Oleh:
Andi Muhammad Abdi
Dosen Komunikasi dan Penyiaran Islam UINSI
SEJAK Rakerda Gerindra Kaltim 2025 digelar pada minggu (23/11/2025) di Puri Senyiur Samarinda, Partai Gerindra menjadi topik yang terus berseliweran di berbagai ruang publik. Di media online, media sosial, hingga di obrolan santai di kafe, warkop, dan ruang-ruang pertemuan informal, nama Gerindra terus berbunyi dalam berbagai percakapan.
Yang paling menyita perhatian tentu saja bergabungnya dua kepala daerah, Bupati Penajam Paser Utara, Mudyat Noor, dan Bupati Kutai Kartanegara, Aulia Rahman Basri, sebagai kader baru Partai Gerindra. Di saat yang sama, kehadiran Bupati Mahakam Ulu (Mahulu), Angela Idang Belawan, juga menarik perhatian publik sebagai penanda penting dalam peta relasi politik tingkat daerah.
Publik menangkap peristiwa itu tidak hanya sebagai dinamika internal partai, tetapi sebagai sinyal kuat yang sedang disampaikan Gerindra. Dalam perspektif komunikasi politik, kemunculan tiga kepala daerah sekaligus dalam satu panggung partai dapat dilihat sebagai bentuk komunikasi simbolik yang kekuatannya bahkan melampaui pidato. Ini karena simbol beroperasi melalui persepsi, bukan kata. Dan persepsi itulah yang kemudian membentuk cara kita menafsir dan memaknai suatu peristiwa politik.
Gerindra Kaltim di bawah kepemimpinan Seno Aji tampak sedang membangun narasi bahwa mereka bukan hanya mesin politik, tetapi poros kekuatan baru di Kaltim. Rakerda tampak sebagai panggung untuk menunjukkan daya tarik partai sebagai rumah besar yang siap menaungi para pemimpin daerah. Dengan hadirnya tiga kepala daerah menegaskan citra dan legitimasi tersebut.
Dalam ranah komunikasi politik sendiri, tidak ada yang namanya kebetulan. Kehadiran seorang tokoh dalam sebuah event politik, apalagi sekelas rakerda, tentu dapat dibaca sebagai sebuah bentuk komunikasi. Ada pesan yang ingin disampaikan, ada hubungan yang ingin ditunjukkan, dan ada arah politik yang ingin dipertegas.
Bagi Mudyat Noor dan Aulia Basri Rahman, keputusan untuk secara resmi menjadi kader Gerindra adalah pernyataan politik yang jelas. Ini menciptakan symbolic association, yakni ketika figur publik mengikatkan citra dan reputasi mereka pada simbol partai tertentu. Dengan langkah ini, mereka tidak hanya bergabung, tetapi menjadi bagian dari narasi kemenangan Gerindra di masa depan.
Sementara kehadiran Bupati Mahulu, Angela, meski tidak diumumkan sebagai kader baru, tetap memiliki muatan simbolik yang besar. Sebab ia membawa representasi wilayah paling hulu di Kaltim, daaerah yang selama ini jarang muncul dalam panggung politik provinsi. Gestur kehadirannya memperluas kesan bahwa Gerindra sedang mendekatkan diri ke seluruh spektrum geografis dan politik Kaltim, dari pesisir hingga perbatasan.
Rangkaian simbol ini dapat dimaknai sebagai sebuah pesan, bahwa Gerindra sedang memperluas jejaring kekuasaannya melalui pendekatan yang terstruktur dan terukur. Dan momentum Rakerda kemudian dimanfaatkan sebagai saluran komunikasi simbolik tersebut.
Namun simbol itu sendiri tidak berhenti pada kehadiran. Simbol juga dapat membangun narasi. Dan narasi yang sedang dibangun Gerindra kemudian mulai tampak jelas. Mereka ingin menunjukkan soliditas, kesiapan struktural, dan kapasitas besar dalam mengelola dukungan politik. Rakerda 2025 kemudian menjadi titik di mana seluruh elemen partai memperlihatkan keseriusan dalam memperkuat struktur hingga tingkat cabang dan ranting.
Disisi lain, politik tidak bisa selalu bersifat pragmatis dan berorientasi kekuasaan. Perlu ada upaya pengaderan untuk menanamkan nilai-nilai politik kepartaian yang menjadi fondasi ideologi sebuah partai politik. Sebagai salah satu partai besar di Indonesia, Gerindra tidak bisa hanya menekankan konsolidasi internal, tetapi juga harus mengedepankan pendidikan politik berkelanjutan bagi kader.
Tentu saja, dari sisi elektoral, momen kehadiran tiga kepala daerah ini menciptakan apa yang dalam teori komunikasi politik disebut bandwagon effect. Ketika publik melihat ada figur-figur berpengaruh yang mendekat ke Gerindra, persepsi publik tentang kekuatan partai ikut menguat. Dan dalam politik, persepsi tentang peluang menang sering kali menjadi faktor penentu di masyarakat.
Namun kehadiran mereka juga bisa dipandang dari sudut berbeda, di mana mereka diharapkan dapat berkontribusi terhadap peningkatan kualitas partai dan kapasitas kader. Dengan memberikan prioritas kepada kader-kader senior, sembari membuka ruang bagi kader baru yang potensial untuk membesarkan partai, Gerindra memiliki kesempatan untuk membangun keseimbangan antara pengalaman dan energi baru.
Simbol kuat juga harus diikuti dengan kerja konkret. Gerindra perlu memastikan bahwa hubungan politik dengan para kepala daerah ini benar-benar menghasilkan sinergi pembangunan, terutama menghadapi tantangan besar seperti dukungan daerah terhadap ekosistem IKN dan pemerataan pembangunan antar wilayah. Jika sinergi ini diwujudkan dalam kebijakan dan kolaborasi nyata, maka simbol di Rakerda bukan hanya menjadi foto dan video viral, tetapi bukti kontribusi Gerindra bagi masyarakat luas.
Yang menarik, momentum ini juga berpotensi memperkuat posisi Seno Aji sebagai nakhoda Gerindra Kaltim. Ini adalah kesempatan untuk menunjukkan pada publik bahwa ia bisa membawa Gerindra bukan hanya survive, tetapi bertumbuh. Salah satunya dengan menggunakan pendekatan yang konsisten, tenang, dan terukur, untuk mengonsolidasikan struktur dan memperluas jejaring politik.
Ini penting, agar publik dapat melihat Gerindra sebagai partai politik yang konsisten bekerja. Tidak reaktif, tetapi adaptif. Dan tidak hanya hadir saat pemilu, melainkan aktif membangun relasi politik dan memperkuat pelayanan kepada masyarakat.
Jika Gerindra mampu menerjemahkan momentum simbolik ini dalam bentuk kerja politik yang terarah, maka Rakerda 2025 bukan hanya catatan organisasi, tetapi langkah awal menuju peta kemenangan yang lebih besar di Kaltim.
Simbol yang kuat, narasi yang terbangun, dan struktur yang solid adalah tiga formula penting yang sudah tampak pada Gerindra hari ini. Publik kini menunggu dan siap menilai sejauh mana kehadiran partai Gerindra dapat bermanfaat bukan hanya bagi kalangan elite politik lokal, namun yang terpenting lagi, bagi seluruh masyarakat Kaltim. (adv/luc/rdh)
Editor : Muhammad Ridhuan