KALTIMPOST.ID, Pernahkah Anda membayangkan politisi-politisi kita didominasi oleh angkatan muda yang visioner dan berjiwa kesatria? Pernahkah Anda berimajinasi, negeri ini dipenuhi oleh ratusan hingga ribuan pemimpin-pemimpin muda yang siap mewakafkan sebagian hidupnya untuk bangsa dan negara?
Jika iya, berarti pikiran kita sefrekuensi, yakni masih menyimpan optimisme yang bergelora terkait dunia perpolitikan tanah air yang mungkin bagi sebagian orang dipandang kian keruh dan kotor. Tapi bagaimanapun juga, politik, tidak bisa dipisahkan dari setiap sendi kehidupan kita.
Bukankah harga-harga kebutuhan pokok yang melonjak, guru honorer yang sukar memperoleh kesejahteraan, UMKM yang kian terjepit, hingga pendidikan tinggi yang semakin komersil dan semacamnya itu adalah salah satunya buah dari kebijakan politik?
Sebab itulah, pemuda hari ini memang sudah seharusnya tidak menjadi penonton yang pasif. Tidak hanya menjadi objek pembangunan nasional. Apalagi sampai apatis akut dan buta politik.
Jika demikian adanya, kepada siapa lagi masyarakat menaruh harapan terkait masa depan yang gilang-gemilang? Tulisan ini, sama sekali tidak memprovokasi pemuda agar berbondong-bondong mendaftarkan diri sebagai anggota parpol tertentu.
Politik, tidak hanya berbicara perubahan dan perbaikan lewat parpol sebagai instrumen resmi yang diakui konstitusi. Politik mengandung dimensi yang lebih luas daripada sekadar bertarung memperebutkan kekuasaan lewat parpol tertentu.
Bisa dikatakan politik kebangsaan. Yakni segenap daya upaya kita untuk mewujudkan cita-cita nasional tanpa harus menceburkan diri bergabung di bendera tertentu. Sebab sekali lagi, poinnya adalah mendorong pemuda agar lebih melek politik. Mengetahui keadaan, tantangan, dan dinamika terbaru yang sedang dihadapi oleh bangsa dan negara ini.
Menjadi politisi sah-sah saja. Masuk sistem politik praktis juga merupakan hak setiap dari kita. Mencalonkan atau dicalonkan sebagai kepala daerah ataupun legislator daerah juga tidak ada yang melarang. Lebih-lebih pemuda yang membawa sekantong atau bahkan sekarung idealisme untuk menciptakan masyarakat yang lebih adil dan makmur, sepenuhnya saya dukung.
Apalagi, kalau boleh berterus terang, kita membutuhkan lebih banyak lagi pemuda-pemuda progresif yang berkarakter Pancasila yang siap mendharmabaktikan dirinya untuk masyarakat lewat kiprahnya di politik praktis, seperti halnya lewat parpol. Dalam hal ini, pembenahan dan bahkan pembaruan sistem rekrutmen dan kaderisasi parpol rasanya perlu semakin menarik perhatian kawula muda.
Karena, usut punya usut, merujuk hasil survei Q4 Muda Bicara ID, sebanyak 54,1% anak muda menyatakan tertarik bergabung ke partai politik, 4,3% menyatakan sudah bergabung, dan 29,9% menyatakan tidak tertarik.
Tidak hanya itu, disebutkan juga beberapa hambatan yang mencegah pemuda bergabung ke parpol. Di antaranya: a) defisit kepercayaan diri dan persepsi pengaruh; b) ketiadaan jalur regenerasi yang jelas; c) sistem insentif yang tidak menarik; d) budaya politik yang elitis dan tertutup.
Sejalan dengan hal tersebut, Iman (2017) juga memaparkan tiga tantangan pendidikan politik pada generasi muda. Pertama, fenomena menguatnya gerontokrasi. Yakni dominasi generasi yang lebih tua dalam posisi kepemimpinan dan pengambilan keputusan politik, yang kerap kali menjadi penghalang bagi proses regenerasi serta mengurangi kesempatan bagi generasi muda untuk terlibat secara aktif dalam dunia politik.
Kedua, apatisme. Yaitu ketidakpedulian terhadap dunia politik yang sering kali disebabkan kurangnya kepercayaan pada sistem politik, rasa kecewa terhadap pemimpin yang ada, atau pandangan bahwa keterlibatan politik tidak memiliki pengaruh langsung pada kehidupan generasi muda. Ketiga, meningkatnya praktik oligarki.
