Utama Samarinda Balikpapan Kaltim IKN Nasional Olahraga Bisnis Lifestyle Opini Sosbis Hiburan Kesehatan

Meneguhkan Peran Guru sebagai Motivator dan Inspirator

Muhammad Aufal Fresky • Sabtu, 8 November 2025 | 12:20 WIB

 

Muhammad Aufal Fresky, Penulis buku Empat Titik Lima Dimensi.
Muhammad Aufal Fresky, Penulis buku Empat Titik Lima Dimensi.

KALTIMPOST.ID, Tidak dimungkiri lagi, guru memiliki peran sentral dalam membentuk kepribadian luhur generasi muda. Semacam menjadi ujung tombak untuk mempersiapkan calon pemimpin masa depan.

Mau tidak mau, suka tidak suka, guru memang sudah semestinya menjadi inspirator dan motivator bagi anak didiknya.

Sebab, tidak jarang, saya sendiri percaya, setiap siswa memiliki potensi dan keunikannya masing-masing. Tidak bisa disamaratakan.

Apalagi, hanya mengukur kemampuan siswa dari satu indikator saja, seperti pemahaman menguasai pelajaran Matematika. Padahal, kalau boleh diumpamakan, mustahil mengukur ikan, macan dan jerapah dari aspek kemampuannya untuk terbang.

Kita tidak mungkin menilai burung dari kemampuannya untuk berenang di sungai atau lautan.

Begitu juga dengan para siswa yang kecerdasan atau kemampuannya tidak bisa diukur hanya dari satu bidang saja.

Bisa jadi, mereka yang lemah di bidang matematika atau fisikika, itu memiliki bakat di bidang melukis. Bisa jadi, siswa yang sulit memahami pelajaran bahasa Indonesia, memiliki kecakapan di bidang olahraga. Dan masih banyak lagi, contohnya yang tidak bisa saya jabarkan semua di sini. Artinya, guru hanya sebagai fasilitator, motivator, dan evaluator dari setiap proses pembelajaran siswa.

Dalam hal ini, tugasnya memang mendorong siswa untuk menemukan dan mengasah potensinya masing-masing.

Bukan justru melemahkan semangat, gairah, dan spiritnya dalam belajar sebab nilai yang anjelok di salah satu mata pelajaran.

Di sinilah, perlu kebijaksanaan sang guru dalam mengamati, menilai, dan mengavluasi kemampuan setiap anak didiknya.

Selaku penulis, saya pribadi memiliki pengalaman ketika menghadapi siswa dengan beragam tipikalnya. Saat itu, saya masih cukup aktif mengajar di salah satu sekolah swasta di Madura.

Saya kerap menjumpai beberapa siswa yang unggul di salah satu mata pelajaran, tapi di sisi lain cukup kesulitan untuk memahami pelajaran lainnya.

Pun demikian dengan beberapa siswa yang memiliki kemampuan non-akademik di atas rata-rata yang mungkin jarang diperhatikan.

Tidak hanya itu, saya juga sering menegur dan menindak secara langsung siswa yang “bermasalah” dengan kedisiplinan di sekolah. Mulai pakaian yang tidak rapi, telat masuk kelas, bolos, hingga merokok di lingkungan sekolah.

Dari pengalaman tersebut, saya bisa sedikit mengetahui bahwa mendidik siswa itu membutuhkan komitmen, ketulusan, tekad, dan konsistensi.

Sebab, kalau boleh jujur, memang guru semestinya bukan sekadar mengajar, memberikan tugas, memberikan pekerjaan rumah, lalu pulang ke rumah masing-masing.

Lebih dari itu, guru, hemat saya, harus betul-betul peduli dengan perkembangan mental dan karakter siswa. Sebab, tidak jarang, siswa yang ada di dalam kelas itu memiki sejumlah persoalan dengan teman atau keluarganya di rumah.

Maka dari itu, guru dituntut untuk mampu bukan sekadar menjadi pengajar dan pendidik, tapi pengayom bagi siswanya.

Bahkan, guru juga dituntut bisa menjadi “sahabat” bagi anak-anaknya yang mungkin memiliki masalah di luar sekolah.

Jadi, guru bisa menjadi tempat berkeluh-kesah dan tempat curhat para siswanya. Harapannya siswa yang “bermasalah” tersebut bisa menemukan titik terang dan jalan keluar dari persoalan yang dihadapi. Bukan sebaliknya, jutru lari ke hal-hal negatif yang bisa merusak masa depannya.

