Utama Samarinda Balikpapan Kaltim IKN Nasional Olahraga Bisnis Lifestyle Opini Sosbis Hiburan Kesehatan

Mens Rea Guguran Daun

Romdani. • Senin, 20 April 2026 | 16:46 WIB
Widyabasa (Kepakaran Linguistik Forensik) Balai Bahasa Kaltim, Ali Kusno.
Ali Kusno

 

Oleh: 

Ali Kusno, M Pd

(Ahli Bahasa, Kepakaran Linguistik Forensik)

 

KALTIMPOST.ID-Dalam disiplin Linguistik Forensik, bahasa bukan sekadar deretan kata yang keluar dari lisan atau tertuang dalam tulisan. Bahasa merupapan instrumen konstruksi realitas yang memiliki daya rusak sekaligus daya bangun.

Sebagai seorang praktisi yang bergelut dalam analisis teks hukum dan diskursus publik, tanggung jawab moral saya adalah pada kebenaran, bukan pada pembenaran.

Di tengah dinamika sosial yang kian memanas saat ini, kita menyaksikan fenomena kebahasaan yang mengkhawatirkan.

Dugaan upaya sistematis memanfaatkan ketidaktahuan publik melalui penyajian “daun yang beracun” serta teknik penyesatan melalui pengulangan informasi yang diragukan kebenarannya demi merusak struktur “pohon makna” yang tengah kita rawat bersama.

Antara Akar Fakta dan Daun Informasi

Masyarakat perlu memahami bahwa sebuah narasi publik yang sehat tumbuh layaknya pohon. Dalam kacamata forensik, akar dari pohon ini adalah fakta objektif, data primer, dan dokumen hukum yang bersifat absolut.

Batangnya adalah jalur utama distribusi kebijakan dan verifikasi logis yang menghubungkan akar fakta dengan pemahaman kita. Sedangkan daunnya adalah narasi harian, potongan video, dan unggahan media sosial yang kita konsumsi setiap detik.

Baca Juga: LAPORAN KHUSUS: Hilirisasi Batu Bara Kaltim Belum Optimal, Pimpinan DPRD Soroti Kesiapan Infrastruktur, Regulasi, dan Dampak terhadap PAD

Masalah kognitif muncul ketika publik dipaksa secara masif hanya untuk melihat “daun”. Saat ini, masyarakat terjebak dalam “distraksi semantik”. Terlalu sibuk memaknai fragmen visual tanpa melihat kesehatan akar.

Yang lebih berbahaya, ketidaktahuan publik kerap dimanfaatkan dengan sajian “daun beracun”. Sebuah daun informasi yang tampak hijau menyehatkan, namun mengandung toksin disinformasi yang melumpuhkan kemampuan kita untuk melihat struktur kebenaran secara utuh.

Serangan pada level “daun” ini bertujuan menciptakan bias konfirmasi. Publik hanya akan memercayai apa yang ingin mereka benci, bukan apa yang sebenarnya terjadi.

Strategi “Validasi Semu” dan Framing Akademis

Hal yang paling mendesak untuk disadari publik adalah munculnya strategi “validasi semu”. Saat ini, banyak berita yang sengaja dikonstruksi melalui framing tertentu, lalu “disahkan” oleh pendapat akademisi agar dianggap sebagai kebenaran mutlak. Perlu dipahami bahwa tidak semua pernyataan yang dibungkus dengan istilah teknis adalah kebenaran ilmiah.

Publik harus jeli melihat bahwa sering kali opini tersebut jauh dari struktur berpikir ilmiah yang menjunjung tinggi objektivitas, koherensi, dan verifikasi data primer.

Opini-opini tersebut sering kali hanyalah pembenaran yang dipaksakan untuk mendukung narasi destruktif, namun menggunakan “jubah akademik” untuk memanipulasi kepercayaan publik.

Baca Juga: LAPORAN KHUSUS: Perang Timur Tengah Dongkrak Harga Batu Bara, BI Sebut Jadi Peluang untuk Ekspor Kaltim

Validasi sepihak ini bertujuan untuk menciptakan “berita gelondongan”. Informasi masif, kasar, dan tanpa rincian detail yang menutup perspektif publik untuk menilai secara mikroskopis.

Pengulangan informasi yang diragukan kebenarannya ini menciptakan “Illusory Truth Effect”. Sebuah kondisi ketika kesesatan informasi yang diulang-ulang mulai terasa sebagai kebenaran hanya karena faktor keakraban di telinga publik.

