
Oleh: Muhammad Aufal Fresky
KALTIMPOST.ID, Ketika perguruan tinggi mengabaikan kualitas lulusannya, saat itu juga alarm keras bagi dunia pendidikan tinggi kita. Kepercayaan publik terhadap perguruan tinggi perlahan akan merosot.
Semakin runyam pula persoalan manakala perguruan tinggi kita, baik negeri maupun swasta, sekadar fokus berlomba-lomba mengejar ranking terbaik di kancah nasional maupun internasional.
Setiap program studi dan fakultas sebatas menargetkan nilai akreditasi terbaik. Para dosen hanya fokus memeras keringat mempersiapkan berkas-berkas yang diperlukan untuk memenuhi syarat sertifikasi dan kenaikan pangkat/jabatan tanpa memedulikan perkembangan mahasiswanya.
Tri Dharma perguruan tinggi yakni pengajaran, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat acapkali tidak terintegrasi. Riset/penelitian di perguruan tinggi juga belum sepenuhnya menjawab sejumlah persoalan aktual seperti halnya pengangguran, kemiskinan, ketimpangan pendapatan, dan sebagainya.
Bahkan yang lebih miris lagi adalah ketika hasil riset yang didanai oleh pemerintah ataupun swasta hanya berhenti di rak-rak ruang baca/perpustakaan. Sama sekali tidak memberikan kontribusi atau dampak nyata terhadap kehidupan masyarakat.
Baca Juga: Menyoal Etika Mahasiswa
Pantas saja jika sebagian dari kita berpikiran bahwa jangan-jangan memang dosen, kaprodi, dekan, rektor, dan seluruh jajarannya di berbagai perguruan tinggi tersita waktu, pikiran, dan tenaganya hanya untuk memoles citranya di tengah masyarakat.
Menjadikan peringkat di QS World University Rankings, Webometrics, EduRank/UniRank, Times Higher Education (THE) World University Rankings (WUR), dan sebagainya sebagai hal wajib diutamakan. Tidak jarang pula tepasung dalam tetek bengek urusan birokratis dan administratif.
Sehingga kehilangan substansi dalam mendidik dan mempersiapkan generasi bangsa yang berkarakter, kompeten, kreatif, inovatif, dan bermental baja.
Memang, kita sukar menepis anggapan bahwa banyak perguruan tinggi yang tidak begitu peduli dengan nasib lulusannya. Teramat banyak dan panjang untuk diceritakan perihal lulusan perguruan tinggi yang harus garuk-garuk kepala menerima kenyataan bahwa selembar ijazah yang diperoleh dari kampus ternama tidak memberikan jaminan diterima di dunia kerja.
Jadilah pembaca setia, gabung sekarang juga di channel kami!




