SEPERTI film fiksi ilmiah yang menjadi nyata, di mana sebuah kota dengan gedung-gedung pencakar langit yang berkilauan, dihiasi pesawat futuristik yang meluncur ke sana kemari melintasi cakrawala.
Namun, ini bukan kota dalam galaksi yang sangat yang jauh, tetapi Ibu Kota Negara (IKN) Nusantara dalam lima atau sepuluh tahun ke depan. Inilah cetak biru kota cerdas dalam pembangunan ibu kota Indonesia yang baru.
Dalam rencana penyelenggaraan transportasi di Nusantara, terungkap bahwa taksi terbang akan menjadi salah satu moda transportasi yang digunakan. Ini berarti bakal menjadi yang pertama beroperasi di Indonesia.
Bayangkan saja ketika Anda berada di sebuah pusat perbelanjaan lantas ingin menghindari kemacetan kota yang panjang. Tiba-tiba sebuah pesawat dengan desain unik yang memiliki baling-baling turun secara vertikal menjemput Anda, lalu mengantarkan Anda untuk pulang. Semulus itu dan secepat itu. Taksi terbang adalah solusi dalam mobilitas yang cepat, memaksimalkan penggunaan ruang kota, serta mengurangi polusi atau emisi.
Taksi terbang pertama, yang sering dianggap sebagai nenek moyang taksi terbang modern, dikembangkan oleh perusahaan yang saat ini dikenal sebagai Vertical Aerospace. Perusahaan ini mengembangkan prototipe taksi terbang elektrik pertama mereka, yaitu Seraph, yang berhasil melakukan uji penerbangan pada 2018 di Inggris.
Keberadaan Seraph, kemudian direspons oleh perusahaan startup Tiongkok, EHang, yang membuat taksi terbang tandingan bernama EHang 184.
Taksi terbang ini menggunakan sistem Electric Vertical Take-Off and Landing (eVTOL), yang memungkinkan lepas landas dan mendarat secara vertikal dengan menggunakan tenaga listrik. Sistem ini mengadopsi tiga jenis kendaraan, yaitu multicopter, vectored thrust, dan lift plus cruise.
Jika Serahp masih memerlukan pilot, maka EHang 184 adalah taksi terbang otonom (tanpa pilot) listrik pertama di dunia yang mengangkut penumpang. Istilah kendaraan ini pun dikenal sebagai Autonomous Aerial Vehicle (AAC).
“EHang 216 (pengembangan dari EHang 184) yang berkapasitas dua penumpang menjadi taksi terbang otonom listrik pertama di dunia yang berhasil mendapatkan sertifikasi dari otoritas penerbangan di Tiongkok,” tulis TechCrunch.
Hingga Maret 2024, setidaknya ada empat produsen eVTOL yang berada dalam tahap awal penjajakan taksi terbang di Indonesia. Mereka adalah Hyundai Motor Groups, Wisk Aero, PT Dirgantara Indonesia, dan Guangzhou EHang Intelligent Technology. Dengan demikian Indonesia berlomba dengan kota besar negara lain untuk menerapkan moda transportasi ini.
Setelah Tiongkok yang berada di garis depan, Dubai sebelumnya mengumumkan niatnya untuk meluncurkan layanan taksi udara listrik pertama di dunia pada 2026, sementara New York telah menetapkan target yang lebih ambisius pada 2025.
Keduanya bekerja sama dengan perusahaan asal California, Joby Aviation, yang melakukan uji terbang perkotaan pertamanya di Dubai. London juga menyusul dengan menargetkan taksi terbang di kota ini dapat lepas landas pada awal 2026, dan taksi udara otonom akan menyusul pada 2030.
RAMAH LINGKUNGAN
Perkembangan eVTOL di seluruh dunia menandai era revolusi teknologi baterai yang kini tengah terjadi. Fenomena ini hampir sebanding dengan gelombang internet yang telah mendisrupsi banyak aspek kehidupan manusia.
Salah satu perubahan yang paling terasa adalah munculnya berbagai mobil dan motor listrik sebagai bagian dari revolusi tersebut. Sekarang, revolusi tersebut merambah ke mobilisasi udara. eVTOL dianggap lebih ramah lingkungan dibandingkan transportasi konvensional yang menggunakan Bahan Bakar Minyak (BBM). Selama terbang, taksi terbang juga lebih senyap karena eVTOL tidak menggunakan mesin jet.
Produsen eVTOL yang berbasis di California, Archer Aviation, mengklaim bahwa kendaraannya saat terbang akan menghasilkan lebih sedikit kebisingan dibandingkan mobil yang bergerak dengan kecepatan sekitar 50 kilometer per jam. Selain itu, mudah dioperasikan di lingkungan perkotaan.
Namun, ini tidak berarti eVTOL dapat ditempatkan sembarangan di tempat parkir - yang penting asalkan muat. Infrastruktur harus dibangun atau disesuaikan, yang berarti akan ada perluasan bandara kecil atau vertiport yang bermunculan di kota-kota besar. Hal ini menghadirkan tantangan tersendiri. Berapa banyak yang harus dibangun, bagaimana ruang yang tersedia untuk pembangunannya, dan bagaimana pelanggan akan menuju dan pulang dari lokasi pendaratan? Apakah mereka dapat berjalan kaki, menggunakan layanan ojek online, atau terhubung dengan sistem transportasi umum lainnya?
Pemerintah sepertinya sudah mengarahkan perencanaan ini. Bandara APT Pranoto Samarinda telah ditetapkan untuk uji coba taksi terbang milik Hyundai Motors Group. "Rencananya pada Juli 2024 akan uji coba terbang," ungkap Kepala Otorita IKN Bambang Susantono kepada wartawan di Balikpapan pada Rabu (11/4).
