BNPB Peringatkan Banjir Rob di 15 Provinsi, Ini Daftar Wilayah Pesisir yang Terancam

Uways Alqadrie • Dipublikasikan Minggu, 1 November 2026 | 12:40 WIB
Foto ilustrasi
Foto ilustrasi

KALTIMPOST.ID, JAKARTA – Ancaman banjir pesisir atau rob membayangi sejumlah wilayah Indonesia seiring meningkatnya risiko bencana hidrometeorologi memasuki musim hujan.

Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) meminta pemerintah daerah dan masyarakat memperkuat kesiapsiagaan untuk mengantisipasi dampak cuaca ekstrem.

Peringatan tersebut disampaikan melalui surat Direktur Peringatan Dini BNPB Nomor B-79/BNPB/PDin/BP.03.02/10/2026 tertanggal 22 Oktober 2026. Potensi banjir rob dipengaruhi sejumlah faktor, antara lain fase bulan purnama pada 26 Oktober, fase perigee pada 29 Oktober 2026, serta dinamika oseanografi.

Baca Juga: Veda Ega Pratama Naik Podium di Moto3 Malaysia 2026, Finis Kedua di Sepang

Pelaksana Tugas Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB Berton SP Panjaitan menyebutkan, ancaman banjir rob berpotensi terjadi di 15 provinsi.

Wilayah yang perlu meningkatkan kewaspadaan meliputi pesisir Sumatra Utara, Sumatra Barat, Lampung, Banten, DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Bali, Kalimantan Utara, Kalimantan Tengah, Kalimantan Barat, Kalimantan Selatan, Sulawesi Utara, hingga Maluku.

Menurut Berton, masyarakat yang tinggal di kawasan pesisir perlu membatasi kegiatan di pantai ketika air laut mencapai pasang maksimum. Aktivitas melaut juga sebaiknya ditunda apabila kondisi gelombang berpotensi membahayakan keselamatan.

Warga diminta mengamankan perahu serta barang berharga yang berisiko terdampak genangan air laut.

Sementara itu, pemerintah daerah bersama Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) diminta mengoptimalkan pemantauan informasi dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG).

Kesiapan lokasi pengungsian, kebersihan saluran drainase, kondisi tanggul pantai, serta ketersediaan personel dan logistik evakuasi juga perlu dipastikan.

Koordinasi antara pemerintah daerah, BPBD, dan masyarakat dinilai penting untuk mengurangi risiko serta dampak bencana yang dapat terjadi sewaktu-waktu.

Total Bencana Tembus 2.247 Kejadian

Di tengah ancaman banjir rob, BNPB juga mencatat peningkatan kejadian bencana di Indonesia. Hingga Jumat (30/10), jumlah bencana yang tercatat sepanjang 2026 mencapai 2.247 kejadian.

Bencana hidrometeorologi mendominasi kejadian tersebut. Dalam perkembangan terbaru, terdapat tambahan enam kejadian banjir di Sumatra Utara dan Aceh, serta dua kejadian cuaca ekstrem di Kalimantan Selatan dan Jawa Timur.

Dampak banjir cukup besar terjadi di Kabupaten Deli Serdang, Sumatra Utara. Sebanyak 7.615 kepala keluarga (KK) terdampak, sementara 7.327 rumah dilaporkan terendam.

Baca Juga: Kata KPK: Dugaan Korupsi Cukai PT Djarum Merugikan Negara Triliunan Rupiah

Di Kota Medan, banjir berdampak terhadap 2.405 KK.

BNPB juga mengingatkan potensi hujan lebat hingga sangat lebat yang masih mengancam sejumlah daerah. Aceh berada dalam status Siaga, sedangkan sebagian besar wilayah Sumatra, Jawa, Kalimantan, Sulawesi, hingga Papua masuk kategori Waspada.

Kondisi tersebut berkaitan dengan dampak tidak langsung Bibit Siklon Tropis 91B yang berada di Laut Andaman.

Warga Diminta Siapkan Tas Siaga Bencana

Menghadapi potensi banjir, angin kencang, puting beliung, dan tanah longsor, BNPB meminta masyarakat melakukan langkah pencegahan sejak dini.

Untuk mengurangi risiko banjir, warga diimbau bergotong royong membersihkan saluran air. Kegiatan menyusuri sungai juga dapat dilakukan dengan pengawasan petugas BPBD.

Masyarakat perlu mengetahui jalur evakuasi yang aman, memeriksa kondisi infrastruktur bendungan melalui pihak berwenang, serta menyiapkan tas siaga bencana berisi kebutuhan darurat untuk sekurang-kurangnya tiga hari.

Tas tersebut perlu disiapkan agar kebutuhan dasar tetap tersedia apabila warga harus mengungsi atau akses menuju permukiman terganggu.

Baca Juga: Anies Baswedan Kritik Penanganan Ekonomi Era Prabowo: Kondisinya Tidak Baik-baik Saja

Antisipasi juga diperlukan untuk menghadapi angin kencang. Warga diminta memastikan konstruksi atap rumah dalam kondisi kuat serta memangkas ranting pohon yang terlalu rimbun di sekitar rumah dan fasilitas umum.

Ketika angin kencang terjadi, masyarakat sebaiknya menjauhi papan reklame, baliho, pohon besar, dan benda lain yang berisiko roboh.

Adapun warga yang tinggal di kawasan perbukitan atau daerah rawan longsor diminta segera menyelamatkan diri apabila hujan deras berlangsung lama, terutama jika kondisi tersebut berpotensi memicu pergerakan tanah.

Tanda awal longsor yang perlu dikenali antara lain munculnya retakan pada permukaan tanah maupun lantai rumah.

 

Editor : Uways Alqadrie
banjir pesisir banjir rob Peringatan Dini BMKG bmkg bnpb