Oleh:
Ridho Pratama Satria
Dosen Fakultas Ilmu Budaya Universitas Mulawarman
KALTIMPOST.ID-Pada akhir Desember 2025, beberapa pegiat media sosial dan aktivis di Indonesia mendapatkan aksi teror dari orang yang tidak dikenal.
Aksi teror ini berbentuk pemberian bangkai ayam, hacking nomor ponsel, hingga pelemparan bom molotov ke salah satu rumah korban teror.
Para influencer dan aktivis ini menduga, mereka mendapatkan teror karena mereka membahas soal bencana di Sumatera pada akhir November 2025.
Namun, ada frasa yang berbunyi “blessing in disguise”. Frasa ini bermakna, ada satu hal yang awalnya terlihat buruk, tapi kemudian hal itu malah menjadi kebaikan atau keuntungan.
Frasa itu sangat cocok digunakan untuk menggambarkan ironi dari aksi teror yang terjadi kemarin.
Awalnya, aksi teror dilakukan untuk memberikan esensi ketakutan kepada para korban teror. Namun, aksi teror menjadi bumerang bagi pelakunya sendiri.
Aksi teror ini malah mendorong publik untuk meningkatkan kesadaran mereka, terhadap isu yang dibahas dan disuarakan oleh para korban teror.
BEDA DULU, BEDA SEKARANG
Beberapa puluh tahun yang lalu, aksi teror memang efektif. Terutama sekali ketika informasi tidak bisa tersebar dengan cepat, seperti pada rentang medio 1980 – 1990-an.
Salah satu contoh aksi teror yang terjadi pada rentang waktu ini adalah, aksi teror kepada wartawan senior Peter Rohi (1983) yang mendapat kiriman kepala manusia karena ia menginvestigasi kasus pembunuhan misterius alias Petrus.
Aksi teror di atas sangat efektif karena pada kurun tahun 1980 – 1990an, penyebaran informasi masih sangat sulit dilakukan akibat keterbatasan infrastruktur dan fasilitas pendukungnya.
Informasi hanya bisa disebar lewat telegram, surat, dan telepon umum yang sangat terbatas. Jadi, ketika dulu orang mendapatkan teror, mereka kesulitan meminta bantuan kepada orang lain.
Paling maksimal, korban teror hanya mendapatkan bantuan dari keluarga serta orang-orang terdekatnya.
Kondisi ini membuat korban teror merasa ketakutan yang bersifat individual (ketakutan yang mereka rasakan sendiri).
Bahkan, mereka juga merasakan ketakutan isolatif (ketakutan yang membuat mereka terisolasi). Dengan ketakutan inilah, korban teror mendapatkan esensi ketakutan yang utuh.
Mereka pun terpaksa mengalah, cenderung memilih untuk diam, supaya ia tidak mendapatkan serangan teror lanjutan.
ESENSI TAKUT YANG HILANG
Kita sekarang sudah hidup di era digital. Era ini ditandai dengan perkembangan teknologi yang sangat pesat.
Lewat produk-produk teknologi seperti smartphone, kita bisa berkomunikasi dengan mudah dan menyampaikan informasi dengan cepat.
Dengan berubahnya pola komunikasi dan penyebaran informasi, aksi-aksi teror kepada influencer dan aktivis kemarin memberikan kesan ironi.
Aksi-aksi teror di era digital tidak akan memberikan esensi ketakutan yang maksimal. Alasannya, infrastruktur dan fasilitas penyebaran informasi sudah canggih.
Para korban teror bisa mengekspos aksi teror yang mereka dapatkan di media sosial mereka sendiri, sehingga aksi teror bisa viral dan mendapatkan atensi publik secara singkat.
Setelah aksi teror terekspos dan diketahui publik, maka esensi ketakutan aksi teror akan menghilang.
Awalnya, aksi teror ini ingin diberikan secara individual kepada korbannya saja. Namun, aksi terornya malah menjadi isu yang dikonsumsi publik.
Publik pun tidak tinggal diam, mereka berikan dukungan-dukungan moral yang positif kepada korban teror, supaya korban teror tidak merasa ketakutan.
Hebatnya lagi, publik ikut menjaga korban teror dengan memantau informasi terbaru dari korban teror.
Kondisi ini bisa anggap sebagai bentuk solidaritas publik, sehingga dukungan yang mereka berikan tidak membuat para korban teror terjebak di dalam ketakutan individual atau ketakutan isolatif.
EFEK BUMERANG
Setelah aksi teror ini diketahui publik, maka publik akan penasaran dan bertanya-tanya, mengapa para influencer dan aktivis ini mendapatkan teror?
Apa yang telah mereka lakukan, sehingga mereka harus mendapatkan kiriman bangkai ayam dan pelemparan bom molotov ke rumahnya?
Publik pun akhirnya tahu, para influencer dan aktivis ini sudah membicarakan hal-hal yang ‘serius’, sehingga mereka harus mendapatkan teror.
Kondisi di atas mendorong munculnya efek snowball. Awalnya, publik tidak tahu-menahu apa yang sedang dikerjakan para influencer dan aktivis.
Namun, lewat kehebohan aksi teror ini, publik menjadi tahu isu apa yang sedang dibahas, yaitu isu-isu yang berhubungan dengan bencana di Sumatera pada akhir November 2025 kemarin.
Hebatnya lagi, publik mengedukasi diri mereka sendiri tentang isu yang sedang dibahas, tanpa dorongan siapa pun.
Pada akhirnya, kita bisa melihat bagaimana putus asanya para pelaku teror ini, dalam usaha mereka membungkam orang-orang untuk membicarakan isu-isi penting seperti isu-isu yang berhubungan dengan bencana di Sumatra pada akhir November 2025.
Pelaku teror berpikir, aksi terornya akan membuat korbannya menjadi takut, bungkam, dan berhenti bersuara.
Namun para pelaku teror lupa jika kita hidup di era digital. Kita hidup dimana informasi menyebar dengan cepat. Anehnya, masih ada orang yang berpikiran “kolot”.
Sehingga mereka berpikir aksi teror ini bisa membuat korban teror patuh dengan mereka. Pada kenyataannya, aksi teror malah membuat publik untuk semakin aware atau sadar dengan isu-isu yang ingin dibungkam, dan para pelaku teror hanya mendapatkan kesan-kesan ironinya saja. (rd)
Editor : Romdani.