Pesilat Kaltim Soroti Pembinaan Putus Usai PON, Iqbal: Atlet Hilang Setelah Multievent

Nasya Rahaya • Dipublikasikan Jumat, 31 Juli 2026 | 13:49 WIB
Iqbal Candra Pratama, pesilat andalan Kalimantan Timur, menyoroti pentingnya pembinaan berkelanjutan agar atlet tetap berkembang dan tidak kehilangan performa setelah PON. (NASYA RAHAYA/KALTIM POST)
Iqbal Candra Pratama, pesilat andalan Kalimantan Timur, menyoroti pentingnya pembinaan berkelanjutan agar atlet tetap berkembang dan tidak kehilangan performa setelah PON. (NASYA RAHAYA/KALTIM POST)

 

KALTIMPOST.ID, SAMARINDA – Prestasi pencak silat Kalimantan Timur dinilai sulit berkembang jika pembinaan atlet hanya berjalan menjelang pesta olahraga. Seusai Pekan Olahraga Nasional (PON), banyak atlet justru kembali menghadapi persoalan lama, yakni berhentinya program latihan hingga harus menunggu kejuaraan berikutnya.

Kondisi tersebut menjadi perhatian pesilat andalan Kaltim, Iqbal Candra Pratama. Peraih emas Asian Games, juara dunia, dua kali peraih emas PON, serta juara SEA Games itu menilai pola pembinaan yang terputus membuat atlet kesulitan menjaga performa sekaligus menghambat regenerasi.

Menurut Iqbal, atlet yang tidak masuk pemusatan latihan nasional (Pelatnas) menjadi pihak yang paling merasakan dampaknya. Setelah PON usai, mereka bisa menjalani masa tanpa pembinaan selama satu hingga dua tahun.

Baca Juga: Nobar Timnas Indonesia vs Timor Leste di Gedung Biru Kaltim Post! Suporter Balikpapan Merapat

Saat kejuaraan berikutnya mendekat, para atlet baru kembali dikumpulkan dan diminta membangun performa dari awal.

"Keluhannya sampai saat ini ya itu. Selalu ada fase terputus untuk kami atlet. Kebetulan saya selalu dipanggil Pelatnas jadi pembinaan saya tidak terputus. Sedangkan adik-adik yang lain selesai PON setahun sampai dua tahun tidak ada pembinaan. Mereka harus latihan mandiri," ujar Iqbal.

Ia menilai kondisi tersebut menjadi persoalan serius apabila Kaltim ingin mempertahankan prestasi sekaligus menyiapkan generasi pesilat berikutnya. Atlet yang sebelumnya mampu meraih medali PON berpotensi mengalami penurunan performa karena tidak memperoleh program latihan maupun dukungan nutrisi secara berkelanjutan.

"Kalau mereka tidak dikasih asupan yang bagus, nutrisinya tidak bagus, otomatis ada penurunan dibanding performa mereka pada PON sebelumnya. Mereka mengulang lagi saat mau Porprov baru mulai latihan," tutur lulusan SKOI Kaltim yang mulai berlatih sejak 2010 itu.

Iqbal menegaskan pembinaan tidak harus selalu berbentuk pemusatan latihan penuh. Namun, setelah PON berakhir, atlet tetap memerlukan program yang membuat perkembangan mereka terus terpantau.

Menurutnya, pembinaan dapat dilakukan melalui training camp (TC) mandiri maupun skema latihan lain yang disesuaikan dengan kemampuan anggaran serta kebutuhan atlet.

Baca Juga: Raih Penghargaan Nasional, Jasa Raharja Perkuat Kolaborasi Keselamatan Transportasi

"Kalau memang ingin prestasi maksimal, setelah PON langsung pembinaan lagi. Langsung pemusatan latihan lagi, entah TC mandiri atau bentuk lain. Regenerasi atlet Kaltim akan terus berjalan kalau pembinaannya tidak putus," katanya.

