KALTIMPOST.ID, Hingga saat ini, kisruh internal Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) sepertinya masih belum menemui titik terang. Publik menyoroti dan bahkan menanti babak demi babak adanya wacana pemakzulan Ketua Umum PBNU Yahya Cholil Staquf atau Gus Yahya. Berbagai media massa, cetak dan online, menjadikan berita terkait badai di tubuh NU sebagai headline.
Terbaru, seperti yang dilansir laman Jawapos.com (28/11), Gus Yahya bersama beberapa pengurus inti PBNU sowan kepada para masyayikh di Ponpes Lirboyo. Tentu, silaturahmi tersebut bukan tanpa alasan. Dia, bersama rombongannya, hendak meminta doa kepada kiai sepuh Lirboyo untuk menjaga marwah Jam’iyah, merawat kesejukan, dan mengupayakan islah di tengah badai yang menerpa kapal NU.
Perlu dipertegas terlebih dahulu, saya menulis catatan ini sama sekali tidak ada maksud untuk memperkeruh suasana. Anggap saja ini sebagai upaya saya untuk memuntahkan isi kerisauan dalam alam pikiran. Setidaknya, dengan menulis, saya pribadi bisa sedikit lega. Syukur-syukur bisa sedikit berdampak positif. Kembali lagi terkait NU, kita tahu bahwa NU adalah ormas Islam besar yang boleh dikatakan pengurus besarnya sedang berdinamika.
Entah ke mana muara dinamika ini, apakah akan berujung pada berhentinya Gus Yahya sebagai Ketum, atau bagaimana? Tapi, sekali lagi, warga NU, baik yang struktural maupun kultural, tidak ingin kapal besar ini terombang-ambing tanpa arah dan tujuan. Apalagi sampai karam, tentu tidak kita inginkan.
Baik Gus Yahya maupun Rais Aam Kiai Miftahul Achyar, yang dikabarkan sedang berkonflik, saya kira bukan sosok sembarangan. Beliau berdua adalah ulama yang menjadi teladan masyarakat. Ibarat kompas yang menunjukkan arah umat.
Seperti halnya pelita yang menerangi gelapnya malam. Dua-duanya adalah pucuk pimpinan yang menjadi rujukan umat. Kendati pun memang, posisi Kiai Miftah di organisasi lebih tinggi karena beliau adalah Rais Aam Syuriah, sementara Gus Yahya adalah Ketum Tanfidziyah.
Dalam struktur organisasi, kedudukan Rais Aam sangat vital, sebab boleh dikatakan mengawasi dan mengontrol roda organisasi. Termasuk memberikan saran, petuah, dan nasihat pada jajaran Tanfidziyah.
Termasuk memberikan izin dan restu kepada Ketum atas segala kegiatan dan program yang dijalankan. Jika diumpamakan perusahaan, posisi Rais Aam ini layaknya pengarah dan pengawas utama kebijakan organisasi, sementara ketua umum adalah manajer.
Antara pengawas/pengarah dengan pelaksana organisasi memang sudah selayaknya akur dan kompak agar roda organisasi berjalan dengan optimal. Jika salah satu ataupun keduanya berkonflik atau halusnya berdinamika, maka organisasi bisa saja tersendat pergerakannya, bahkan bisa mandeg di tengah jalan. Belum lagi potensi adanya “penumpang gelap” yang sengaja ikut cawe-cawe untuk menciptakan kegaduhan dan pertikaian yang tak berkesudahan.
Penumpang gelap ini kadang sukar dideteksi wajahnya, tapi nyata kepentingannya. Entah itu kepentingan ideologi, ekonomi, politik, dan semacamnya. Intinya, dia menghendaki perpecahan di tubuh NU. Dengan segala macam cara, dia akan memanfaatkan momentum perselisihan di NU untuk menyusupkan agenda tersembunyinya.