Maksudnya yaitu kekuasaan politik dan ekonomi hanya terpusat pada segelintir elit tertentu. Oligarki menciptakan sistem kekuasaan yang lebih tertutup dan sulit dijangkau oleh generasi muda yang tidak berada di lingkaran elite.
Tantangan seputar pendidikan politik bagi kaum muda tersebut menjadi pekerjaan rumah bagi kita semua. Apalagi, kita semua pastinya berbulat hati bahwa ingin menumbuhkembangkan lebih banyak lagi tunas-tunas muda yang mampu menjadi politisi andal dan sekaligus negarawan yang berjiwa patriot.
Lagi pula, meminjam pandangan Miftahuddin (2014), pemuda sebagai bagian dari komponen bangsa, tentu tidak dapat melepaskan diri dari politik. Oleh karena hakikat manusia, termasuk pemuda adalah sebagai zoon politicon atau makhluk politik. Keberadaan dan kiprah manusia termasuk pemuda merupakan bagian dari produk politik dan terlibat langsung maupun tidak langsung, nyata maupun tidak nyata, dalam aktivitas politik.
Setali tiga uang, Tilar (1991) juga menambahkan bahwa peran dan partisipasi pemuda sangat penting dalam membangun kesejahteraan masyarakat, sehingga tidak dapat dipungkiri bahwa setiap negara selalu berusaha untuk membangun pengetahuan, keterampilan, dan karakter pemuda.
Bahkan ada peribahasa yang mengungkapkan bahwa barang siapa menguasai pemuda, maka akan menguasai dunia. Dalam konteks ini, maksudnya adalah peran pemuda dalam dunia politik tentunya.
Jika ditarik benang merah dari uraian di atas, bahwa masyarakat mendambakan pemuda yang berkiprah total sebagai insan-insan kreatif, inovatif, dan berdedikasi tinggi untuk mewujudkan cita-cita nasional lewat jalur politik. Atau bisa dikatakan juga politik sebagai sarana pengabdian kaum muda untuk kemaslahatan umat.
Sebab, jika ditelisik dari sisi historis, pemuda-pemuda zaman silam, sepak terjangnya di dunia politik tidak main-main. Terutama sebagian pemuda yang hidup sebelum kemerdekaan Indonesia, sebagian dari mereka menjadikan politik sebagai kendaraan untuk membina dan menata masyarakat.
Mereka menjadikan politik sebagai wadah untuk bukan hanya mengusir imperialis dan kolonialis, namun juga untuk mewujudkan tatanan kehidupan masyarakat yang cerdas, adil, dan makmur.
Oleh sebab itulah, alangkah indahnya jika setiap pemuda yang akan dan telah menceburkan diri di gelanggang politik, sudah saatnya memantapkan orientasinya agar tidak salah arah. Sebab, sekali lagi, politik bukan sebatas untuk mengejar tahta, menaikkan status sosial, dan apalagi untuk sekadar memperkaya diri.
Jauh daripada itu, politik adalah jalan panjang untuk melayani masyarakat. Politik adalah arena bukan hanya untuk memperjuangkan gagasan, visi, dan misi parpol. Lebih dari itu, politik adalah gelanggang terbuka bagi kita untuk menjadi manusia yang penuh kebermanfaatan untuk agama, nusa, dan bangsa.
Lalu, pemuda yang telah mengetahui dan memahami orientasi dan prioritas sebenarnya dalam dunia politik, bakal sungguh-sungguh menerima bahwa sebagian waktu, tenaga, pikiran, harta dan bahkan jiwanya mesti diwakafkan untuk kepentingan masyarakat.
Terutama yang sedang diberikan kepercayaan oleh masyarakat sebagai pejabat publik. Bukan sebaliknya, justru semakin semena-mena, tidak tahu diri, mengelabui dan memperdaya masyarakat.
Pokoknya, tidak bisa ditawar lagi, pemuda hari ini, perlu dibekali dengan pengetahuan politik, sejarah, dan wawasan kebangsaan sebagai bekal agar tidak mudah terombang-ambing lingkungan.
Dan terutama agar idealismenya tidak gampang dijual atas nama militansi dan hutang budi misalnya. Garuda-garuda muda mesti berani mengepakkan sayapnya untuk terbang lebih tinggi. Gerak hidupnya harus bernafaskan Pancasila. Dan semua itu, tujuannya hanya satu: untuk Indonesia Raya. (*)
*) Muhammad Aufal Fresky, Esais asal Madura
Editor : Almasrifah