Oleh:
Muhamad Fadhol Tamimy
PNS di Lapas Kelas IIA Tenggarong, Penulis Buku Sharing Mu Personal Branding Mu
MANUSIA pada dasarnya adalah makhluk sosial yang hidup melalui interaksi dan komunikasi. Tanpa komunikasi, manusia akan kesulitan menjalankan perannya dalam kehidupan sosial. Melalui komunikasi, gagasan, emosi, dan hubungan antarmanusia terbentuk serta berkembang.
Seiring perkembangan zaman, cara manusia berkomunikasi mengalami perubahan yang signifikan. Jika dahulu komunikasi lebih banyak dilakukan melalui tatap muka atau surat menyurat, kini teknologi digital memungkinkan interaksi berlangsung secara cepat melalui pesan singkat. Internet telah menghadirkan berbagai medium komunikasi baru, mulai dari pesan teks, pesan suara, hingga video yang dapat dikirim secara real time tanpa batasan ruang dan waktu.
Perubahan ini juga memengaruhi cara orang menjalin relasi, termasuk dalam hubungan romantis. Jika pada masa lalu seseorang harus menunggu lama untuk menerima balasan surat dari orang yang disukainya, kini pendekatan atau PDKT dapat dilakukan melalui aplikasi percakapan seperti WhatsApp atau pesan langsung di media sosial. Mereka yang menjalani hubungan jarak jauh tidak lagi harus menunggu berhari-hari untuk menyampaikan kabar atau perasaan, karena pesan dapat dikirim dan diterima hanya dalam hitungan detik.
Kemudahan tersebut membuat komunikasi berbasis teks menjadi sangat populer. Pesan singkat memberikan ruang bagi seseorang untuk berpikir sebelum merespons, sekaligus memungkinkan penerima pesan membaca dan menafsirkan maksud dari lawan bicaranya. Bahkan, komunikasi tidak lagi terbatas pada teks semata. Pesan suara, video singkat, hingga konten digital menjadi bagian dari cara orang mengekspresikan diri.
Fenomena ini tidak hanya terjadi dalam hubungan personal. Dalam dunia bisnis, pesan singkat juga dimanfaatkan sebagai sarana pemasaran. Kita sering menerima pesan promosi pinjaman daring, penawaran produk, atau bahkan pesan yang berujung pada penipuan. Dengan memanfaatkan pendekatan komunikasi singkat yang langsung menjangkau pengguna ponsel, berbagai pihak mencoba membangun kedekatan dengan calon pelanggan atau target tertentu.
Namun demikian, komunikasi melalui pesan singkat memiliki keterbatasan yang tidak dapat diabaikan. Berbeda dengan percakapan tatap muka, komunikasi digital tidak mampu sepenuhnya menyampaikan aspek emosional seperti ekspresi wajah, intonasi suara, atau bahasa tubuh. Padahal, unsur-unsur tersebut memiliki peran penting dalam membantu seseorang memahami makna dari sebuah pesan.
Penggunaan emotikon memang dapat membantu memperjelas maksud pesan, tetapi tetap tidak mampu menggantikan kedalaman komunikasi langsung. Percakapan tatap muka melibatkan proses psikologis dan biologis yang lebih kompleks, karena seluruh sistem sensorik manusia ikut berperan dalam menangkap makna komunikasi.
Hal ini juga diperkuat oleh penelitian Sherman L.E. dan koleganya pada tahun 2013 yang berjudul The Power of the Next Generation: Adolescent Communication and the Bonds of Friendship. Penelitian tersebut menunjukkan bahwa teknologi memang sangat membantu dalam menjaga hubungan sosial, tetapi tidak semua bentuk komunikasi digital mampu menciptakan kedekatan emosional yang setara dengan interaksi langsung. Semakin “manusiawi” medium komunikasi yang digunakan, semakin kuat pula ikatan yang dirasakan.