Itulah yang saya khawatirkan sebenarnya. Bukankah potensi ancaman semacam itu harus diwaspadai? Sebab, kapal NU ini sedang diuji kekuatannya. Lebih-lebih, sepanjang perjalanan NU, peran dan kontribusinya untuk agama, nusa, dan bangsa, sekali lagi, sudah tak bisa dihitung lagi saking teramat banyaknya. Mulai dari pra-kemerdekaan hingga saat ini, badai demi badai, goncangan-goncangan mewarnai perjalanan NU.
Termasuk beragam perselisihan antarpengurusnya, konflik antarkiai, ketidaksamaan pandangan antaranggota, itu adalah sebuah hal yang wajar. Pergantian nakhoda NU, baik di jajaran Syuriah maupun Tanfidziyah setiap periodenya, kadang penuh gejolak. Bahkan pernah ada suatu masa di mana harus berhadap-hadapan langsung dengan penguasa Orde Baru. Riak-riak kecil hingga gelombang dahsyat, semua pernah dialami NU.
Kembali lagi, terkait konflik internal NU, saya nyatakan lagi bahwa saya tidak dalam posisi mendukung kubu Kiai Miftah maupun Gus Yahya. Lagi pula, saya juga tidak begitu percaya kedua tokoh tersebut memang sedang berkonflik secara serius, apalagi sampai kubu-kubuan. Apalagi sedang bermusuh-musuhan.
Justru yang saya takuti adalah jika tidak segera dimediasi dengan adanya islah, persoalan yang awalnya hanya di tubuh PBNU bisa meluas hingga ke PWNU, PCNU, Ranting, Ansor, Muslimat, Banser, dan banom-banom lainnya di berbagai tingkatan.
Seperti halnya percikan api yang mulanya hanya membakar tumpukan kertas dalam rumah, jika tidak segera dipadamkan maka lambat laun akan melahap habis seluruh isi rumah. Apalagi ada yang sengaja menyiramkan pertalite ke rumah tersebut. Semakin hangus tak tersisa. Semoga hal itu tidak terjadi pada ormas yang kita cintai ini.
Oleh sebab itu, islah menjadi salah satu cara untuk menyiramkan air pada percikan api tersebut agar tidak semakin berkobar. Rasa-rasanya, kita juga harus ekstra hati-hati adanya penunggang atau penumpang gelap yang sengaja membawa pertalite ataupun pertamax untuk membakar NU. Bagaimanapun juga, harus segera kita waspadai dan tangkal sedini mungkin.
Sebab, saya pribadi memperhatikan di medsos terutama, ada beberapa oknum yang sepertinya memang hendak mengadu domba, membenturkan kiai satu dengan kiai lainnya, sengaja membuat suasana semakin tidak kondusif. Penunggang gelap tersebut bisa saja bukan hanya satu dua orang, tapi puluhan dan bahkan ratusan orang yang terorganisir dan memiliki agenda terselubung atas gejolak di NU.
Dan bukan hal yang mustahil, penunggang gelap itu ada di tubuh NU itu sendiri. Musuh dalam selimut istilahnya. Sepintas nampak mendukung adanya islah, tapi nyatanya bersorak-sorai jika perpecahan dan pertikaian semakin menjadi-jadi.
Apakah memang ada oknum semacam itu? Entahlah. Saya hanya menduga-duga dan tidak ingin berburuk sangka. Intinya agar lebih waspada. Sebab, lawan terberat itu kadang datangnya bukan dari luar/pihak eksternal.
Justru yang bikin runyam persoalan itu datangnya dari dalam/internal. Akhir kata, saya hanya bisa menyumbang doa, semoga konflik ini segera mereda alias menemukan titik terang sehingga PBNU kembali fokus pada tugas-tugas dan agenda-agenda besarnya. Sebab, persoalan umat ini semakin menumpuk dan kompleks. (*)
*) Muhammad Aufal Fresky, Esais asal Madura
Editor : Almasrifah