Iqbal juga berkaca pada pengalamannya sendiri. Seusai PON Aceh-Sumatera Utara 2024, ia langsung bergabung dengan Pelatnas sehingga ritme latihannya tetap terjaga. Kesempatan itu kemudian membawanya kembali tampil pada kejuaraan dunia.

Sebaliknya, kondisi tersebut tidak dialami seluruh pesilat Kaltim. Atlet yang tidak masuk Pelatnas harus menjaga kebugaran secara mandiri hingga kembali dipanggil dalam program pembinaan daerah.

"Saya beruntung. Setelah PON saya langsung dipanggil Pelatnas. Jadi latihan saya terus. Sedangkan adik-adik saya selesai PON hilang, nanti kumpul lagi menjelang Porprov. Target kita jangan cuma itu-itu saja, apalagi turun," tegasnya.

Pandangan serupa disampaikan pelatih pencak silat Kaltim, Asdar. Menurut dia, daerah yang konsisten menjadi kekuatan pencak silat nasional tidak menunggu momentum PON untuk membina atlet.

Ia mencontohkan DKI Jakarta, Jawa Tengah, dan Jawa Timur yang tetap menjalankan program latihan sepanjang siklus empat tahun menuju PON berikutnya. Dengan pola tersebut, perkembangan atlet dapat dipantau secara rutin sehingga kebutuhan pembinaan lebih mudah dipenuhi.

"Setelah event besar seperti PON mereka latihan terus sampai PON berikutnya. Kita masih ada fase berhenti. Anak-anak butuh TC jangka panjang supaya bisa dimonitor," ujarnya.

Asdar menyebut persoalan tersebut juga tercermin pada hasil Pra-PON. Dari 23 kelas yang dipertandingkan, Kaltim hanya berhasil meloloskan sembilan kelas.

Menurutnya, persiapan yang singkat membuat tim pelatih kesulitan memantau perkembangan atlet secara maksimal. Terlebih lagi, para atlet tersebar di berbagai daerah sehingga pembinaan belum berjalan dalam satu sistem yang berkesinambungan.

Karena itu, pembinaan jangka panjang dinilai menjadi pekerjaan rumah yang harus segera dibenahi apabila Kaltim ingin kembali bersaing di level nasional.

Baca Juga: Daftar Lengkap Mutasi Kapolres Juli 2026: Nama Pejabat Baru di Sumatera, Jawa, Sulawesi, dan Papua

"Kalau ingin lebih baik, yang harus dijaga hubungan pengurus, pelatih, dan atlet. Lalu latihan jangka panjang jangan sampai putus," ucapnya.

Selain pembinaan, Iqbal juga menyoroti fasilitas latihan. Ia mengapresiasi keberadaan Gedung Pencak Silat di Folder Air Hitam, Samarinda, yang kini menjadi tempat berlatih pesilat Kaltim.

Meski demikian, menurutnya, fasilitas tersebut masih perlu ditingkatkan agar mendekati standar yang dimiliki Pelatnas.

Ia juga mengingatkan bahwa atlet berprestasi Kaltim tidak hanya berasal dari Samarinda. Sejumlah pesilat peraih medali juga datang dari Bontang dan Kutai Kartanegara sehingga peningkatan fasilitas harus mampu mengakomodasi kebutuhan seluruh atlet.

"Kami memang sudah punya tempat latihan, tapi kalau dibanding standar Pelatnas masih kurang. Peraih medali PON juga bukan cuma dari Samarinda, ada dari Bontang dan Kutai Kartanegara," katanya.

Bagi Iqbal, pembinaan yang berkesinambungan dan peningkatan fasilitas merupakan dua aspek yang tidak bisa dipisahkan. Jika Kaltim ingin kembali melahirkan prestasi di tingkat nasional maupun internasional, atlet tidak boleh hanya dipersiapkan ketika kejuaraan sudah di depan mata.

Pembinaan yang berjalan sepanjang siklus kompetisi menjadi kunci untuk menjaga performa atlet sekaligus membuka ruang regenerasi agar pesilat muda siap menggantikan generasi senior. (*)

Editor : Ery Supriyadi
pelatnas pon iqbal candra pratama pembinaan atlet pencak silat Kaltim