Utama Samarinda Balikpapan Kaltim IKN Nasional Olahraga Bisnis Lifestyle Opini Sosbis Hiburan Kesehatan

Menjaga Cinta Mahakam nan Agung

Redaksi KP • Jumat, 7 November 2025 | 06:36 WIB
Ali Kusno
Ali Kusno

Oleh: Ali Kusno
Widyabahasa, Kepakaran Linguistik Forensik, Balai Bahasa Provinsi Kaltim

KALTIMPOST.ID - Perjalanan saya saat ini, dari Tering menuju Ujoh Bilang, bukanlah perjalanan biasa. Perjalanan ini atas undangan Pemerintah Kabupaten Mahakam Ulu untuk memberikan materi tentang penyusunan naskah dinas. Saya sangat mengapresiasi Pemkab Mahulu yang mengoptimalkan kegiatan di daerah, tidak di Samarinda, Balikpapan, apalagi Jakarta. Memang begitu seharusnya agar ekonomi daerah berjalan.

Jalur sungai masih menjadi primadona daripada jalur darat yang infonya masih tahap pembangunan. Perjalanan ini sama sekali tidak menjemukan. Sepanjang perjalanan, disuguhi suara gemercik dan deburan air Mahakam yang beradu dengan lambung perahu. Di balik deru mesin perahu membelah Mahakam, muncul perdebatan dalam keheningan pikiran.

Kanan kiri terlihat rimbun pepohonan. Rapat dengan semak belukar. Inilah anugerah Mahulu. Keaslian yang sulit ditemukan di banyak tempat lain di Kaltim. Teringat dua tahun lalu, dalam perjalanan Long Apari menuju Melak, seorang teman seperjalanan, turis dari Italia, berujar, "Di Mahakam Ulu saya menemukan Tuhan. Pohon menjulang di kanan kiri Mahakam memberi kedamaian, ketenangan."

Memang faktanya demikian. Mahulu bukan sekadar kabupaten. Mahulu adalah benteng terakhir hutan hujan Kaltim, jantung ekologis yang memberi napas bagi jutaan orang.

SIMBOL CINTA

Mahulu yang anggun tetap diam di tengah ramai perbincangan. Perbincangan dua pendukung pemimpin daerah di Kaltim beradu argumen dalam mengatasi banjir di Samarinda. Perihal, mana yang harus didahulukan, mengeruk Karang Mumus, atau Mahakam? Perdebatan itu menggambarkan bahwa para pemimpin masih parsial dalam memandang persoalan. Egosentris begitu terasa.

Perjalanan ke Mahulu ini memberikan perspektif yang berbeda. Persoalan banjir Samarinda, Kukar, Kubar, Mahulu, pemicu utamanya makin hilangnya daerah resapan. Ketiadaan daerah resapan, membuat air hujan melenggang tanpa halangan masuk ke sungai, permukiman, dan kota. Fakta bahwa banyak daerah tangkapan air di setiap kabupaten/kota makin mengkhawatirkan. Hutan kian hilang, berganti perkebunan sawit dan tambang.

Inilah ironinya. Leluhur kita telah berpesan melalui penamaan Mahakam. Nama Mahakam adalah warisan kaya yang melintasi zaman. Secara linguistik, sebagaimana ditulis Muhamad Sarip dalam buku Sungai Mahakam dalam Arus Sejarah dan Budaya Samarinda, Mahakam berakar dari Sanskerta: Maha (besar) dan Kama (cinta).

Gabungannya, Mahakama, berarti 'Cinta yang Besar nan Agung'. Ini adalah penghormatan spiritual leluhur terhadap sungai, sumber kehidupan yang melahirkan peradaban tertua Nusantara, Kerajaan Kutai Martadipura. Cara kita memperlakukan Mahakam saat ini, menunjukkan keagungan cinta itu telah kita reduksi demi kepentingan ekonomi.

KEPENTINGAN IKN

Dalam konteks Kaltim saat ini, Mahakam Ulu seperti kawasan 'Puncak dan Bogor bagi Jakarta'. Kalau sampai perusakan lingkungan berbalut jubah peradaban modern masuk ke Mahulu, itu jadi alarm bagi daerah hilir, seperti Kubar, Kukar, dan Samarinda.

