Utama Samarinda Balikpapan Kaltim IKN Nasional Olahraga Bisnis Lifestyle Opini Sosbis Hiburan Kesehatan

Tantangan Pendidikan di Era Transformasi Digital

Akbar Sopianto • Minggu, 3 Mei 2026 | 17:13 WIB
Assoc. Prof Vita Pramaningsih
Assoc. Prof Vita Pramaningsih

Oleh:
Assoc. Prof Vita Pramaningsih

Dosen Kesehatan Lingkungan Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Muhammadiyah Kalimantan Timur (UMKT)

HARI Pendidikan Nasional (Hardiknas) 2026 kembali hadir sebagai momentum refleksi bagi dunia pendidikan Indonesia. Namun refleksi kali ini tidak bisa dilepaskan dari satu realitas besar yang tengah kita hadapi bersama: derasnya arus transformasi digital yang mengubah hampir seluruh sendi kehidupan, termasuk pendidikan.

Perkembangan teknologi, khususnya artificial intelligence (AI), telah membuka peluang baru sekaligus menghadirkan tantangan yang tidak ringan. Teknologi kini tidak lagi sekadar alat bantu, tetapi telah menjadi bagian integral dari proses belajar-mengajar. Dari ruang kelas hingga ruang virtual, batas-batas pembelajaran semakin kabur.

Dalam konteks ini, kita tidak bisa menolak kehadiran teknologi. Sebaliknya, kita dituntut untuk mampu mengelola dan memanfaatkannya secara bijak. AI, platform pembelajaran digital, hingga berbagai aplikasi berbasis internet memiliki potensi besar untuk meningkatkan kualitas pendidikan, baik bagi pengajar, peserta didik, maupun masyarakat luas.

Namun, optimisme tersebut tidak boleh membuat kita menutup mata terhadap persoalan mendasar yang masih mengemuka, yakni kesenjangan akses teknologi. Di satu sisi, siswa di perkotaan dapat dengan mudah mengakses pembelajaran digital melalui jaringan internet yang memadai. Di sisi lain, masih banyak daerah tertinggal yang harus berjuang dengan keterbatasan infrastruktur, bahkan untuk sekadar terhubung ke internet.

Kesenjangan ini bukan sekadar persoalan teknis, melainkan menyangkut keadilan pendidikan. Jika tidak segera diatasi, transformasi digital justru berpotensi memperlebar jurang ketimpangan kualitas pendidikan antarwilayah.

Di tengah perubahan ini, peran guru dan dosen pun mengalami pergeseran yang signifikan. Mereka tidak lagi menjadi satu-satunya sumber pengetahuan, melainkan bertransformasi menjadi fasilitator, pendamping, sekaligus pembimbing dalam proses belajar. Peserta didik kini memiliki akses luas terhadap berbagai sumber informasi, bahkan dapat belajar secara mandiri melalui platform digital seperti video pembelajaran atau kursus daring.

Meski demikian, ada satu aspek yang tidak boleh tergerus oleh kemajuan teknologi, yakni pendidikan karakter. Di era digital yang serba terbuka, anak-anak sangat rentan terpapar berbagai informasi, baik yang positif maupun negatif. Tanpa fondasi karakter yang kuat, teknologi justru dapat menjadi bumerang.

Di sinilah pentingnya peran keteladanan dari guru, dosen, dan orang tua. Pendidikan tidak hanya tentang transfer pengetahuan, tetapi juga tentang pembentukan nilai, sikap, dan etika. Transformasi digital harus berjalan seiring dengan penguatan karakter agar generasi muda tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga matang secara moral.

Oleh karena itu, kurikulum pendidikan ke depan perlu dirancang secara lebih adaptif dan integratif. Penguasaan teknologi harus dipadukan dengan pendidikan karakter, sehingga menghasilkan generasi yang tidak hanya cakap digital, tetapi juga bijak dalam menggunakannya.

Hardiknas tahun ini seharusnya menjadi pengingat bahwa masa depan pendidikan tidak hanya ditentukan oleh kecanggihan teknologi, tetapi juga oleh kemampuan kita menjaga keseimbangan antara inovasi dan nilai-nilai kemanusiaan.

Pada akhirnya, tujuan pendidikan tetap sama: melahirkan generasi yang kreatif, kritis, dan berkarakter kuat. Teknologi hanyalah alat. Manusialah yang menentukan arah dan maknanya. (pms/as/rdh)

Editor : Muhammad Ridhuan
#hardiknas #Universitas Muhammadiyah Kalimantan Timur #artificial intelligence