
Estafet kepemimpinan kemudian beralih kepada Agus Hermawan pada 11 Agustus 2025. Namun, situasi kembali memanas.
Belum genap setahun menjabat, Agus diterpa mosi tidak percaya. Sebanyak 27 dari 31 cabang olahraga aktif menarik dukungan mereka.
Puncak konflik terjadi pada Rabu (29/4/2026). Perwakilan cabang olahraga mendatangi kediaman Bupati Kutai Barat, Frederick Edwin.
Bupati menyampaikan sikap tegas terkait kondisi tersebut. Ia meminta Ketua KONI Kutai Barat saat ini untuk mengundurkan diri.
“Secara pribadi, dengan segala kerendahan hati dan kebijaksanaan Ketua KONI sekarang, saya meminta dengan hormat Ketua KONI untuk mengundurkan diri,” ujar Frederick Edwin.
Ia menilai konflik berkepanjangan hanya akan merugikan atlet, terutama yang tengah mempersiapkan diri menghadapi Porprov.
Menurutnya, KONI membutuhkan pemimpin yang mampu mengayomi dan menyatukan seluruh cabang olahraga.
Di tengah situasi ini, bursa calon ketua baru mulai menghangat. Nama Alsiyus mencuat sebagai kandidat kuat.
Tokoh muda Kutai Barat tersebut dinilai memiliki kapasitas untuk membawa perubahan. Dukungan datang dari sejumlah pengurus cabang olahraga.
Rekam jejak Alsiyus saat memimpin Taruna Gharda Mandiri (TGM) disebut menjadi salah satu alasan utama.
Baca Juga: UBS Anjlok Terbesar! Harga Emas Pegadaian Kamis 30 April 2026 Antam dan Galeri24 Turun Berjamaah
Ketua PBSI Kutai Barat, Leo, menyebut pihaknya membutuhkan figur yang memiliki visi, komunikasi yang baik, serta akuntabel dalam pengelolaan organisasi.
“Kami butuh figur yang bisa merangkul semua cabang olahraga. Alsiyus kami anggap mampu membawa KONI Kutai Barat lebih baik ke depan,” ujarnya, Kamis (30/4/2026).
Kini, publik olahraga Kutai Barat menanti arah baru kepemimpinan. Pergantian kali ini diharapkan menjadi titik balik, bukan sekadar pengulangan konflik yang sama.
Atlet membutuhkan kepastian dan pembinaan berkelanjutan, bukan hanya pergantian di kursi pimpinan. (*)
Editor : Ery Supriyadi