Oleh:
Jessica Evangeli
Mahasiswa Psikologi Universitas Airlangga
BINGE Eating Disorder (BED) adalah gangguan makan yang ditandai dengan kebiasaan makan berlebihan tanpa kontrol, di mana seseorang makan dalam jumlah besar dalam waktu singkat, bahkan ketika tidak merasa lapar.
Binge Eating Disorder dapat terjadi pada individu dari segala usia, mulai dari anak-anak hingga orang dewasa. Namun, penelitian menunjukkan puncak kejadian ini sering terjadi pada remaja perempuan dan wanita muda. Inilah mengapa artikel ini bertujuan untuk menjelaskan lebih lanjut mengapa gejala ini sering terjadi pada remaja perempuan atau wanita muda.
Masa remaja adalah masa di mana kita membutuhkan gizi yang cukup untuk perkembangan tubuh kita. Perkembangan ini mempengaruhi berat badan, bentuk tubuh, ataupun massa otot. Inilah mengapa kebanyakan remaja perempuan karena mereka sangat memperhatikan citra tubuh mereka tetapi di sisi lain mereka sangat ingin makan tanpa harus memikirkan berat badannya.
Gangguan makan ini menimbulkan perilaku menyimpang yang mengakibatkan para remaja perempuan makan secara berlebihan walau mereka tahu mereka akan merasa bersalah tetapi mereka tidak menghentikan nafsunya.
Mereka juga sensitif, kesal, atau marah bila ada yang menyinggung tentang body shaming. Binge Eating Disorder (BED) dapat memicu obesitas, tekanan darah tinggi, bahkan penyakit jantung bila dibiarkan terjadi.
Faktor-faktor
Faktor Psikologis: Banyak remaja perempuan yang mengalami BED menggunakan makanan sebagai cara untuk mengatasi stres, kecemasan, atau masalah emosional. Makanan dapat memberikan kenyamanan sementara, tetapi ini memperburuk masalah dalam jangka panjang.
Faktor Genetik: Penelitian menunjukkan bahwa ada kecenderungan genetik pada individu dengan riwayat keluarga yang mengalami gangguan makan. Faktor keturunan dapat meningkatkan risiko seseorang untuk mengalami BED.
Faktor Sosial: Tekanan dari sosial atau stigma masyarakat, tentang bentuk tubuh atau kecantikan ideal dapat meningkatkan risiko Binge Eating Disorder. Media sosial dan iklan yang menampilkan standar kecantikan tertentu juga bisa memberikan dampak negatif.Ini bisa menyebabkan para remaja perempuan merasa stres, cemas, bahkan sampai menyalahkan dirinya karena memiliki proporsi tubuh yang tidak ideal.
Faktor Lingkungan: Biasanya individu mendapatkan komentar dari keluarganya, teman, ataupun masyarakat tentang berat badannya tanpa memperhatikan apa yang dibutuhkan individu dan kurangnya dukungan sosial atau perasaan kesepian juga dapat meningkatkan kemungkinan seseorang mengembangkan gangguan makan seperti BED, karena mereka merasa tidak ada orang yang memahami atau mendukung mereka.
Faktor Perkembangan: Pada wanita, perubahan hormon selama menstruasi atau kehamilan juga dapat berperan dalam peningkatan kecenderungan makan berlebihan karena nafsu makan yang bertambah.
Gejala yang Dialami
Perasaan bersalah dan malu setelah makan: Setelah makan berlebihan, individu dengan BED sering merasa sangat malu, bersalah, atau jijik terhadap diri mereka sendiri. Perasaan ini dapat memperburuk kecemasan dan depresi mereka.
Frekuensi makan berlebihan: Individu dengan BED sering makan dalam jumlah besar dalam waktu yang sangat singkat, biasanya dalam 2 jam atau kurang, dan sering kali makan tanpa rasa lapar fisik yang nyata. Bisa dikatakan mereka tidak bisa berhenti mengunyah walaupun mereka tidak lapar.
Masalah pencernaan: Makan dalam jumlah besar dalam waktu singkat dapat menyebabkan masalah pencernaan seperti perut kembung, mulas, atau rasa tidak nyaman di perut.
Menyembunyikan pola makan: Perempuan dengan BED sering makan secara diam-diam atau di tempat yang terpencil untuk menyembunyikan kebiasaan makan berlebihan mereka. Mereka mungkin merasa malu atau terhina jika orang lain mengetahui apa yang mereka makan.
Kesehatan yang dipengaruhi oleh berat badan: Jika seseorang dengan BED mengalami peningkatan berat badan yang berkelanjutan, mereka mungkin juga mulai menunjukkan tanda-tanda masalah kesehatan terkait, seperti hipertensi, diabetes, atau kolesterol tinggi.
Solusi
Hindari pembicaraan soal berat badan atau penampilan fisik: Komentar tentang berat badan atau penampilan fisik (misalnya, "Anda terlihat lebih langsing" atau "Anda harus makan lebih sedikit") bisa sangat merugikan dan memperburuk perasaan seseorang yang mengalami BED.
Menunjukkan empati: Jangan mengkritik kebiasaan makan mereka atau menilai tubuh mereka. Fokuslah pada perasaan dan kebutuhan mereka daripada penampilan fisik atau kebiasaan makan mereka. Cobalah untuk memahami bahwa BED bukanlah masalah yang mereka pilih, melainkan suatu kondisi yang dapat sangat mempengaruhi aspek emosional dan psikologis mereka.
Sarankan terapi atau konsultasi dengan ahli: Sarankan untuk berbicara dengan seorang profesional, seperti seorang psikolog, terapis, atau dokter yang berkompeten dalam menangani gangguan makan.
Pahami proses yang pemulihan bertahap: Pemulihan dari BED membutuhkan waktu dan bisa penuh tantangan. Ini bukanlah perjalanan yang mudah, dan individu tersebut mungkin menghadapi kemunduran atau perasaan kesulitan dalam prosesnya. Bersikap sabar dan terus memberikan dukungan emosional.
Jika Anda bertemu dengan seseorang yang mungkin mengalami Binge Eating Disorder (BED), terutama perempuan, hal yang paling penting adalah memberikan dukungan yang penuh pengertian, tanpa menghakimi.
Pada perempuan, gangguan ini sering kali dikaitkan dengan tekanan sosial mengenai penampilan, perasaan rendah diri, dan cara-cara mengatasi stres atau emosi dengan makan berlebihan. Dorong mereka untuk mencari bantuan profesional dan pastikan bahwa Anda menyediakan ruang yang aman bagi mereka untuk berbicara tanpa rasa takut atau malu. (***/rdh)
Editor : Muhammad Ridhuan