KALTIMPOST.ID, TANAH GROGOT–Telah diketahui banyak ummat ini bahwa tujuan disyariatkan puasa Ramadan untuk meraih dan menjadi orang yang bertakwa.
Seruan kepada manusia agar bertakwa kepada Allah SWT banyak disebutkan dalam Al-Quran, bahkan setiap Jumat seorang khatib wajib hukumnya menyerukan takwa kepada jamaah karena ia merupakan rukun khutbah yang secara hukum dapat mengakibatkan tidak sahnya khutbah jumat jika seruan ini diabaikan atau ditinggalkan.
Salah satu ayat al-Quran yang menjelaskan tentang ciri-ciri orang yang bertakwa sekaligus menjadi ciri penduduk Surga dimaktubkan dalam Al-Qur'an Surat Qaf ayat 31-35 yang terjemahannya sebagai berikut.
“Dan didekatkanlah Surga itu kepada orang-orang yang bertakwa pada tempat yang tidak jauh (dari mereka). Inilah yang dijanjikan kepadamu, (yaitu) kepada setiap hamba yang selalu kembali (kepada Allah) lagi memelihara (semua peraturanNya). (Yaitu) orang yang takut kepada Tuhan yang Maha Pemurah sedang Dia tidak kelihatan (olehnya) dan ia datang dengan hati yang bertaubat. Masukilah surga itu denga naman, itulah hari yang abadi. Mereka di dalamnya memperoleh apa yang mereka kehendaki dan pada sisi Kami ada tambahannya.”
Dari ayat tersebut, setidaknya ada empat ciri orang-orang bertakwa, yakni Awwab (senantiasa bertaubat); Hafizh (Menjaga, memelihara semua aturan Allah); Khasyiyah al-Rahman (Takut kepada Tuhan yang Maha Pengasih); dan Qalbun Munib (Hati yang bertaubat).
Awwab adalah orang yang banyak bertaubat kepada Allah dari maksiat menuju ketaatan, dari lalai menjadi ingat kepada-Nya. Ubaid bin Umair berkata, ”Istilah Awwab ditujukan kepada seseorang yang mengingat dosa-dosanya lalu beristigfar memohon ampunan kepada Allah karenanya. Hal ini senada dengan Firman Allah dalam Q.S. Ali-Imran/3:135: ”Dan orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menzalimi diri sendiri, segera mengingat Allah, lalu memohon ampunan atas dosa-dosanya, dan siapa lagi yang dapat mengampuni dosa-dosa selain Allah? Dan mereka tidak meneruskan perbuatan dosa itu, sedang mereka mengetahui.”
Orang yang bersifat awwab adalah orang yang menggunakan kekuatan jiwa meminta ketika kembali kepada Allah, mengharap RidhaNya, dan menaatiNya. Ia juga senantiasa kembali kepada Allah dengan berbuat ketaatan kepadaNya.
Hafizh. Menurut Ibnu Abbas Radiyallahu Anhu, Hafizh artinya orang yang pandai menjaga amanat Allah dan apa-apa yang diwajibkan kepadanya. Sementara itu, Qatadah berkata, Hafizh adalah orang yang pandai menjaga hak dan nikmat Allah yang dititipkan kepadanya.
Orang yang hafizh Adalah orang yang menggunakan kekuatan menahan diri ketika menghindari maksiat dan laranganNya. Dengan kata lain, hafizh adalah orang yang pandai menahan diri dari segala yang diharamkan Allah.
Khasyiah al-Rahman artinya adalah orang yang takut dan tunduk kepada Allah yang Maha Pengasih, sekalipun Dia (Allah) tidak kelihatan olehnya. Ia juga mengakui eksistensi Allah dalam Rububiyyah-Nya, kekuasaan-Nya, Ilmu-Nya, serta persaksian bahwa Allah Maha Mengetahui hamba-hambaNya secara terperinci.
Orang yang takut kepada Allah adalah orang yang mengakui dan meyakini bahwa Allah Maha Mengetahui yang rahasia dan yang terbuka. Allah Maha Menghitung pada setiap tetesan air, bahkan debu dan pasir di muka bumi ini. Allah berfirman: ”Maka janganlah kamu takut kepada manusia, (tetapi) takutlah kepadaKu.” (Q.S. Al-Maidah:44)
Rasa takut seseorang bertingkat-tingkat. Tingkatan rasa takut itu sangat tergantung dari tingkatan ilmu dan makrifatnya kepada Allah. Semakin tinggi ilmu dan makrifatnya kepada Allah, semakin tinggi rasa takutnya kepada Allah, demikian pula sebaliknya.
Nabi SAW bersabda: ”Aku Adalah orang yang paling khasyiah kepada Allah.” Dalam hadis lain dikatakan,”Andai kalian tahu apa yang aku ketahui, niscaya kalian akan sedikit tertawa, banyak menangis, kalian tidak akan dapat bersenang-senang dengan perempuan(istri) kalian di tas Kasur, dan kalian akan keluar kep padang pasir memohon perlindungan Allah.” (H.R. Bukhari dan Muslim)
*Keempat, Qalbun Munib.* Ibnu Abbas Radiyallahu Anhu berkata, qalbun munib adalah kembali kepada Allah dari perbuatan-perbuatan maksiat, lalu melakukan ketaatan, menunjukkan kecintaan, dan bersimpuh kepadaNya.” Ibnu Katsir menjelaskan bahwa qalbun munib adalah hati yang bertaubat, berserah diri, dan tunduk patuh kepadaNya (Allah).
Seseorang yang memiliki qalbun munib hatinya senantiasa berlabuh kepada Allah. Saat terlanjur berbuat maksiat atau tergelincir oleh bisikan setan maupun hembusan nafsu, ia segera tersadar dan Kembali kepada Allah. Ia segera memohon ampunan Allah dan kembali ke jalan Allah.
Pemilik qalbun munib sangat disenangi oleh Allah sebagaimana digambarkan dalam hadis berikut. “Anas bin Malik berkata, Rasulullah saw bersabda:”Sungguh Allah lebih bahagia dengan taubat seorang hamba ketika dia bertaubat dari bahagianya seorang diantara kalian, yang suatu saat mengendarai hewan tunggangannya di padang pasir yang luas. Tiba-tiba hewan tunggangannya itu hilang darinya.
Padahal di sana ada perbekalan makan dan minumnya. Hingga ia putus asa. Lalu ia menghampiri sebuah pohon dan berbaring di bawahnya. Sungguh ia telah putus asa dapat kembali menemukan hewan tersebut. Kemudian dalam kondisi seperti itu, tiba-tiba hewan tunggangannya itu sudah berada di sisinya.
Maka ia segera meriah tali kekangannya seraya berkata karena sangat bahagianya, “Ya Allah, Engkau Adalah hambaku dan aku adalah Tuhanmu. Ia keliru bicara karena saking bahagianya.” (H.R. Bukhari dan Muslim).
Demikian ciri-ciri orang bertakwa yang apabila dimiliki seseorang, Allah swt akan masukkan ia ke dalam Surga dengan aman dan damai. Ia kekal di dalamnya dan mendapatkan apa saja yang ia inginkan bahkan Allah swt akan terus menambahkannya.
Semoga tujuan puasa ramadhan tahun ini yakni menjadi orang-orang bertakwa dapat kita capai dengan izin dan rida Allah swt. Amin. Wallahu A’lam. (Pms/jib)
Editor : Dwi Restu A