Utama Samarinda Balikpapan Kaltim IKN Nasional Olahraga Bisnis Lifestyle Opini Sosbis Hiburan Kesehatan

Masjid Hijau

Redaksi KP • Selasa, 24 Februari 2026 - 19:07 WIB

Myrna A. Safitri
Myrna A. Safitri

Oleh:

Myrna A. Safitri

Deputi Bidang Lingkungan Hidup dan Sumber Daya Alam Otorita Ibu Kota Nusantara

BULAN Ramadhan sudah hampir sepekan. Umat muslim menggunakan waktu terbaiknya pada bulan suci ini untuk menjalankan kegiatan di masjid. Entah itu untuk menunaikan sholat wajib, salat sunah tarawih, berbuka puasa atau mengikuti berbagai kajian. 

Masjid adalah episentrum kegiatan umat Islam di berbagai belahan bumi. Pada bulan Ramadhan peran ini tampak semakin menguat seturut dengan meningkatnya intensitas dan frekuensi kegiatan di lingkungan masjid.

Sejatinya masjid menyimpan berbagai fungsi. Selain fungsi keagamaan, masjid juga menjadi tempat untuk kegiatan sosial-ekologis. Menjelang Konferensi Para Pihak PBB untuk Perubahan Iklim ke 22 di Maroko tahun 2016, Pemerintah Maroko selaku tuan rumah Konferensi membuat pengumuman penting untuk mentransformasi masjid di Maroko menjadi masjid yang ramah lingkungan.

Sebagaimana dilansir media the Arab Weekly, Kementerian Wakaf dan Urusan Islam Maroko pada 2016 mengumumkan tender untuk merenovasi 64 masjid di enam kota di wilayah Kerajaan Maroko untuk mengurangi jumlah energi yang dikonsumsi. Secara umum proyek ini bertujuan mengurangi biaya energi sebesar 40 persen di 15.000 masjid di seluruh Maroko. Penghematan energi dilakukan antara lain dengan penggunaan sumber listrik dari energi surya, dan pencahayaan hemat energi.

Gerakan menghijaukan masjid alias menjadikan masjid menjadi lebih ramah lingkungan menggema ke seluruh dunia. Tercatat hal ini ditemukan di negara-negara seperti Inggris dengan Cambridge Central Mosque-nya, Uni Emirate Arab (misalnya Masdar City Mosque yang dikenal sebagai masjid netral emisi karbon), dan Malaysia dengan Masjid Raja Haji Fisabilillah.

Bagaimana dengan Indonesia? Beruntunglah kita bahwa Masjid Istiqlal pada 2022 lalu mendapat penghargaan Excellence in Design for Green Efficiencies (EDGE) dari International Finance Corporation. Sebagai rumah ibadah ramah lingkungan, Masjid Istiqlal membuktikan telah melakukan penghematan energi, penghematan air, dan penggunaan material ramah lingkungan dalam proses renovasinya.

Masjid Negara di Ibu Kota Nusantara yang manajemennya juga berada di bawah Masjid Istiqlal tentunya menyelaraskan diri dengan visi Istiqlal. Di samping itu, dengan berada pada ekosistem kota berkelanjutan di IKN maka sudah dengan sendirinya prinsip-prinsip ramah lingkungan juga terintegrasi seperti halnya dalam desain bangunan, penggunaan energi bersih dan penghematannya.

Satu hal yang juga tidak kalah penting dalam konsep masjid hijau adalah pengelolaan sampah. Sebagai salah satu pusat aktivitas manusia tentu saja akan memproduksi timbunan sampah. Terlebih pada bulan Ramadhan di mana kegiatan berbuka puasa bersama acap dilaksanakan, dan bazar Ramadhan sebagai ruang temu warga dan UMKM juga digelar.

SATUKAN UMAT: Masjid Negara IKN menggelar tarawih perdana dengan dipadati oleh ribuan jamaah pada 1 Ramadan 1447 H, Rabu (18/2).
SATUKAN UMAT: Masjid Negara IKN menggelar tarawih perdana dengan dipadati oleh ribuan jamaah pada 1 Ramadan 1447 H, Rabu (18/2).

Menyadari pentingnya pengelolaan sampah yang baik di lingkungan Masjid IKN, Otorita IKN menurunkan para ASN muda untuk setiap hari melakukan sosialisasi dan edukasi kepada para jamaah, pelaku  UMKM, dan petugas kebersihan. Meski terlihat sepele, tetapi sesungguhnya ini adalah esensi dari implementasi kebijakan ASRI yang diperintahkan Bapak Presiden dalam taklimat beliau beberapa waktu lalu.

Masjid hijau adalah masjid yang minim sampah. Masjid yang para pengurus, petugas dan jamaahnya menyadari untuk mengurangi dan memilah sampah dengan benar. Penyampaian mengenai hal ini adalah pekerjaan yang tidak akan berakhir karena tujuannya adalah perubahan perilaku. Otorita IKN sebenarnya telah memiliki Peraturan Pengelolaan Sampah yang memberikan sanksi denda yang cukup besar bagi mereka yang tidak memilah sampah.

Alih-alih menerapkan sanksi, pendekatan persuasi lebih diutamakan. Karena itu, tanpa lelah, setiap hari para ASN muda OIKN, yang merupakan umat berbagai agama, menyapa dan mengingatkan untuk pengurangan dan pemilahan sampah. Pengingat untuk tidak membuang-buang makanan disampaikan kepada para jamaah yang berbuka puasa di Masjid Negara. Hal ini dilakukan karena menyisakan makanan selain mubazir juga menimbulkan food waste. Ajakan untuk menyediakan kantong belanja ramah lingkungan disampaikan kepada para pelaku UMKM. Pun, edukasi pemilahan sampah terus diberikan kepada pengunjung, jamaah dan petugas kebersihan.

Dengan seluruh kegiatan di bulan Ramadan ini, kami berharap para warga yang beraktivitas di Masjid Negara menyadari bahwa mengurus sampah selain wujud tanggung jawab pribadi, juga bagian dari ibadah untuk membersihkan bumi.

Terakhir, upaya membangun budaya masjid hijau di Masjid Negara IKN dilakukan dengan penanaman pohon. Saat ini telah tertanam beberapa pohon yang tersebut dalam Al Quran. Bapak Menteri Agama dan Kepala Otorita IKN berkesempatan menanam dua pohon zaitun di halaman Masjid Negara. Selanjutnya penghijauan halaman masjid akan diteruskan sejalan dengan perkembangan penyelesaian pembangunan di area masjid tersebut. 

Demikianlah, kebutuhan kita untuk membangun masjid hijau di seantero dunia adalah kebutuhan yang mendesak saat ini. Hal ini bisa dilakukan di manapun dengan cara-cara yang sederhana. Mulailah dengan hal kecil dan konsisten seperti mengurus sampah dengan baik dan menghijaukan, mengasrikan lingkungan masjid dengan menanami tanaman produktif dan konservasi. Dengan itu, kiranya masjid akan menjadi tempat yang nyaman, sejuk dan meneduhkan hati dan pikiran. (***/rdh)

Editor : Muhammad Ridhuan
#ibu kota nusantara #Masjid IKN #umat muslim #umkm #pbb #uni emirat arab #perubahan iklim