Oleh: May Wagiman
KALTIMPOST.ID - Berpuasa bukan hanya sekadar menahan lapar dan haus, tetapi juga sebagai cara natural untuk menjaga kesehatan tubuh. Selain dapat membantu mengontrol berat badan serta meningkatkan kebugaran, berpuasa juga memberi kesempatan pada tubuh untuk melakukan “bersih-bersih” dari dalam.
Pada saat berhenti makan dalam waktu beberapa lama, tubuh kita mengaktifkan proses alami yang disebut dengan autophagy.
Autophagy adalah proses degradasi dan daur ulang (regenerasi) komponen sel-sel tubuh yang rusak atau yang tidak diperlukan lagi.
Dalam artikel ini kita akan menilik kaitan antara berpuasa dan autophagy mengacu pada penemuan Profesor Yoshinori Ohsumi, penerima Hadiah Nobel Kedokteran (Physiology or Medicine) tahun 2016. Profesor Ohsumi adalah ahli biologi sel asal Jepang dengan spesialisasi dalam bidang autophagy.
Pemenang Hadiah Nobel yang lahir pada 1945 ini membuka pemahaman baru tentang bagaimana sel-sel tubuh mampu melakukan “pembersihan diri” ketika dalam kondisi kekurangan asupan makanan.
Sel-sel adalah komponen dasar bagi pertumbuhan setiap jaringan dan organ dalam tubuh. Seiring berjalannya usia, jaringan dan organ tubuh dapat menjadi rusak dan fungsinya menjadi menurun. Jadi melalui mekanisme autophagy ini, komponen sel yang fungsinya sudah menurun atau bahkan sudah tidak dapat berfungsi lagi tergantikan dengan komponen sel-sel baru.
Kata `autophagy` berasal dari bahasa apa?
Kata `autophagy` berasal dari bahasa Yunani. Terdiri dari dua kata: auto (berarti “diri”) dan phagein (berarti “memakan”). Jadi autophagy dapat diartikan: “memakan diri sendiri” (self-eating).
Sebelum Profesor Ohsumi meneliti tentang autophagy, konsep ini telah muncul sejak tahun 1960-an. Ketika itu para peneliti mengamati bahwa sel tubuh dapat menghancurkan kandungan selnya sendiri. Cara sel menghancurkan isinya sendiri yaitu dengan membungkusnya dalam membran yang berbentuk “kantong kecil”. “Kantong kecil” itu selanjutnya dibawa ke bagian daur ulang di dalam tubuh yang disebut: lysosome, untuk kemudian diurai dan dimanfaatkan kembali.
Namun, konsep autophagy pada 1960-an itu hanya menunjukkan fenomena autophagy saja, tidak menemukan bagaimana proses itu berlangsung secara detail.
Fondasi Awal Mekanisme Autophagy
Pada awal 1990-an Profesor Ohsumi menciptakan fondasi awal bagi penelitian lanjutan proses autophagy itu. Intinya, penelitian Profesor Ohsumi menemukan mekanisme autophagy serta memetakan langkah-langkah prosesnya.
Penemuan profesor yang lahir di Fukuoka itulah yang membuka jalan bagi riset modern tentang penyakit, tentang kanker, juga bagi pemahaman mengenai kemampuan sel-sel tubuh dalam mengatur malnutrisi dan infeksi.
Hubungan Berpuasa dan Autophagy
Mari kita bayangkan proses autophagy sebagai proses “reset” di tingkat seluler; sebagai sistem daur ulang, regenerasi, serta pembersihan sel tubuh.
Pada saat berpuasa, asupan makanan–terutama glukosa–bisa dibilang rendah. Pada saat kekurangan asupan itulah tubuh mengeluarkan sinyal “stres positif” yang selanjutnya dapat memicu proses autophagy sebagai respons dari mekanisme bertahan tubuh (survival mechanisms).
Proses memecah “sampah” seluler (sel-sel tubuh rusak serta tidak berfungsi) itu didaur ulang/diurai untuk menjadi sel baru dalam melancarkan kembali fungsi tubuh.
Proses singkatnya: berpuasa > keluar sinyal “stres positif” > proses autophagy/daur ulang sel > manfaat bagi tubuh.
Manfaat Bagi Tubuh
Manfaat proses autophagy bagi tubuh beberapa di antaranya adalah mendorong regenerasi sel baru, mengurangi infeksi dalam tubuh, menurunkan risiko terjadinya kanker, serta menurunkan kerentanan terkena penyakit diabetes tipe 2. Pada akhirnya proses ini dapat meningkatkan kesehatan.
Autophagy dimulai pada saat kita berpuasa selama beberapa jam. Dilansir int.livhospital.com, saat berpuasa selama 1 hingga 12 jam, tubuh kita mulai memakai glikogen (simpanan karbohidrat/glukosa) untuk energi. Saat glikogen habis, tubuh memulai pembakaran lemak. Pada saat itu jugalah alat pencernaan tubuh dapat beristirahat.
Berpuasa 12–16 jam adalah saat awal aktivasi autophagy. Saat ini tubuh mulai membakar lemak, meningkatkan pembersihan sel-sel, serta meningkatkan sensitivitas terhadap insulin.
Berpuasa 24–48 jam akan memicu proses autophagy yang lebih mendalam. Meningkatkan pembuangan komponen sel rusak dan proses regenerasi.
Masih menurut int.livhospital.com, berpuasa di atas 48 jam akan terus memberi manfaat bagi tubuh, namun proses autophagy akan menjadi lambat. Untuk berpuasa lebih dari 48 jam diperlukan masukan serta saran dari ahli kesehatan profesional.
Konsultasi dengan Ahli Kesehatan, Jangan Mengambil Risiko
Setiap individu memiliki kondisi tubuh yang tidak sama. Respons setiap orang sangat bergantung pada metabolisme tubuh, usia, aktivitas, serta kondisi kesehatan.
Berpuasa panjang melebihi 24 jam sangat mungkin tidak cocok untuk semua orang dan sebaiknya dilakukan dengan hati-hati.
Apabila ada keinginan untuk mencapai autophagy yang lebih mendalam disarankan untuk berkonsultasi dengan ahli kesehatan. Terutama bagi mereka yang memiliki kondisi kronik seperti penyakit jantung atau diabetes, juga bagi ibu hamil, ibu yang sedang menyusui, serta bagi mereka yang mengasup obat-obatan tertentu. Berhati-hatilah dan selalu meminta saran dari dokter. (*)
Editor : Duito Susanto