Utama Samarinda Balikpapan Kaltim IKN Nasional Olahraga Bisnis Lifestyle Opini Sosbis Hiburan Kesehatan

Balikpapan dan Ilusi Kemakmuran Migas

Redaksi KP • Selasa, 11 November 2025 | 18:51 WIB
Daliilah Shafiyyah
Daliilah Shafiyyah

Oleh:

Daliilah Shafiyyah

Mahasiswa Program Studi Ilmu Ekonomi Universitas Airlangga

TERLALU bergantung pada migas membuat perekonomian Balikpapan seperti ‘tergantung cuaca’. Naik saat harga minyak dunia tinggi atau ketika proyek besar digarap, lalu turun begitu euforia pembangunan mereda.

Saat harga minyak menguat atau investasi jumbo masuk seperti proyek RDMP (Refinery Development Master Plan) yang meningkatkan kapasitas dan kualitas kilang, ribuan tenaga kerja lokal maupun migran terserap. Angka pengangguran menurun, permintaan sewa properti naik, konsumsi barang meningkat, dan jasa logistik ikut terdongkrak.

Namun, ketika harga minyak global jatuh, perusahaan langsung melakukan efisiensi. Subkontraktor dan pekerja kontrak menjadi pihak paling terdampak dari PHK massal. Situasi serupa terjadi saat fase konstruksi proyek besar selesai. Tenaga kerja kontrak berkurang, pendatang kembali ke daerah asal, sementara sebagian lainnya memilih bertahan meski belum memiliki pekerjaan. Permintaan barang dan jasa pun anjlok, menyeret perekonomian kota menjadi lesu.

Pada 2021, RDMP menyerap hingga 6.500 pekerja dan pada masa puncaknya membutuhkan 15.000 tenaga kerja. Tetapi pada 2023, ketika RDMP mulai masuk fase operasional, kebutuhan tenaga kerja hanya sekitar 600–800 orang. Angka ini disampaikan Manajer HSSE PT Pertamina Kilang Balikpapan (KPB), Judy Pudji.

Berdasarkan PDRB Kota Balikpapan tahun 2022, sektor industri pengolahan menyumbang 47,20 persen dari struktur ekonomi, dengan Pertamina RU V sebagai penggerak utama. Angka PDRB per kapita terlihat tinggi, tetapi sebagian besar keuntungannya dibawa keluar daerah oleh perusahaan besar atau dinikmati kelompok pekerja berkemampuan tinggi.

Terbentuklah “ilusi kemakmuran”: ekonomi makro tampak kuat karena PDRB dan pertumbuhan ekonomi tinggi, serta pengangguran rendah, tetapi manfaatnya tidak merata dan tidak berkelanjutan.

Masuknya pekerja migas, kontraktor, hingga pencari peluang di sektor jasa membuat layanan publik terbebani. Infrastruktur kewalahan, populasi tumbuh tanpa rencana, hunian dan fasilitas kesehatan tertekan. Harga properti melonjak hingga tidak lagi terjangkau warga lokal dan pelaku UMKM.

Pekerja migas bergaji besar, sementara pelaku usaha kecil harus berjuang keras. Warga berpenghasilan rendah akhirnya terdesak ke permukiman padat dan minim fasilitas. Ini bukan kemajuan; ini bom waktu. Kita memerlukan penyelesaian berbasis KOMIT: Komprehensif, Inklusif, dan Terintegrasi.

Komprehensif berarti kebijakan yang mencakup seluruh aspek. Balikpapan harus mengalihkan fokus dari migas ke sektor berjangka panjang. Manfaatkan posisi strategis sebagai pintu gerbang Kalimantan Timur, dengan satu-satunya bandara internasional dan pelabuhan terbesar. Bentuk klaster nonmigas seperti jasa logistik modern, gudang pendingin terpusat, dan integrasi layanan transportasi. Kembangkan industri pengolahan hasil laut seperti pengalengan, pembekuan, hingga produk turunan bernilai tambah. Bangun transformasi dari pengekspor bahan mentah menjadi eksportir produk olahan.

Inklusif berarti melibatkan semua pihak yang terkena dampak dan memastikan keadilan. Saat harga minyak tinggi atau proyek besar berjalan, Pemerintah Kota Balikpapan perlu menarik kelebihan PAD dan memasukkannya ke dana cadangan.

Dana ini digunakan untuk meredam guncangan saat harga minyak turun atau ketika PHK massal terjadi. Pemkot dapat mengalokasikannya untuk KUR Daerah berbunga rendah agar UMKM dapat memperluas usaha tanpa terjerat rentenir. Ketimpangan hunian ditangani melalui pembangunan rusunawa bersubsidi khusus pekerja informal lokal, dengan batas harga sewa atau cicilan yang ketat.

Terintegrasi berarti kebijakan lintas sektor berjalan sinkron untuk mengatasi inflasi musiman dan struktural, terutama harga pangan. Pasar tradisional dan modern perlu terhubung dalam satu sistem rantai pasok yang ringkas dan efisien.

Bangun cold storage sederhana agar hasil panen dapat disimpan. Saat musim paceklik, stok dapat dilepas ke pasar untuk menahan lonjakan harga. Pemantauan harga real-time oleh Dinas Perdagangan, Dinas Pertanian, dan BPS sangat penting. Begitu harga cabai atau sayur naik tajam, tim segera turun ke pasar dan menyalurkan stok cadangan agar harga tetap stabil.

KOMIT bukan sekadar singkatan, tetapi strategi bertindak. Ia mengingatkan bahwa Balikpapan menghadapi ancaman serius jika tetap bergantung pada migas dan proyek-proyek musiman. Tidak ada kemakmuran yang bertahan tanpa diversifikasi ekonomi, pemerataan, dan ketahanan sosial. Saatnya bergerak. Sebelum bom waktu itu benar-benar meledak. (***/rdh)

 

 

 

 

Editor : Muhammad Ridhuan
#harga minyak dunia #rdmp #pertamina #umkm #pekerja migas #balikpapan