Sebab, bisa saja, siswa bermasalah tersebut tmerasa tidak mendapatkan perhatian dan kasih sayang, baik ketika di rumah maupun di sekolah. Sehingga, siswa semacam itu rawan terpengaruh pergaulan yang sifatnya destruktif.

Inisiatif guru untuk menjadi pendengar yang baik menjadi salah satu cara untuk merangkul semua anak didiknya yang bermasalah agar kembali bersemangat belajar.

Lagi-lagi, guru harus bisa menjadi motivator dan sekaligus inspirator bagi anak didiknya. Memotivasi mereka untuk semangat belajar dan semangat mengembangkan diri di sekolah maupun di luar sekolah.

Jamaluddin (2005) mengungkapkan bahwa terdapat lima elemen belajar yang efektif, yaitu: (a) aptitude (kemampuan) yang bisa mempengaruhi perilaku; (b) perseverance (ketekunan) yang mempengaruhi motivasi; (c) opportunity to learn (kesempatan untuk belajar) yang bisa mempengaruhi kreativitas; (d) quality of instruction (kualitas pembelajaran); (e) ability to understan (kemampuan memahami) yang bisa mempengaruhi prestasi.

Dari kelima elemen belajar tersebut, motivasi disebutkan sebagai salah satu faktor yang berpengaruh untuk membuat pembelajaran menjadi efektif.

Selaras dengan itu, Sardiman (2001) juga menuturkan bahwa ada tiga fungsi motivasi. Di antaranya yaitu: (a) mendorong timbulnya laku atau perbuatan.

Dalam hal ini, motivasi sebagai motor penggerak dari setiap kegiatan yang akan dikerjakan; (b) motivasi sebagai pengarah, artinya motivasi mengarahkan perubahan untuk mencapai yang diingikan; (c) motivasi sebagai penggerak, artinya berfungsi sebagai pendorong usaha dan pencapaian prestasi.

Tanpa motivasi yang tinggi, siswa akan mudah terdistraksi, kehilangan kemauan, dan mudah bosan dalam belajar.

Itu semua bermula dari tidak adanya motivasi, baik dari dalam dirinya sendiri (internal) ataupun dari luar dirinya (eksternal).

Dan terkait itu, guru bisa mengambil peran lebih intens lagi dalam mendorong siswa lewat petuah-petuahnya atau lewat arahan-arahannya.

Ibarat “kompas”, guru berperan untuk menunjukkan arah bagi siswa. Bagaikan “pelita”, guru berperan menerangi jalan yang sedang dan akan disusuri oleh para siswanya.

Jadi wajar jika banyak yang berpendapat bahwa tidak cukup jika peran guru sebatas mentransfer ilmu dan pengetahuan kepada anak didiknya.

Artinya, bukan hanya mendidik akal pikiran, tapi juga mendidik jiwa para siswanya. Tentu tujuannya untuk mencetak generasi masa depan yang bertakwa, cerdas, visioner, nasionalis, cakap, dan berbudi luhur.

Dalam hal ini, memang harapannya, pasca lulus dari sekolah, para siswa bisa menjadi generasi yang bisa diandalkan dan berkarakter tentunya.

Apalagi, tantangan dan ancaman yang sedang dihadapi generasi muda sekarang cukup beragam dan kompleks. Baik di dunia nyata maupun maya, semua ancaman itu mengintai.

Seperti halnya maraknya judi online (judol), pornografi, narkoba, pergaulan bebas, dan semacamnya.

Kita perlu betul-betul melindungi generasi muda agar tidak terjerembab ke hal-hal negatif seperti itu. Sebab, harga yang harus dibayar teramat mahal. Yakni masa depan pemuda itu sendiri, dan bahkan masa depan bangsa ini.

Oleh karena itulah, sudah saatnya, saya berpikir, guru mesti lebih proaktif mengambil peran sebagai inspirator. Artinya, segala perkataan, tindakan, dan gerak-gerik guru harus memberikan keteladanan bagi para siswanya.

Sebab, mereka, para siswa tersebut, disadari atau tidak, memperhatikan, menilai, dan bahkan mencontoh guru-gurunya.

Editor : Hernawati
#guru #generasi muda #peran guru