Oleh: M Huseni Labib
Penggiat Kopi Tubruk 4/4
KALTIMPOST.ID - Berias diri bagi seseorang menjadi hal yang wajar dan sah-sah saja. Apalagi jika dilakukan oleh kaum hawa, yang sejak lahir memang memiliki naluri bersolek dan berhias. Wanita menjadi salah satu simbol perhiasan dunia, karena keindahan dan kecantikannya. Dengannya ia memancarkan magnet tersendiri bagi kaum Adam, hingga mendapatkan sanjung puji.
Lalu apa kaitannya tulisan ini membahas tentang laku berhias, bersolek bak seorang wanita? Tunggu dulu. Tulisan ini bukan mengusung bahasan cara "bersolek kaum hawa". Tapi coba memahami, bahwa hari ini, beberapa tahun ini, di zaman maya dan medsos sekarang ini, laku berhias, bersolek, bahkan mencitrakan diri seolah menjadi arus utama khalayak, bahkan lazimnya oleh para petinggi negeri.
Hampir semua berlomba lomba bersolek, merias diri laksana kaum hawa depan cermin. Tak lengkap katanya zaman ini bila laku tanpa dihias, tanpa pencitraan. Meski bila ditimang-timang, lakunya tersebut tak seberapa, bahkan minimal. Maka jangan kaget, di satu daerah seorang pemimpin hanya bermodal pegang cangkul di sawah, ia seolah telah membuka beribu-ribu lahan pertanian, mendorong swasembada pangan. Padahal di atas kertas, anggaran dan program tak seberapa, penyuluh minim, bibit dan obat untuk petani tak pernah ada.
Tapi modal citra memegang cangkul, seakan telah berbuat banyak untuk pertanian. Di lain tempat ada petinggi datang ke satu kafe lanjut kafe lainnya, nongkrong minum kopi sambil mencoba menanyakan daftar menu dan jumlah karyawan kafe. Ia menampilkan citra seakan ia telah giat membangun UMKM dan membuka lapangan kerja. Padahal, faktanya kafe-kafe itu tumbuh biak mandiri, lahir sendiri, karena tuntutan keadaan masyarakat untuk mengais rezeki dan menyambung hidup.
Lazimnya para biduan yang bersolek di atas panggung, begitu juga yang terjadi pada hampir perilaku kita saat ini dengan masifnya media sosial. Merias diri untuk mendapatkan sanjung puji yang absurd, yang kadang tidak berkesesuaian antara fakta dan realita. Yang oleh para cendekiawan pola ini bagi penguasa adalah tendensi timokrasi. Gejala serius karena hanya menggarap kulit, bukan isinya.
Tiga tahun lalu, Sekretaris Umum Muhammadiyah Abdul Mu'ti pernah berucap, belakangan terjadi timokrasi negara, di mana para pemimpinnya suka dipuja-puji, suka disanjung, banyak pemimpin yang narsis menyebut keberhasilannya sendiri dan seterusnya.
Tokoh Muhammadiyah yang sekarang menjadi menteri di Kabinet Merah Putih ini, ternyata juga lama mengendus arus utama laku timokrasi di negeri ini. Maka Yudi Latif, seorang cendekiawan dalam pengantar buku "Theology Of Hope, Menjejak Kaki Langit" Karya Kamaruddin Hidayat ia menulis gejala temokrasi yaitu; dengan meluasnya tendensi "timokrasi" (kekuasaan gila popularitas), tata kelola negara, bahkan di tengah ancaman megakrisis, cenderung mengedepankan kesan kehebatan permukaan ketimbang membenahi masalah fundamental yang berkaitan dengan usaha meningkatkan kualitas hidup rakyatnya.
Apakah salah menampilkan karya, berpose atas apa yang memang dilakukan? Tentu tidaklah salah, bahkan boleh jadi sebuah kewajiban dan keharusan bagi para petinggi. Karena itu adalah cara berkomunikasi, menyampaikan pesan ke jantung masyarakat. Memberitakan sembari menyisipkan sebuah inspirasi, motivasi dan keteladanan. Maka kuncinya, bahwa menginformasikan fakta adalah benar, dan mencitrakan yang tiada fakta adalah sebuah "dosa" dan kesalahan.
Di dunia yang saat ini gegap gempita dengan sarana media sosial. Layar komunikasi tanpa batas, tentulah menjadi kesempatan semua orang untuk turut nyemplung dan memanfaatkan media canggih ini. Platform digital nyatanya telah membius semua orang untuk berinteraksi langsung. Yang oleh Chris Brogan, penulis Amerika, menyebutnya sebagai interaksi gaya baru. Gaya petinggi yang haus sanjung puji, kemashuran dan popularitas pasti membutuhkan wadah media dengan segala bentuknya. Untuk membius, menghipnotis. Karenanya, kedewasaan dan kecerdasan masyarakatlah yang harus dijaga dan ditingkatkan.
Konfirmasi, klarifikasi, dan kemampuan literasi atas apa yang terjadi pada akhirnya apapun yang dilihat, didengar dan dibaca pada saatnya nanti pasti akan diketahui. Mana yang nyata dan mana yang hanya kamuflase dan gincu saja. Semua akan termuat dalam kelanjutan fase sejarah. Karena bagaimanapun, perilaku yang dipoles dan bergantung pada tujuan kemashuran, citra, dan sanjung puji, pada saatnya nanti akan terbongkar, terbuka lebar rahasianya, pelan dan pasti.
Maka benar kata orang bijak dulu. Bekerja dan berbuat baiklah tanpa mengharap pujian, tepuk tangan. Bukankah dulu Sang Khalifah Umar Bin Khatab pernah diam-diam memikul gandum sendiri, memberi bantuan rakyatnya yang kelaparan di tengah malam, kepada seorang ibu yang berpura-pura masak untuk menghibur anaknya yang sedang kelaparan, dan akhirnya Sayyyidina Umar pun datang membantu dalam sepi. Bekerja dan berkarya sejatinya adalah menabung bagi eksistensialisme diri.
Dalam sebuah ceramah, sang Khatib pernah mengutip perkataan Az Zubair bin Al ‘Awwam “Barangsiapa yang mampu menyembunyikan amalan sholihnya, maka lakukanlah.” Begitu juga kata Abu Hazim; “Sembunyikanlah amalan kebaikanmu, sebagaimana engkau menyembunyikan amalan kejelekanmu.” (*)
Editor : Duito Susanto