Oleh:
Nurul Muhlisa
Alumni Universitas Hasanuddin asal Kutai Barat
KEPERGIAN Ir. Rama Alexander Asia pada 10 April 2026 menjadi momen reflektif, khususnya bagi masyarakat Kutai Barat. Peristiwa ini seolah mengajak kita untuk berhenti sejenak, menundukkan kepala, dan menautkan kembali ingatan pada perjalanan panjang sejarah daerah ini, sebuah perjalanan yang tidak lahir dari kemudahan, melainkan dari perjuangan, pengorbanan, dan visi besar para perintisnya.
Di balik berdirinya Kutai Barat sebagai kabupaten otonom, terdapat sosok yang tidak hanya hadir sebagai pemimpin administratif, tetapi juga sebagai peletak fondasi masa depan. Ir. Rama Alexander Asia bukan sekadar kepala daerah pertama, melainkan pionir yang menyalakan harapan di tengah berbagai keterbatasan pada masa awal pembentukan daerah. Ia adalah figur yang hadir ketika jalan belum terbentuk, ketika arah belum sepenuhnya jelas, dan ketika keyakinan kolektif masih harus dibangun dari nol.
Kutai Barat lahir dalam kondisi yang penuh tantangan. Keterbatasan infrastruktur, kompleksitas geografis, minimnya sumber daya, hingga kebutuhan membangun sistem pemerintahan dari dasar menjadi realitas yang harus dihadapi. Dalam konteks historis tersebut, peran beliau menjadi sangat krusial. Ia tidak hanya membangun secara administratif, tetapi juga secara moral dan historis, menanamkan dasar-dasar tata kelola sekaligus membangun kepercayaan masyarakat terhadap masa depan daerahnya.
Sebagai bupati pertama, beliau memulai dari titik yang sesungguhnya: titik awal yang penuh ketidakpastian. Dengan keteguhan sikap dan keberanian dalam mengambil keputusan, ia menapaki jalan yang belum terbuka. Keterbatasan tidak dilihat sebagai hambatan, melainkan sebagai ruang pengabdian. Keraguan yang ada perlahan diubah menjadi keyakinan kolektif bahwa Kutai Barat mampu berdiri dan berkembang secara mandiri.
Apa yang kita rasakan hari ini, berbagai kemajuan, pembangunan, dan stabilitas daerah, tidak bisa dilepaskan dari fondasi yang telah diletakkan pada masa kepemimpinannya. Pembangunan yang ada bukanlah hasil instan, melainkan akumulasi dari kerja keras, ketekunan, dan dedikasi yang ditanamkan sejak awal.
Namun, kontribusi beliau tidak berhenti pada pembangunan fisik dan kelembagaan. Lebih dari itu, ia menanamkan nilai fundamental berupa harapan dan optimisme. Ia meyakinkan masyarakat bahwa keterbatasan bukanlah akhir, melainkan titik tolak untuk melangkah lebih jauh. Bahwa masa depan tidak diwariskan begitu saja, tetapi harus diperjuangkan bersama.
Moto hidupnya, “Spirit Never Die,” bukan sekadar slogan, melainkan cerminan filosofi hidup yang dijalani dengan konsisten. Semangat itu tidak hanya hidup dalam dirinya, tetapi juga diwariskan kepada generasi penerus, kepada masyarakat, dan kepada siapa pun yang melanjutkan estafet pembangunan Kutai Barat. Sebuah pesan sederhana namun kuat: bahwa semangat pengabdian tidak boleh padam, bahkan setelah sosoknya tiada.
Refleksi atas ketokohan beliau tidak semata dimaknai sebagai penghormatan terhadap masa lalu. Lebih dari itu, ia menjadi pengingat akan nilai-nilai kepemimpinan yang semakin relevan di masa kini. Keteguhan, integritas, keberanian, dan dedikasi adalah warisan yang jauh melampaui capaian fisik pembangunan. Nilai-nilai inilah yang seharusnya terus hidup dan menjadi rujukan dalam melanjutkan pembangunan daerah.
Kepergiannya memang meninggalkan kehilangan, tetapi bukan kehampaan. Karena yang ditinggalkan bukan hanya kenangan, melainkan juga jejak yang hidup dalam semangat, dalam nilai, dan dalam kecintaan yang mendalam terhadap tanah dan masyarakatnya.
Sosok beliau akan tetap hadir dalam setiap langkah kemajuan Kutai Barat, dalam setiap upaya pembangunan, dan dalam setiap harapan yang terus tumbuh di Bumi Tanaa Purai Ngeriman. Ia telah menjadi bagian dari sejarah, sekaligus inspirasi bagi masa depan.
Selamat jalan, sang pionir abadi. Jasamu akan terus hidup dalam denyut perkembangan Kutai Barat. Dan seperti yang engkau yakini, semangat itu tidak akan pernah mati. Spirit Never Die. (***/rdh)
Editor : Muhammad Ridhuan