Oleh: Muhammad Aufal Fresky, Esais asal Madura
KALTIMPOST.ID, Membahas perihal intelektual seolah tiada habisnya. Menjadi menarik dan sedikit membuat kita melongo. Betapa sebagian intelektual kita ternyata “melacurkan” keilmuannya. Gelar sarjana hingga doktor yang disandang seolah hiasan pemanis. Semacam aksesoris yang mempermak pemiliknya sedemikian rupa. Gelar mentereng yang berderet-deret di belakang namanya tidak sejalan dengan perilaku kesehariannya.
Kulit tak mencerminkan kedalaman dan keluasan ilmunya. Bisa jadi tulisan ini juga menjadi tamparan keras bagi saya selaku penulis yang juga kebetulan mengenyam pendidikan hingga jenjang magister. Jangan-jangan selama ini saya juga menggadaikan pengetahuan saya untuk sesuatu yang sifatnya temporer. Baiklah, tulisan ini akan sedikit menguak bagaimana banalitas sebagian intelektual kita. Khususnya, dosen sebagai pengajar dan pendidik generasi penerus bangsa.
Jujur saja, kita tidak bisa menutup mata bahwa ada tanggung jawab dosen yang tertera dalam tridharma perguruan tinggi berupa mengajar, meneliti, dan mengabdi itu masih belum seutuhnya berjalan sesuai harapan. Bagaimana tidak, kita sukar menepis lagi bahwa setumpuk tugas-tugas administratif dan birokratis justru memasung kreativitas dan inovasi sebagian dosen di perguruan tinggi.
Alih-alih mengabdikan dan mendedikasikan pengetahuan dan keilmuannya untuk masyarakat, mereka justru terjebak dan bahkan terpasung dalam kesibukan-kesibukan yang muaranya adalah mengejar akreditasi prodi, fakultas, dan universitas. Ranking kampus di level nasional dan bahkan hingga internasional menjadi acuannya. Perihal mentalitas, karakter, kompetensi mahasiswa, kadang kerap kali diabaikan.
Lebih parahnya lagi adalah ketika intelektual kita tersebut justru “menikmati” keadaan semacam itu. Kepakarannya diabdikan untuk mengejar mati-matian kenaikan pangkat dan jabatan. Mereka berkutat dengan artikel dan jurnal ilmiah hanya karena “tekanan” dari birokrasi kampus yang menghendaki setiap dosen, terutama yang bergelar doktor menghasilkan karya ilmiah yang diterbitkan di jurnal internasional bereputasi.
Tentu saja alasan utamanya adalah mendongkrak ranking kampus tempatnya mengais rezeki. Dalam hal ini, kita pahami betul, sebagian dosen berlomba-lomba untuk memproduksi karya ilmiah. Kuantitas seakan menjadi lebih penting daripada kualitas.
Terkait hal itu, kita tidak bisa serta-merta mengkambinghitamkan dosen-dosen kita. Jika dilihat dari sudut lain, sistem pendidikan nasional kita memang mengarah ke arah tersebut. Semua seolah dipacu untuk mendapatkan akreditasi terbaik. Para dosen berlarian untuk mendapatkan sertifikasi dosen. Yang pasti berpengaruh besar terhadap gaji dan tunjangan yang didapatkan.
Urusan mempertebal isi dompet dan rekening sukar kita bantah. Apalagi, di negeri ini, masih membeludak dosen-dosen kita yang jangankan dikatakan sejahtera, untuk sekadar bisa beli rumah saja, sukarnya minta ampun. Ini menandakan bahwa keberpihakan pemerintah masih belum sepenuhnya terhadap para pendidik kita. Maka tak heran jika muncullah di tengah-tengah kita banalitas intelektual.
Heru Nugroho, dalam pidato pengukuhannya sebagai Guru Besar Universitas Gajah Mada (UGM) tahun 2012 pernah membahas perihal banalitas intelektual. Menurutnya, banalitas intelektual ialah suatu kondisi yang ditandai dengan tiga, yaitu pendangkalan pemikiran yang tidak disadari, merosotnya kualitas akademik, dan menurunnya kualitas intelektual. Terkait pendangkalan tersebut, saya kira kita bisa tengok sendiri, bahwa peran besar dosen untuk kemajuan ilmu pengetahuan dan peradaban umat manusia seolah dikerdilkan hanya dengan urusan administratif dan birokratis kampus.
Dosen tidak lagi berpikir bagaimana melahirkan generasi emas yang kompeten, adaptif, kreatif, inovatif, dan beradab. Yang ada di dalam tempurung kepalanya adalah bagaimana peringkat prodi, fakultas, dan kampusnya semakin menanjak. Bagaimana sertifikasinya berjalan mulus. Mengajar sekadar untuk memenuhi kewajiban. Meneliti dan menulis jurnal ilmiah hanya untuk memburu poin.
