Utama Samarinda Balikpapan Kaltim IKN Nasional Olahraga Bisnis Lifestyle Opini Sosbis Hiburan Kesehatan

Generasi Adiksi Interaksi ke Adiksi Literasi, Mungkinkah?

Redaksi KP • Rabu, 26 November 2025 | 20:26 WIB

Kevin Septian
Kevin Septian

Oleh:

Kevin Septian

Dokter Gigi, Pegiat Literasi

MENTERI Pendidikan Dasar dan Menengah, Abdul Mu'ti menyoroti rendahnya minat baca pelajar serta lemahnya kemampuan memahami bacaan. Mengacu data UNESCO, minat baca Indonesia berada pada angka 1:1.000, artinya dari 1.000 orang, hanya satu yang memiliki minat baca.

Angka itu ironis, terutama di tengah kemajuan teknologi dan mudahnya akses informasi. Tantangan kita kian berat: minat baca menurun, tetapi adiksi interaksi digital meningkat tajam. Pertanyaannya, mungkinkah kita menyesuaikan diri?

Kemajuan teknologi, yang berwatak interaktif lewat media sosial seperti Instagram, Facebook, TikTok, YouTube Shorts, menciptakan ekosistem adiksi interaksi. Ruang digital yang awalnya memudahkan pencarian informasi perlahan berubah menjadi medan candu: orang mengejar like, komentar, dan pembagian konten, sehingga terjebak dalam pola konsumsi instan.

Adiksi interaksi terjadi tanpa disadari, terutama saat menggulir video pendek (short video). Aktivitas scrolling ini menjadi persoalan serius karena orang Indonesia rata-rata menghabiskan waktu sembilan jam per hari dengan gawai. Sejumlah penelitian menunjukkan paparan video pendek yang berulang dapat menurunkan stimulasi kognitif; informasi yang pendek dan instan tidak melatih daya pikir bertahap, melainkan memanjakan kebutuhan akan jawaban cepat.

Fenomena ini tampak nyata di lapangan. Banyak orang kini ingin jawaban singkat dan instan. Kreator konten pun berlomba memenuhi kebutuhan itu demi klik dan reputasi sosial. Informasi pendek lalu diperlakukan sebagai kebenaran utuh. Di sinilah reduksi penalaran mulai terjadi.

Contoh dalam praktik medis: beberapa pasien datang dengan ketakutan setelah menonton video TikTok.

“Dok, saya takut cabut gigi. Kata TikTok bisa meninggal,” ujar seorang pasien.
Informasi sepotong seperti ini menjadi sumber kecemasan, padahal lebih aman bertanya kepada tenaga kesehatan atau membaca penjelasan resmi.

Di titik ini, saya melihat langkah pemerintah menggalakkan budaya membaca dan menulis sebagai sesuatu yang krusial. Negara maju adalah negara yang membaca, menulis, dan berpikir. Membiasakan membaca serta meresensi buku akan menumbuhkan gagasan-gagasan baru dan memperkaya diskursus publik.

Tiga Pemikiran

Ketegangan antara adiksi interaksi dan kebutuhan literasi bukan fenomena baru. Dalam tradisi pemikiran Kristen Timur Abad VII, Maximus Sang Pengaku Iman telah memperingatkan bahaya kehidupan yang hanya terpaku pada rangsangan inderawi. Aktivitas seperti scrolling tanpa henti—dalam pandangannya—merupakan perbudakan pada dunia indera yang memecah perhatian (nous) dan menjauhkan manusia dari pengetahuan sejati. Informasi instan ia sebut sebagai “pengetahuan palsu” yang melayani nafsu, bukan kebenaran.

Daripada melawan kemajuan internet, kita perlu menumbuhkan adiksi literasi sebagai penyeimbang. Dengan pandangan Maximus sebagai inspirasi, saya menawarkan tiga pemikiran:

  1. Menumbuhkan Kebiasaan Membaca di Keluarga

Keluarga adalah ruang pertama interaksi manusia. Ketika orang tua membiasakan anak membaca, mereka menanamkan kemampuan bernalar sejak dini. Tantangannya, banyak orang tua juga malas membaca, sehingga perubahan harus dimulai dari mereka sendiri.

Maximus memandang membaca dan menulis sebagai latihan spiritual bagi akal budi. Membaca melatih kontemplasi; menulis menata pikiran. Ajaklah anak ke toko buku, kenalkan bahan bacaan, dan tumbuhkan imajinasi mereka.

  1. Migrasi dari Buku Elektronik ke Buku Fisik

Salah satu solusi mengurangi adiksi gawai adalah kembali ke buku fisik. Membaca lewat gawai sering terganggu notifikasi, sedangkan buku fisik menjaga fokus.

Saat perangkat diisi daya, sediakan buku sebagai alternatif. Membaca 5 menit, lalu meningkat bertahap menjadi 30 menit, dapat mengubah cara berpikir dan memulihkan fokus.

  1. Menyediakan Toko Buku atau Ruang Baca Terjangkau

Aspek ekonomi juga menjadi kendala. Karena itu, pemerintah dan komunitas perlu menghadirkan buku ke tengah masyarakat.

Inisiatif seperti Ruang Literasi Samarinda di Taman Cerdas patut diapresiasi: membuka lapak “Baca Buku Bareng Gratis” setiap Rabu, Sabtu, dan Minggu. Selain itu, toko buku bekas juga perlu diperbanyak; buku bekas bukan berarti tak layak baca, melainkan kesempatan belajar dengan harga terjangkau.

Penutup

Membaca bukan sekadar hobi. Ia bagian dari kodrat manusia sebagai makhluk yang berpikir. Tanpa membaca dan bernalar, manusia akan mengalami kemunduran intelektual.

Jika membaca adalah ruang kontemplasi, maka menulis adalah ruang menata pikiran. Inilah yang selaras dengan ajakan Abdul Mu'ti untuk menghidupkan kembali budaya literasi.

Dari perspektif Ortodoksi, melalui Maximus, program literasi bukan sekadar meningkatkan peringkat internasional, melainkan mengembalikan manusia pada kemampuan berpikir mendalam.

Dengan demikian, sangat mungkin generasi kita bergerak dari adiksi interaksi menuju adiksi literasi, bukan karena dipaksa, tetapi karena menemukan kembali makna dalam membaca dan menulis. (***/rdh)

 

Editor : Muhammad Ridhuan
#tiktok #unesco #minat baca #facebook #Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah #abdul mu'ti