Mengidentifikasi Mens Rea

Analisis linguistik forensik tidak hanya membedah teks, tetapi juga mengidentifikasi “mens rea” atau niat jahat di balik sebuah konstruksi bahasa.

Kita harus membedakan mana kritik yang lahir dari nalar perbaikan dan mana kritik yang hanya digunakan sebagai “jubah untuk menikam”.

Secara pragmatik, kritik tulus bertujuan untuk memperbaiki (repairing) tatanan. Namun, saat ini bahasa kritik sebagian besar bermetamorfosa menjadi selubung bagi niat destruktif untuk melakukan penumbangan batang pohon.

Baca Juga: LAPORAN KHUSUS: Harga Batu Bara Naik Imbas Konflik Timur Tengah, Pengusaha Kaltim Tertekan Biaya Operasional dan Pembatasan RKAB

Batang pohon yang merupakan jalur distribusi manfaat dan kebenaran jangan dikerat dengan narasi ketidakpercayaan. Janganlah, jangan, ya.

Sebagai masyarakat yang matang, kita harus sampai pada satu kesadaran logis: kalaulah ada kekurangan dari “pohon makna” ini, lakukanlah perawatan, bukan pemusnahan.

Dalam ekosistem mana pun, tidak ada pohon yang tumbuh tanpa gangguan hama. Namun, tukang kebun yang bijak akan melakukan pemangkasan pada bagian yang sakit dan memberikan pupuk tambahan.

Ia tidak akan mengambil kapak untuk merobohkan seluruh pohon hanya karena menemukan beberapa helai daun yang tidak sempurna.

Memusnahkan pohon yang sedang berproses tumbuh, apalagi pohon yang sesungguhnya tengah berbuah, hanya karena hasutan narasi yang dibungkus validasi semu merupakan kerugian kolektif.

Memilih pemusnahan daripada perawatan adalah cerminan dari keputusasaan intelektual yang dimanfaatkan oleh pihak-pihak yang ingin menanam agenda baru di atas puing-puing tatanan.

Kita harus memastikan batang pohon ini tetap kokoh. Sehingga buahnya benar-benar dapat dinikmati oleh setiap warga tanpa terkecuali.

lapBaca Juga: LAPORAN KHUSUS: Hilirisasi Batu Bara Kaltim Mandek, Pakar Ekonomi: Investor Lebih Untung Ekspor Mentah, Nilai Tambah Daerah Minim

Marwah Ibu Kota Negara dan Urgensi Persatuan

Kita harus menyadari bahwa “badai” kencang ini membawa misi kepentingan yang lebih luas. Saat ini, Kaltim adalah rumah bagi Ibu Kota Nusantara (IKN).

Posisi strategis itu menjadikan setiap jengkal narasi yang muncul bukan hanya urusan domestik, melainkan taruhan wibawa nasional.

Angin yang mencoba menumbangkan tatanan narasi ini bertujuan menciptakan citra instabilitas di pusat gravitasi baru Indonesia.

Maka, pesan persatuan dalam pemaknaan “pohon makna” menjadi sangat vital. Jangan biarkan nalar kita ditebang oleh pihak-pihak yang hanya ingin menanam agenda destruktif di atas keruntuhan tatanan sosial. Menjaga kejernihan makna berarti menjaga martabat Kaltim sebagai wajah republik ini.

Akar dari setiap diskursus yang benar adalah fakta yang memiliki daya performatif. Sebuah janji yang pasti mewujud jika diikuti dengan proses hukum dan objektivitas data, bukan sekadar riuh rendah wacana yang belum teruji kebenarannya.

Sebagai masyarakat yang hidup di episentrum masa depan bangsa, Kaltim, saya mengajak setiap warga untuk berhenti menjadi konsumen narasi yang pasif dan bertransformasi menjadi “pembaca wacana publik dengan perspektif forensik” yang mampu membongkar hegemoni di balik setiap tanda yang disodorkan.

Waspadalah terhadap aktor yang menyodorkan “daun” disinformasi tanpa validasi akar. Kemenangan pertama dalam perang informasi bukan terletak pada seberapa keras kita berteriak, melainkan pada kemampuan menjaga nalar tetap jernih agar tidak hanyut dalam kesesatan. Semoga. (rd)

Editor : Romdani.
#penajam paser utara #ibu kota nusantara #mens rea #GUBERNUR KALTIM H RUDY MAS UD #Kutai Barat