Padahal, tidak sedikit, karya ilmiah para dosen kita yang berhenti di rak-rak perpustakaan/ruang baca. Sama sekali tidak berimbas pada kehidupan masyarakat. Ilmu pengetahuan hanya berputar-putar di menara gading. Tersekat dan berjarak dengan denyut nadi realitas sosial.
Kemudian, terkait merosotnya kualitas akademik, saya akan ilustrasikan sebagai berikut. X adalah seorang dosen ekonomi di sebuah PTN. Setiap hari Senin, Rabu, dan Kamis, X mengajar di kampus tersebut. Tapi, ternyata, usut punya usut, X ternyata tidak menguasai betul teori-teori ekonomi yang diajarkan kepada mahasiswanya.
Lalu, terkait menurunnya kualitas intelektual, bisa kita pahami sebagai suatu keadaan di mana X hanya mengajar dan menulis jurnal ilmiah sekadar untuk menggugurkan kewajibannya. Artinya, semata-mata untuk persyaratan akademis, dan bahkan hanya sekadar untuk kenaikan pangkatnya. Dorongan pragmatis yang menggerakkan Andi untuk mengajar dan meneliti. Esensi atau substansinya menjadi terabaikan. Begitulah kira-kira.
Banalitas intelektual kita tidak dilahirkan dari ruang hampa. Ada banyak faktor yang menyertainya. Seperti halnya sistem pendidikan; termasuk beragam aturan dan kebijakan pemerintah yang ikut menumbuhsuburkan kondisi semacam itu. Lantas, ketika dosen hanya mengejar jabatan dan pangkat, ketika kampus berburu peringkat, ketika pemerintah asal-asalan menetapkan kebijakan, maka bersiap-siaplah anak-anak muda kita akan menerima imbasnya.
Dan itu, sekali lagi, akan berdampak juga pada segala sektor kehidupan. Sebab, pendidikan adalah pilar utama yang menyokong pembangunan nasional. Termasuk pembangunan kualitas sumber daya manusia (SDM) kita. Tak heran jika pengangguran terdidik semakin meningkat. Tak heran jika sebagian mahasiswa kita kehilangan jati dirinya dan bahkan karakternya kian keropos. Bisa jadi, itu disebabkan oleh pengajar dan pendidik di perguruan tinggi yang tidak sempat membina anak-anak muda kita. Baik itu dari segi intelektual, emosional, dan spiritual.
Banalitas intelektual, sukar dihindari ketika semua yang ada di lingkungan kampus, baik itu mahasiswa, dosen, hingga rektor sekali pun mewajarkan kondisi macam itu. Dianggap sah-sah saja dosen yang ala kadarnya dalam mengajar, meneliti, dan melakukan pengabdian kepada masyarakat. Ilmu yang dimiliki tidak begitu berdampak bagi masyarakat. Pragmatisme di perguruan tinggi semacam rahasia umum yang sulit disembunyikan.
Disadari atau tidak, banalitas intelektual itu nyata adanya. Jalan keluar yang bisa saya tawarkan adalah pengoreksian kembali atau bahkan perombakan besar-besaran sistem pendidikan nasional yang selama ini barangkali telah keluar dari tujuan hakikinya. Bahwa perguruan tinggi bukan perpanjangan dari industri yang hanya mencetak tenaga-tenaga terampil. Bukan sebatas wadah untuk menyiapkan lulusannya di pasar tenaga kerja.
Dosen selaku intelektual kampus akan semakin tidak peka dan kritis dalam menyikapi persoalan kekinian ketika keilmuannya justru dipergunakan untuk hal-hal yang sifatnya materialistis. Baik itu berupa pangkat, jabatan, dan semacamnya. Tugas dan tanggung jawabnya sebagai agen peradaban bangsa semakin tertinggalkan. Kenapa hal itu bisa terjadi? Bisa saja karena memang dari segi ekonomi, sebagian dosen kita masih belum memperolehnya. Padahal, dosen adalah kompas yang menunjukkan arah bagi perjalanan bangsa ini.
Juga pelita yang menyinari jejak langkah bangsa ini ke depan. Mengenai hal itu, pemerintah, hemat saya, memang harus merancang suatu sistem, kebijakan, dan regulasi yang pro terhadap kesejahteraan dosen. Hal itu tentu saja untuk mencegah banalitas kampus. Agar dosen-dosen fokus mendedikasikan ilmu dan kemampuannya kepada masyarakat, untuk bangsa dan negara ini. Satu lagi, banalitas intelektual, hemat saya, juga bisa dihindari dengan cara reorientasi sistem pendidikan nasional yang barangkali telah mengarah pada perlombaan memperoleh ranking yang diukur dengan angka-angka.
Artinya, sistem penilaian peringkat kampus, akreditasi kampus, dan semacamnya, saya rasa perlu ditinjau dan diperbaiki lagi. Jangan-jangan selama ini kita berjalan mundur tanpa terasa. Semoga saja tidak! Bagaimanapun juga, intelektual kampus adalah harapan dan tumpuan masyarakat. (*)
Editor : Almasrifah