Dalam konteks komunikasi digital, terdapat semacam hierarki kualitas interaksi. Video call dan panggilan telepon dinilai mampu menyampaikan emosi lebih baik dibandingkan pesan teks, karena masih melibatkan suara dan ekspresi. Sementara itu, pesan teks berada pada tingkat paling sederhana karena hanya mengandalkan kata-kata tanpa unsur nonverbal.
Keterbatasan ini sering kali memunculkan kesalahpahaman. Misalnya dalam percakapan antara dua orang yang sedang saling mengenal. Seseorang mungkin mengirimkan pesan panjang dengan harapan mendapatkan respons yang antusias dari lawan bicara. Namun, balasan yang diterima hanya berupa “hahaha” atau “wkwkwk”. Tanpa konteks emosional yang jelas, respons singkat tersebut dapat ditafsirkan secara berbeda.
Bagi pengirim pesan, balasan tersebut mungkin dianggap sebagai tanda ketertarikan atau penerimaan terhadap topik pembicaraan. Akibatnya, ia semakin intens mengirim pesan lanjutan. Sebaliknya, bagi penerima pesan, balasan singkat itu bisa saja merupakan cara sederhana untuk mengakhiri percakapan tanpa harus menolak secara langsung.
Dalam kajian komunikasi digital, fenomena ini berkaitan dengan konsep investasi sosial atau effort to value ratio. Konsep ini menjelaskan bahwa dalam sebuah percakapan terdapat keseimbangan antara usaha yang diberikan seseorang dalam berkomunikasi dan nilai respons yang diterima. Ketika seseorang mengirim pesan panjang sementara lawan bicara hanya memberikan respons minimal, hal tersebut dapat menjadi indikasi bahwa minat komunikasi tidak seimbang.
Dari perspektif psikologi komunikasi, respons seperti “hahaha” juga dapat dikategorikan sebagai phatic communication, yaitu bentuk komunikasi yang bertujuan menjaga kesopanan sosial daripada menyampaikan informasi substantif. Dalam konteks ini, balasan singkat sering kali menjadi strategi yang disebut negative politeness, yakni cara halus untuk menghindari keterlibatan lebih jauh dalam percakapan tanpa menimbulkan kesan kasar.
Artinya, lawan bicara sebenarnya memberi sinyal bahwa pesan yang diterima dianggap cukup menarik atau lucu, tetapi tidak cukup untuk dilanjutkan menjadi percakapan yang lebih panjang. Dengan kata lain, respons tersebut bisa menjadi cara sopan untuk menutup percakapan.
Fenomena ini menunjukkan pentingnya kemampuan membaca pola respons dalam komunikasi digital. Jika respons singkat seperti “hahaha” atau “wkwkwk” terus berulang setelah pesan panjang yang kita kirimkan, bisa jadi hal tersebut menandakan bahwa lawan bicara tidak memiliki minat besar untuk melanjutkan komunikasi pada saat itu.
Pada akhirnya, komunikasi melalui pesan singkat tetap memiliki peran penting dalam kehidupan modern. Efisiensi waktu dan kemudahan akses membuatnya menjadi jembatan utama dalam berinteraksi, baik dalam hubungan personal maupun dalam lingkungan organisasi.
Namun, di tengah kemudahan tersebut, kemampuan memahami konteks dan membaca respons komunikasi menjadi hal yang sangat penting. Tanpa pemahaman tersebut, komunikasi digital justru berpotensi menimbulkan kesalahpahaman yang merugikan, baik secara pribadi maupun dalam konteks profesional.
Dengan memahami pola komunikasi dalam pesan singkat, kita dapat lebih bijak menafsirkan respons, menjaga keseimbangan interaksi, serta menghindari miskomunikasi yang tidak perlu. Pada akhirnya, teknologi hanyalah alat. Kualitas komunikasi tetap ditentukan oleh kemampuan manusia dalam memahami pesan dan makna yang terkandung di dalamnya. (***/rdh)
Editor : Muhammad Ridhuan