Utama Samarinda Balikpapan Kaltim IKN Nasional Olahraga Bisnis Lifestyle Opini Sosbis Hiburan Kesehatan

Merajut Asa Dunia Pendidikan Kita

Muhammad Aufal Fresky • Senin, 9 Maret 2026 | 16:43 WIB

 

Muhammad Aufal Fresky.
Muhammad Aufal Fresky.

KALTIMPOST.ID, Mencerdaskan kehidupan bangsa merupakan amanat dari konstitusi yang harus diselenggarakan sebaik-baiknya dan dengan penuh kesungguhan oleh pengelola negara ini.

Bagaimanapun juga, hari ini, kita semakin tersadarkan dan cukup banyak mengetahui, mengerti, dan memahami bahwa segudang persoalan perihal pendidikan nasional masih menunggu penyelesaian konkret dari pemerintah. Ditambah lagi sebagian lembaga pendidikan hari ini dinilai belum optimal dalam melahirkan generasi yang cerdas dan berkualitas dari sisi intelektual, emosional, dan spiritual.

Sekolah seakan berubah fungsi menjadi sebatas lembaga pemberi ijazah bagi. Masalah kualitas lulusan, tidak begitu diperhatikan. Padahal, sekolah sejatinya adalah tempat untuk menempa peserta didik menjadi manusia yang seutuhnya. Sekolah, hemat saya, semestinya menjadi wadah untuk menempa peserta didik menjadi pribadi yang berakhlak mulia, nasionalis, tangguh, visioner, terampil, cerdas, kreatif, produktif, dan mandiri.

Artinya, setiap sekolah memang memiliki tanggung jawab yang besar untuk mencetak insan yang beriman, berilmu, dan berakhlak. Dalam hal ini, peran guru menjadi sangat vital dalam mewujudkan hal itu.

Sebab, guru bukan hanya berkewajiban mentransfer ilmu pengetahuan kepada siswa. Lebih dari itu, guru juga berkewajiban untuk membangun mentalitas dan karakter mereka. Dan yang kedua ini lebih sukar sebab berhubungan dengan pola pikir, sifat, sikap, kebiasaan, dan watak setiap anak didiknya yang beraneka ragam.

Contohnya, ketika ada siswa yang melakukan perundungan baik secara fisik maupun verbal kepada temannya, harus ditegur atau apabila perlu diberikan hukuman untuk menimbulkan efek jera. Hal itu tentu saja dalam rangka mendidik siswa tersebut agar tidak mengulangi perbuatannya lagi. Hal tersebut pastinya dalam rangka membina moralitas siswa tersebut dan siswa yang lainnya agar memahami bahwa aksi bullying itu adalah perbuatan tercela.

Hanya saja, yang menjadi perhatian saya selaku penulis adalah ketika fokus atau konsentrasi guru pecah sebab urusan dapurnya belum kelar. Bagaimana kita bisa menghasilkan generasi yang berkualitas?

Di situlah peran negara dipertanyakan. Generasi emas yang kita dambakan bisa jadi hanya menjadi ilusi jika nasib guru terus-menerus diabaikan. Dari tahun ke tahun hanya disuguhi harapan. Perubahan status, kenaikan gaji, jabatan, dan semacamnya hanya pemanis di musim-musim kampanye politik.

Arah kebijakan pendidikan nasional masih belum memberikan angin segar yang mampu memercikkan cahaya harapan. Tanggung jawab besar yang diemban guru tidak sebanding dengan apresiasi yang didapatkan.

Lantas, ekspektasi kita pun begitu besar kepada guru untuk betul-betul membina moralitas anak-anak kita. Untuk benar-benar mampu mencetak insan yang pintar, beradab, unggul, dan berdaya saing. Sementara di lain sisi, kita seolah menutup mata terkait nasib pejuang pendidikan tersebut yang terkatung-katung.

Lepas dari itu semua, patut kiranya kita bersyukur sebab masih banyak guru di negeri ini yang memilih tetap mengajar dan mendidik di tengah ketidakstabilan ekonominya. Masih banyak guru yang konsisten mengabdi dan berdedikasi tinggi untuk mencetak insan-insan yang berbudi luhur dan mencintai Indonesia.

Kendatipun negara kerap kali absen dalam memberikan penghargaan, tapi ikhtiar mereka memajukan pendidikan nasional tak pernah redup. Mereka terjun ke dunia pendidikan karena panggilan jiwa. Mereka rela berpayah-payah demi lahirnya sebuah generasi baru yang nantinya diharapkan bisa membawa kemajuan dan bahkan peradaban emas di negeri ini. Bagi saya mereka mendidik dengan sepenuh hati.

Mendidik generasi penerus tanpa peduli dengan risiko yang akan dihadapinya. Risiko kelelahan, keterhimpitan ekonomi, kekecewaan, dan beragam jenis penderitaan lainnya. Memang betul, dunia pendidikan itu dipenuhi dengan tantangan yang sangat kompleks. Penuh dengan lika-liku dan jalan terjal yang menuntut kesabaran tingkat tinggi.

Apalagi, seperti yang kita maklumi bersama, sebagian anak-anak sekarang seakan sukar diatur. Berani melawan, berkata kasar, dan bahkan sampai ada yang melakukan kekerasan fisik kepada gurunya sendiri.

Sungguh, sebuah fakta yang mengejutkan dan membuat dada kita sesak. Bisa-bisanya generasi harapan bangsa tersebut bersikap kurang ajar kepada gurunya. Dalam situasi semacam itu, kebijaksanaan guru sedang diuji.

Bagaimana responsnya? Apa hukuman yang akan diberikan kepada siswa tersebut? Apakah guru tersebut uring-uringan sebab kenakalan siswa yang melampaui batas? Atau justru tetap mencintai anak didiknya yang telah bersikap tidak hormat padanya?

Mendidik dengan kelembutan dan penuh kasih sayang memang besar ujiannya. Termasuk ketika direndahkan dan dikoyak-koyak marwah martabat kita oleh anak didik kita sendiri. Apalagi bersamaan dengan itu, kondisi finansial tak kunjung membaik. Mendidik dengan hati artinya benar-benar tulus dalam menjadi “Pelita” dan “Kompas” bagi anak-anak bangsa.

Artinya selalu berkomitmen dan konsisten menerangi dan menunjukkan jalan untuk anak-anak Indonesia. Saya sepenuhnya percaya dan yakin, generasi hebat dilahirkan dari guru-guru yang hebat. Dan guru-guru yang hebat adalah guru yang selalu membimbing dengan penuh ketelatenan, kesabaran, dan ketulusan.

Guru yang hebat adalah guru yang tetap mengajar dan mendidik anak-anak didiknya meskipun badai ekonomi menerjang rumah tangganya. Dan para guru kita hari ini pun dengan legowo menerima ketidakhadiran penguasa dalam meningkatkan taraf hidup mereka. Saya sendiri percaya, sebagian besar atau bahkan hampir semua guru kita hari ini telah mendidik dengan sepenuh jiwa.

Tapi sayang seribu sayang, sebagian pengambil kebijakan acapkali bertindak sesuka hati. Begitulah secuil potret dan sekaligus ironi dunia pendidikan kita hari ini. Akan tetapi, seperti apa pun kondisi dan persoalannya, kita harus tetap merajut asa dunia pendidikan kita.

*) Oleh: Muhammad Aufal Fresky, Esais asal Madura

Editor : Almasrifah
#sekolah #Mencerdaskan Kehidupan Bangsa #pendidikan nasional #dunia pendidikan #generasi #generasi emas #cerdas