Potensi degradasi lingkungan di Mahulu dapat menciptakan bahaya ekologis yang mengkhawatirkan. Ancaman hilangnya daya tangkap dan serap kawasan Mahulu dapat memicu banjir yang lebih besar. Aliran akan membawa sedimentasi yang mengancam lumpuhnya jalur logistik.

Pada sisi lain, jika air tak tersimpan, saat curah hujan menurun, debit Mahakam akan anjlok. Potensi kekeringan ekstrem mengintai. Seperti saat ini, debit Mahakam sedang turun. Kapal barang hanya sampai Long Hubung. Kita sudah lihat dampaknya. Kekeringan membuat Mahulu terisolasi. Harga sembako melonjak, seperti penggalan lirik lagu Agnes Monica, ‘kadang-kadang tak ada logika’. Bagi daerah hilir, krisis air bersih pun mengintai.

Bukan hanya persoalan debit air. Kebersihan Mahakam pun mengkhawatirkan. Sampah plastik mulai terlihat terbawa arus. Selain itu, kebiasaan sebagian warga yang tinggal di sepanjang bantaran Mahakam dengan buang hajat ke sungai perlu juga diubah dan dicarikan solusinya.
Beragam ancaman itu menjadi sangat vital karena menyangkut masa depan Ibu Kota Nusantara.

Sungai Mahakam diwacanakan menjadi sumber air baku utama bagi jutaan penduduk IKN. Kestabilan debit air Mahakam, yang salah satunya dijamin oleh kelestarian hutan Mahulu, menjadi kunci keberlanjutan IKN. Menjaga Mahulu kini menjadi isu keberlanjutan nasional.

Kita tidak bisa berpangku tangan dan tutup mata. Kalau tidak ada kesadaran kolektif, utamanya para pimpinan di Kaltim, rerimbunan hutan yang asri di Mahulu akan bernasib sama dengan wilayah hilir.

Selayaknya ada upaya nyata. Jangan biarkan Mahulu ikut mengejar Pendapatan Asli Daerah (PAD) dengan 'melelang kawasan hutan'. Jasa ekologis Mahulu jauh lebih berharga daripada PAD sesaat. Pada sisi lain, Pemkab Mahulu juga tidak ingin terus ditinggal kakak-kakaknya yang telah mapan.

Oleh karena itu, Pemerintah Provinsi Kaltim dan Kabupaten/Kota di hilir harusnya memberi andil kompensasi PAD bagi Mahulu yang tetap menjaga kawasan hutan. Daerah hilir, yang menikmati perlindungan banjir dan pasokan air baku, selayaknya memberikan transfer fiskal kepada Mahulu.

Insentif ini bentuk pengakuan bahwa menjaga hutan adalah ‘jasa’ yang bernilai tinggi.
Pembangunan Mahulu harus dengan perspektif yang berbeda. Ekonomi hijau sudah selayaknya benar-benar diterapkan. Mahakam dengan panjang 920 kilometer ini menjadi pembuluh darah bagi peradaban di Kaltim. Kalau pembuluh ‘Mahakam’ ini sampai tersumbat akibat kerusakan lingkungan, tinggal menunggu serangan 'stroke'nya saja. Semoga itu tidak terjadi.

Perdebatan pikiran ini pun harus diakhiri saat perahu merapat di dermaga Ujoh Bilang. Kondisinya masih sama dengan pertama saya ke sini beberapa tahun lalu. Demaga ini menjadi bahasa kesederhanaan masyarakat dan pemerintah Mahulu di tengah iming-iming ‘menjual warisan’ demi kemewahan seperti kakak-kakaknya.

Perahu melaju melanjutkan perjalanan ke hulu. Membelah Mahakam berpeluk pepohonan. Akankah pemandangan ini masih sama berpuluh tahun lagi. Entahlah. Cinta yang besar nan agung harusnya lestari terjaga. Semoga. (*)

Editor : Duito Susanto