SEMUDAH OJEK ONLINE
Apakah naik taksi terbang akan menjadi semurah dan semudah memesan Gojek atau Grab dalam waktu dekat? Beberapa perusahaan eVTOL menjanjikan tarif yang terjangkau. Deputi Bidang Transformasi Hijau dan Digital Otorita IKN Muhammed Ali Berawi di Jakarta pada September 2023 mengutarakan bahwa tarif yang mungkin diberlakukan adalah sebesar USD 50 atau sekitar Rp 750 ribu untuk jarak tempuh maksimal 100 km. "Seperti jika terbang dari Bandara Soekarno-Hatta ke Tangerang atau Bekasi, itu sekitar USD 50," katanya sambil memberikan perumpamaan.
Dengan menawarkan kecepatan terbang hingga 130 km per jam, harga layanan ini memang masih relatif bagi sebagian kalangan. Rp 750 ribu hampir sama seperti tiket penerbangan komersial Jakarta-Surabaya.
Tapi besaran tarif juga ditentukan seberapa besar investasi yang dilakukan oleh penyedia. Sebagai contoh, satu unit taksi terbang seperti EHang 216, seperti yang dilaporkan oleh Asian Aviation, dibanderol seharga USD 410 ribu atau sekitar Rp 6,6 miliar (kurs Rp 16.000). Harga tersebut setara dengan harga mobil sport atau SUV merek ternama seperti Porsche, Lamborghini, atau Range Rover.
Seperti halnya dengan banyak teknologi baru yang permintaannya tinggi dan pasokannya terbatas, seperti smartphone atau mobil listrik, taksi terbang pada awalnya diperkirakan akan mematok harga yang berada pada kisaran premium. Namun, kemudian harga lambat laun akan turun seiring dengan peningkatan pasokan.
Pengamat penerbangan Indonesia, Alvin Lie, menyatakan bahwa taksi terbang tidak hanya akan diterapkan di IKN saja, tetapi juga di seluruh wilayah Indonesia. Hingga Maret 2024, taksi terbang masih merupakan konsep yang terus disempurnakan, termasuk dari segi regulasi, standar keselamatan, teknis, navigasi, dan batasan-batasan lainnya, termasuk privasi. "Jadi nantinya tidak hanya taksi terbang saja, ada juga mobil terbang dan sepeda motor terbang akan diatur oleh pemerintah," katanya kepada Kaltim Post.
Menurut Alvin Lie, kendaraan udara seperti taksi terbang, motor terbang, dan mobil terbang adalah keniscayaan dalam perkembangan teknologi masa depan di bidang transportasi. Hal ini serupa dengan transisi dari penggunaan sepeda, becak, dan andong sebagai alat transportasi yang kini telah digantikan oleh sepeda motor dan mobil. Oleh karena itu, tidak hanya Indonesia, tetapi beberapa negara lain juga merumuskan hal yang serupa.
"Masing-masing negara masih merumuskan regulasi ini, sehingga belum ada negara yang menerapkan taksi terbang secara menyeluruh. Mungkin ada yang telah melakukan uji coba. Nah, hasil uji coba tersebut kemudian akan dibagikan kepada negara lain untuk dijadikan standar internasional dan menjadi tulang punggung regulasi di masing-masing negara," tambahnya.
Alvin Lie menekankan bahwa regulasi terhadap kendaraan udara di Indonesia harus disiapkan sejak awal, untuk memastikan siapa yang akan mengatur, mengoperasikan, mengawasi, memberi sertifikasi, dan sebagainya. "Kita tidak ingin seperti kasus ojek online beberapa tahun lalu, di mana sudah banyak beroperasi di jalan, aturannya dibahas kemudian. Oleh karena itu, regulasi harus disiapkan dari awal," tambah Alvin Lie.
Menteri Perhubungan RI, Budi Karya Sumadi, menegaskan bahwa taksi terbang harus melalui periode uji coba di Indonesia. Menurutnya, faktor keamanan harus menjadi yang utama dalam setiap teknologi baru yang diterima di Indonesia. Kemudian, faktor layanan dan kelengkapan lainnya juga harus dipertimbangkan. "Kami akan menyiapkan regulasi terlebih dahulu," kata Budi Karya Sumadi di Jakarta.
Memang dibutuhkan waktu yang panjang untuk membuat regulasi ini, karena ini merupakan sesuatu yang baru bukan hanya bagi Indonesia tetapi juga bagi negara-negara lain. Amazon, e-commerce terbesar di Amerika Serikat milik Jeff Bezos, memerlukan waktu tujuh tahun untuk mendapatkan izin dari otoritas penerbangan setempat bagi layanan antarnya yang menggunakan drone. Ini waktu yang dibutuhkan untuk izin mengantar barang, semoga izin mengantar manusia bisa lebih cepat.
Namun dari sekian aspek tadi yang terpenting adalah bagaimana taksi terbang ini dapat memperoleh kepercayaan publik. Salah satu masalah yang sering muncul dalam perjalanan udara adalah saat menghadapi situasi darurat, seperti cuaca buruk atau kegagalan teknis lainnya. Selama penyedia layanan dapat menjalankan operasinya tanpa insiden, tidak ada alasan mengapa taksi terbang tidak dapat beroperasi di atas Indonesia dan di seluruh dunia dalam waktu dekat.
Akhirnya sembari menunggu taksi terbang ini mengudara, kita bisa memanjakan imajinasi dengan menonton aksi Ryan Gosling di film Blade Runner 2049. Bukan tidak mungkin semua orang nanti bisa menikmati layanan taksi terbang atau memiliki kendaraan terbang pribadi. Semua pengguna akan melompat dan lepas landas di depan rumahnya sendiri. Salam! .(tom2)
Editor : Thomas Dwi Priyandoko